Sunday, May 05, 2024

Solitary Bird

Solitary Bird 

Alan Silson

The Air is still;
Not a sound to be heard.
In the distance,
flies a solitary bird.
Through the cold
and misty havens
of this hour
 

The Land is cold;
without you there for me to hold
How I miss you
how you never be alone.
Through the cold
and misty havens
of this hour
 

You left me dancing with angels
and keep my feet on the floor
I'll keep on dancing   with angels
Till I can't dance no more


Thursday, April 08, 2021

L'Hirondelle (The Swallow)

Théophile Gautier


Je suis une hirondelle et non une colombe ;
Ma nature me force à voltiger toujours.
Le nid où des ramiers s’abritent les amours,
S’il y fallait couver, serait bientôt ma tombe.

Pour quelques mois, j’habite un créneau qui surplombe
Et vole, quand l’automne a raccourci les jours,
Pour les blancs minarets quittant les noires tours,
Vers l’immuable azur d’où jamais pleur ne tombe.

Aucun ciel ne m’arrête, aucun lieu ne me tient,
Et dans tous les pays je demeure étrangère ;
Mais partout de l’absent mon âme se souvient.

Mon amour est constant, si mon aile est légère,
Et, sans craindre l’oubli, la folle passagère
D’un bout du monde à l’autre au même cœur revient.

The Swallow

I am a swallow, nothing like a dove ;
My nature is to fly eternally,
The nest in which the pigeons find their love
Covered from sight, would be like death to me

I live in battlements and parapets,
When autumn falls I fly on the wind’s breath,
Leaving black towers for snow-white minarets,
Fly to the constant blue: no rain, no death

No sky can hold me, nothing stays my flight,
Each land I pass through never less the stranger,
My absent friends living within my soul.

My love’s eternal if my wing is light
And, unforgotten, this eternal ranger
Across the world stays steadfast to my goal.

Tuesday, August 06, 2019

They say in the end true love prevails 
But in the end true love can't be no fairytale 
To say I'll make your dreams come true would be wrong 
But maybe, darlin', I could help them along 


-Bruce Springsteen--


Friday, March 22, 2019

Song for a Jolly Gathering

 by bobby chen

Chinese box sound track@1997



NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O HAY
NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O
NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O HAY
NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O

[Lyrics sung in Hokkien dialect:] Hey! You want to pay attention to your inner heart, when it freezes over it will gently float and gently create a beautiful melody.
A melody that is truly tender.
A feeling that is like white clouds hovering around a mountain peak.
A vagabond dreaming of a lover, a cute shadow.

[Lyrics sung in Hoklo dialect:]
Just like taking care of our children we should attentively cherish having these mountains and this water.
The four seasons is a clear treasure
a, like one family.

[Lyrics sung in Hokkien dialect:]
You love remembering a free and easy heart
moving your feet
don't throw away this happy time.

NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O HAY
NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O
NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O HAY
NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O


[Lyrics sung in Hoklo dialect:]
No matter if you are benshengren or a waishengren
aborigineee
Hakka
I hope the god of heaven will bless and protect this land's people
and that we will have peace and harmony for generations.


[Lyrics sung in Hokkien dialect:]
No matter what kind of person you are.
On earth we are all guests.
Tonight we want to dance
and chant songs without distinguishing between you and me.

[Lyrics sung in Hoklo dialect:]
Just like taking care of our children we should attentively cherish having these mountains and this water.
The four seasons is a clear treasure
a, like one family.

[Lyrics sung in Hokkien dialect:]
Line up in a group and chant a song.
The sound of the song is really bewitching.
Tonight we have a reason to gather in group with such a crowd of people.


[Lyrics sung in Hokkien (the words in all caps are aboriginal:]
We should all get along. NA I YA NA YA O HAY
We keep each other company NA I YA NA YA O


NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O HAY
NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O
NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O HAY
NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O



[Lyrics sung in Hokkien:]
Ya, let's chant this song together.
Oh the melody is truly bewitching.
This happy time can't be stopped.

[Lyrics sung in Hokkien dialect:]
Hearing songs passed down from the mountains
is so moving one has to fight back tears.
That distant ancient call shouts
that we shouldn't forget what our ancestors told us.


[Lyrics sung in Hoklo dialect:]
[Lyrics sung in Hoklo dialect:]
No matter if you are benshengren or a waishengren
aborigineee
Hakka
tonight we should dance
chanting these songs we can't distinguish between you and me.



[Lyrics sung in Hokkien dialect:]
Just our dear grandparents who are forever by our sides
day and night burning with enthusiasm to sacrifice one's self
working like dogs to protect us.


[Lyrics sung in Mandarin (the words in all caps are aboriginal:]
[Lyrics sung in Hokkien (the words in all caps are aboriginal:]
We should all get along. NA I YA NA YA O HAY
We keep each other company NA I YA NA YA O
We should all get along. NA I YA NA YA O HAY
We keep each other company.
This is our native land.

NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O HAY
NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O
NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O HAY
NA I YA LU WAN NA, I YA NA YA O





Wednesday, July 18, 2018

Rien à Déclarer (2010)

Warna kulit sama, bahasa sama, rumah bertetangga, tapi dengan keberadaan satu garis membelah dua negara di sebuah kota perbatasan, ternyata warganya bisa saling anti, dalam suatu absurditas patriotisme dan rasisme.
Rien à Déclarer adalah film komedi  mengenai mereka yang terkorbankan dalam proses penyatuan Uni Eropa, pada sebuah kota perbatasan Belgia-Perancis. Antara masalah berkurangnya lapangan pekerjaan karena fungsi bea cukai yang dihilangkan di kota tersebut, juga bagaimana mereka semua harus saling menerima dan bekerja sama dan saling bertoleransi dengan warga dari negara tetangganya,terjalin dalam berbagai adegan komedi.
Imbas yang cukup besar terasa secara langsung bagi khususnya kedua tokoh utama film ini, Mathias dan Ruben yang keduanya merupakan petugas pabean di negara masing-masing. Terutama bagi Ruben yang merupakan Francophobe garis keras, penghapusan perbatasan cukup membuat dia nyaris frustrasi, ditambah lagi harus membuat tim gabungan dengan petugas Perancis. Sementara itu, Mathias yang diam-diam berhubungan asmara dengan adik Ruben berusaha membina hubungan yang lebih baik demi persetujuan keluarga Ruben.

Inilah film karya Dany Boon, disutradarai, ditulis dan diaktingi dirinya sendiri. Komedi yang terlihat sederhana tapi menurut saya sangat cerdas. Saya tidak tahu apakah selera komedi orang lain cocok dengan film ini. Saya sendiri belakangan cukup terbuka untuk berbagai jenis film hiburan. Banyak komedi Hollywood yang membuat saya cukup tertawa, walau saya sadar leluconnya sebetulnya "gak mutu" atau sering juga "jorok bin vulgar". Ya begitulah gaya hollywood. Bila ada energi lebih memang lebih baik mencari sumber hiburan lain.
"Rien à Déclarer" merupakan kombinasi yang serba cukup sebagai format komedi sambil memasukkan juga nilai-nilai kemanusiaan universal. Banyak leluconnya yang bersifat lokal , berkaitan dengan perbedaan logat yang digunakan antara kedua negara, dan istilah-istilah yang mereka gunakan termasuk yang digunakan untuk saling mengejek. Perlu dipastikan Subtitlenya yang bisa memfasilitasi ini. Kalau mengerti perbedaan logatnya tentunya akan terasa jauh lebih lucu. Tapi, meskipun tidak paham bahasa dan permainan kata-katanya, dengan ekspresi dan gerak tubuh aktor-aktornya cukup untuk menampilkan leluconnya.

Walau juga kadang agak lebay dan sedikit slapstick juga, ada beberapa momen perenungan yang sangat mengikat, merupakan inti "pesan moral" dari film ini. . Di tengah kekonyolan pertentangan manusia-manusia dewasa, perenungan filosofis film ini diungkapkan oleh seorang anak kecil. Walau mungkin bukan hal yang baru juga - mengingatkan saya pada film "le Papillon", adegan dialog Ruben dan anaknya merupakan momen yang sangat brilian, : 


*   What about the sky, papa,is it Belgian or French?
** The sky is Belgian. Anything above Belgium belongs to Belgium.
     See, borders go right to the top!
*   And the stars; are they Belgian?
** 'Course they're Belgian.
*   But papa, the earth turns.

**...............hmmmm

Tuesday, June 27, 2017

La Belle and the Beast

Saya bukan penggemar cerita Beauty and The Beast secara umum, dan juga bukan penggemar versi  animasi musikal Disney yang ngehits tahun 1991, selain mengangapnya produk hiburan yang asik, terutama dengan lagu-lagunya.

Saya jadi ingin membahas topik ini di sini karena sejak adanya bisik-bisik akan ada versi live action oleh Disney, ada versi Perancis La Belle et la Bête yang rilis tahun 2014 diperankan Vincent Cassel dan Lea Seydoux, karya sutradara Christophe Gans. Pastinya, versi ini tenggelam di balik antisipasi hingar Emma Watson cs. Setelah menonton keduanya, saya jadi ingin sedikit membandingkan, karena versi Perancis sungguh berkesan bagi saya, dengan kelebihan dan kekurangannya sebagai sebuah karya film.

Inti cerita keduanya sama: ayah Belle tersesat sampai istana Beast, dapat hidangan makan, mengambil mawar permintaan Belle tanpa ijin, dipermasalahkan oleh Beast sebagai pencuri tak tahu terimakasih, ditahan, digantikan Belle sebagai tawanan, dan lama-lama Belle jatuh cinta pada Beast yang mengakhiri kutukan sehingga Beast berubah menjadi pangeran tampan berkat ada wanita yang mencintainya. Pesan moralnya (katanya) : melihat kebaikan dan "inner beauty" dibalik tampang yang jelek dan menyeramkan" maka akan dapat bonus bahwa ternyata yang jelek itu aslinya ganteng.


La Belle et la Bête 2014 dari segi cerita latar belakang keluarga Belle lebih setia pada versi  literatur aslinya, yaitu ayahnya Belle yang merupakan pengusaha kaya yang sedang bangkrut sehingga harus pindah tinggal di pinggiran desa, juga keberadaan saudara-saudari Belle. Dari segi fisik film, versi ini memiliki kekuatan pada visualisasi artistik latar dan kostumnya yang membuat suasana menjadi teatrikal, sedikit surealis, mengawang di alam dongeng, namun juga memiliki latar sosial yang membuat kita membaca setting waktunya.



Add caption


Ada beberapa kekurangan pada plot cerita yang membuatnya kadang terasa lambat, meloncat, dengan karakter-karakter yang masih kurang tergali sehingga terasa tanggung. Alur cerita juga agak kurang terarah antara berniat menjadi film serius sementara juga ada beberapa karakter komikal seperti karakter dua kakak perempuannya yang manja dan pemalas sedikit berlebihan sementara saudara-saudara laki-lakinya karakternya lebih bisa diterima. Keberadaan karakter makhluk-makhluk kartun yang menemani Belle di istana juga seolah ditujukan untuk penonton  anak-anak. Berbeda dengan versi Disney yang memang dibuat dengan suasana drama komedi.

Walaupun secara artistik sangat indah, banyak juga tampilan CGI  yang terlalu berlebihan sehingga terlihat terlalu artifisial, terutama untuk animasi hewan dan makhluk-makhluk mistisnya. sementara tokoh Beast tampak hanya menggunakan make-up, tanpa banyak keleluasaan ekspresi. Untuk karakter Beast ini, versi Disney 2017 ternyata tidak lebih baik juga, dengan kombinasi CGI malah mebuatnya lebih aneh dengan gerakan-gerakan yang kaku dan ekspresi yang tampak dipaksakan. Suatu kemunduran dibanding Beast animasi 1991 yang lebih ekspresif dan lebih potensial sebgaai makhluk loveable, ironis di masa kecanggihan teknologi ternyata justru karakter sentralnya yang di kedua film ini gagal tampil dengan gereget.


Lea Seydoux sebagai Belle tampil sangat jelita, dan pantas dengan dandanan maupun karakterisasinya yang memang berbeda dengan Belle versi Disney. Keberadaan Belle Lea Seydoux seolah merupakan salah satu unsur artistik dalam fim ini, bahkan bisa dibilang bagian-bagian membosankan bagi saya di film ini adalah bagian yang tidak ada Belle.
Dari beberapa kekurangan pada keseluruhan film, secara parsial pada bagian-bagian tertentu, versi Gans cukup memiliki kekuatan yang bagi saya addictive.
Peristiwa ketika sang pangeran mendapat kutukan yang merupakan twist utama cerita yang cukup menarik karena menampilkan versi yang ebrbeda dari yang umum kita ketahui. Secara adegan pun diinterpretasikan dengan baik. Demikian juga adegan akhir sampai credit title yang menunjukkan kebahagiaan yang lebih murni antara Belle dan pangeran dibandingkan happily ever after antara putri dan pangeran


Baik di versi Disney maupun Gans, tidak cukup jelas hubungan antara Belle dan Beast sebetulnya seperti apa, Stockholm syndrome kah, friendzone kah, dengan momen Belle mulai jatuh cinta ke si Beast, kurang terasa sebagai proses yang tersampaikan dengan baik ke penonton. Padahal justru film-film ini adalah kesempatan mengeksplor lebih jauh dan mendalami olahan emosi yang mungkin juga tidak terlalu jelas pada literatur sumbernya.

Pada  versi Disney tapi masih lebih banyak momen yang diolah unuk menguatka hubungannya dengan Beast, seperti modus buku bacaan, main salju, travelling, dilengkapi lagu-lagu galaunya, walau seharusnya sih belum cukup untuk memutuskan jatuh cinta selain kita simpulkan bahwa Belle hanya ingin kehidupan lain daripada simple provincial life. Sementara pada versi Gans terasa telalu meloncat ketika cinta itu dinyatakan.
Selain titik jatuh cinta Belle pada Beast, respon Belle terhadap Beast yang berubah wujud menjadi pangeran juga merupakan blunder pada cerita Beauty and The Beast. Ya...okeh menerima apa adanya inner beauty lalu ternyata aslinya ganteng..apakah itu jadi bonus? Pada versi Gans, perbedaan usia tokoh Pangeran dan Belle yang cukup jauh terlihat dan bisa dihubungkan dengan latar sosial pada masamunculnya cerita Beauty and The Beast, ketika dikaitkan dengan kondisi sosial perjodohan gadis-gadis agar mau menerima om-om bangsawan yang walaupun sudah berumur dan jelek atau bahkan duda, tapi baik hati dan makmur.


Untuk latar sosial budaya sekitar, pada versi Gans bisa dilihat, perubahan trend fashion pada saat Beast masih menjadi pangeran dan saat bertemu Belle.  Ketika kutukan berlalu dan kembali berwujud pangeran, jaman sudah berubah sistem sosial tampak monarki sudah hilang, beberapa abad sudah berlalu, termasuk tentunya Revolusi Perancis. Pada Versi Disney rasanya janggal karena baru beberapa tahun berlalu, pangeran yang lalim bisa langsung diterima kembali oleh masyarakat, padahal sepertinya Revolusi menjelang tak lama lagi.


Untuk versi Disney 2017, cerita latar belakang masa lalu Beast juga merupakan tambahan dibanding animasinya dan menjadi sedikit variasi segar baik secara cerita maupun adegan, walaupun dasar kutukan Beast pada dasarnya sama, karena kesombongan dan kurangnya empati pada manusia. Sementara, dasar kutukan pada Beast versi 2014 sedikit lebih kompleks dan tidak dalam kondisi hitam-putih.


Secara keseluruhan, saya terhibur dengan kedua versi ini. Mudah-mudahan banyak orang juga bisa menghargai versi lain/ non Hollywood baik sebagai pembanding maupun penambah wawasan hiburan.

Belle (Lea Seydoux) & Beast (Vincent Cassel)






Monday, January 02, 2017

Sambalado Sejati

Ramala mempetisi Ayu Tingting:

Kembalikan kehormatan filosofis SAMBALADO!
Setelah (tidak sengaja) menyimak lirik lagu Sambalado, saya merasa telah terjadi penistaan terhadap makna dan filosofi dari istilah sambalado dalam lirik lagu tersebut.

Baik sambalado maupun sambal adalah produk budaya tinggi kuliner bangsa Indonesia, dengan ratusan, mungkin ribuan variasi dari Sabang sampai Merauke.
Istilah sambalado sendiri yang merupakan bahasa Minang, juga berarti aneka menu olahan cabai dengan ragam kombinasi bahan, bumbu, dan cara pengolahan, yang menghasilkan makanan dengan berbagai rasa dan warna, bukan sekedar pelengkap apalagi penyedap yang "enaknya di mulut saja". Sambalado merupakan unsur penting dalam menu masakan sebagai salah satu faktor penentu untuk asupan gizi pada tubuh manusia, bahkan bahan-bahan penyusunnya sendiri terbukti mengandung vitamin dan anti oksidan.

Sambal sejati bukanlah sekedar rasa pedas di mulut yang lalu hilang, apalagi yang ujung-ujungnya bikin sakit hati. Sambal sejati merupakan salah satu anugerah duniawi yang diberikan kepada manusia untuk dinikmati dan disyukuri.

Wednesday, August 10, 2016

Caged Bird


Related Poem Content Details

A free bird leaps 
on the back of the wind   
and floats downstream   
till the current ends 
and dips his wing 
in the orange sun rays 
and dares to claim the sky. 

But a bird that stalks 
down his narrow cage 
can seldom see through 
his bars of rage 
his wings are clipped and   
his feet are tied 
so he opens his throat to sing. 

The caged bird sings   
with a fearful trill   
of things unknown   
but longed for still   
and his tune is heard   
on the distant hill   
for the caged bird   
sings of freedom. 

The free bird thinks of another breeze 
and the trade winds soft through the sighing trees 
and the fat worms waiting on a dawn bright lawn 
and he names the sky his own 

But a caged bird stands on the grave of dreams   
his shadow shouts on a nightmare scream   
his wings are clipped and his feet are tied   
so he opens his throat to sing. 

The caged bird sings   
with a fearful trill   
of things unknown   
but longed for still   
and his tune is heard   
on the distant hill   
for the caged bird   
sings of freedom.

Wednesday, May 04, 2016

Mana yang Paling Ganteng?

 
 
Sejak semakin mudahnya akses "mendapatkan" film dan informasi film dalam beberapa tahun terakhir ini, daftar koleksi dan pengalaman tontonan saya terasa cukup pesat bertambah dengan lebih banyak variasi dari beberapa negara/ bangsa selain film Amerika. 
 
Di antara daftar tersebut, makin lama terasa seolah ada benang merah yang menghubungkan masing-masing asal produksi atau asal sineas dalam bentuk suatu ciri atau pengalaman tontonan bagi saya, dan hal ini berlaku lintas genre film. Yang paling kuat perbedaan-perbedaan terhadap film mainstream Hollywood yang masih menjadi pembanding utama, karena secara statistik tetap mendominasi tontonan saya. 
 
Sebetulnya tidak mudah juga membuat perbandingannya menjadi sederhana ketika harus melibatkan banyak unsur untuk dianalisa dan membuat kriteria pengelompokannya, ditambah kapasitas serta keterbatasan judul yang sudah ditonton serta pengaruh subjektifitas yang berlaku dari sejak pemilihan film yang ditonton. Tapi saya coba sederhanakan saja poin-poinnya maupun pengelompokannya.
 
1. Film berbahasa Spanyol:
Berkat obsesi akan film-filmnya Gael Garcia beberapa waktu lalu, saya jadi terpapar film Spanyol & Mexico. Dua negara ini terikat kesamaan bahasa dan kaitan sejarah dan sering tukar menukar aktor dan sineas. Bila digeneralisasi, karakter keduanya memiliki beberapa kemiripan dan juga perbedaan. Film berbahasa Spanyol sangat kental akan kepekaan permasalahan sosial, dengan kekuatan pada dialog-dialognya. Kita bisa mendapatkan gambaran tentang hal-hal lain di luar alur cerita utama, berupa kondisi external yang memepengaruhi alur utama film atau sekedar informasi/ wawasan tambahan. Spesifik film Mexico, lebih banyak yang menampilkan kesenjangan sosial dengan gambaran kemiskinan yang juga sering kita lihat di telenovela produksi mereka. 
 
2. Film berbahasa Perancis (Perancis - Belgia): Dari beberapa film francophone yang saya temukan, dominasi karakter tokoh yang cenderung galau dan banyak mengkhayal cukup terasa, atau setidaknya cerita dan visualisasi lebih terfokus ke pribadi tokohnya, porsi untuk latar sosial lingkungannya tidak sebanyak bila dibandingkan dengan film Spanyol. Adegan montage cukup sering saya temukan termasuk unsur yang memperkuat kegalauan atau lamunan tokoh-tokohnya tersebut.
 
3. Jepang: Yang mencolok dan khas film jepang, adalah cerita tentang ketekunan dan dedikasi akan pekerjaan selalu merupakan topik utama. Kesungguhan dan motivasi, loyalitas akan profesi juga idealisme tokohnya merupakan nilai-nilai yang selalu menyertai di genre dan topik apapun. 
 
4. Pan-Chinese : Yang termasuk di sini film produksi PRC atau Mainland China alias "Cina Daratan", Hong Kong dan Taiwan, dengan bahasa Mandarin & Kanton. Masing-masingnya memiliki ciri khas yang cukup spesifik, terutama untuk produksi Hong Kong sebelum kembali ke PRC.
Di antara ketiganya, satu ciri khas yang dimiliki semuanya adalah bahasa ekspresi yang kadang lebih kuat dibanding dialog atau narasi. Momen-momen yang mengulik rasa kadang hanya singkat tapi punya kekuatan bisa terselip baik di film drama, komedi, film aksi, thriller dll. Adegan2 cirambay yang menguras air mata sebetulnya lebih banyak di drama seri, bukan di film lepas.
"Sad ending" dengan kondisi "Penjahat yang menang" dan "Yang romantis itu tragis/ sedih" sering menjadi trade mark film HK dalam perbandingan dengan film Hollywood, ketika aliran distribusi film HK ke Indonesia memang cukup banyak, dibanding Mainland dan Taiwan. Namun sebetulnya tidak seperti itu juga, lebih cocok dikatakan akhir film sering cenderung terbuka, meninggalkan pertanyaan yang bisa dijawab oleh penonton dan justru membuka alternatif penyelesaian yang bisa dipilih, memberi kesempatan untuk move on setragis apapun kondisi yang dihadapi/ dilalui sepanjang film.
 
5. Korea: Yang khas dari film Korea adalah kisah-kisah tragisnya. Untuk genre drama dan thriller, seringkali akhir cerita dengan tokoh utama yang gila atau meninggal karena bunuh diri, dibunuh, atau kecelakaan yang tak terduga. ...........ups......... *spoiler alert!
 
6. India: Film India mayoritasnya secara fisik jelas terdeskripiskan dengan keberadaan adegan-adegan tarian dan nyanyian, satu hal lagi, rasanya hampir semua film India yang saya tonton memiliki adegan yang melibatkan kereta api. Tapi dari segi kekhasan alur cerita, umumnya di dalam satu film India, mood dan suasana bisa berubah-ubah dengan sangat drastis. Dari yang tadinya lucu ngakak menjadi sedih bergelimang air mata, lalu menjadi menyeramkan dan menegangkan. Perubahannya terjadi dengan sangat ekstrim.
 
10. Rusia: Terggoda dengan film Rusia sejak menonton film Mongol karya Sergei Bodrov. Dari beberapa karya Bodrov & beberapa film yang berhasil saya akses, film Rusia cukup kaya akan gambaran budaya dalam detail drama, nilai-nilai patriotik, dan sosial kemanusiaan. Kita mengenal manusia-manusia yang berbeda dari para teroris yang sering digambarkan sebagai antagonis oleh produksi Hollywood jaman perang dingin.
Yang pasti annoying ketika menonton film Rusia adalah dialog bahasa asing tidak didubbing , tidak pake subtitle, tapi ditimpa narasi seperti jaman Flora-Fauna dulu ...
 
7. Film Amerika Hollywood
Secara statistik, film produksi Hollywood adalah yang paling banyak saya (dan dunia) tonton. Film Amerika sendiri tidak semuanya produksi Holywood, dan di antara film Hollywood sendiri sebetulnya pun ada banyak variasi, sehingga ada yang sering disebut "Hollywood banget" dan ada yang dianggap “gak terlalu Hollywood”. Antara film Hollywood lintas dekade pun banyak perbedaannya dan perubahannya.
"Boga lakon never dies" adalah salah satu slogan andalan yang sering diucapkan (orang Bandung?) dalam ekspektasinya terhadap film Hollywood. Happy ending merupakan akhir yang bisa diharapkan untuk mayoritas film Hollywood. Baik film action, darama romance, thriller dll. Seberapa parahnya pun perjuangan dan cobaan sepanjang film, tokoh utama biasanya akan menemukan solusi.
Yang mengganggu buat saya di banyak film formula Hollywood beberapa tahun terakhir ini adalah bagaimana pembenaran bagi si tokoh utama untuk menuju happy ending, kadang ketika si boga lakon berbuat salah, akan tertutup oleh kesalahan tokoh antagonisnya, atau walaupun tokoh antagonis itu menjadi terbentuk disebabkan oleh si boga lakon di masa lalu, si antagonis akan tetap dibuat sejahat-jahatnya sehingga tetap saja sampai akhir kita membenarkan tindakan si boga lakon untuk mengalahkan si antagonis, justru sebagai penebusan kesalahannya.
Juga seringkali menunjukkan bahwa dengan kata-kata yang tak jarang berupa pidato di depan umum, bahwa si tokoh akan bisa menyelamatkan dunia, meyakinkan orang, menyatakan cinta, dll untuk mencapai tujuannya. Ini salah satu perbedaan kontras terutama dengan film pan-chinese yang lebih banyak diam, tapi mungkin itu juga yang membuat ending mereka sering tidak jelas, tebak menebak yang ujungnya gagal ini itu karena ga ngomong...
 
8. Film Inggris:
Dibandingkan dengan film Hollywood dan film Inggris lintas Hollywood, film yang mungkin termasuk British banget yang saya temukan tipenya memiliki penokohan yang lebih kuat dalam karakter, dan alur ceritanya yang lebih mendalam untuk topik yang digunakan, bisa lebih dramatis tapi juga lebih real, atau sekalian yang dinamis dan artistik dari visualisasi, tetap dengan kekuatan tokoh dan cerita. Banyak juga yang lebih menjunjung tinggi kesastraan, kebangsawananan dan kesenimanan. 
 
9. Indonesia: Kalau istilah puitisnya: "Film Indonesia tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri".
Demikian juga yang berlaku pada saya yang memang lebih menikmati film luar dari pada film Indonesia. Mungkin karena keterbatsan produksi dan distribusinya, atau secara psikologis saya justru membuat jarak karena tokoh-tokoh dan settingnya yang justru sebetulnya dekat secara fisik.
Sejauh pemahaman saya, kebanyakan film Indonesia masih banyak menjunjung nilai-nilai kebaikan, religius, setidaknya nilai pancasila. Baik-jahat masih harus terdefinisi, sehingga banyak cerita berada dalam dalam kerangka ini. Walau makin banyak variasinya, tapi mungkin masih mencari jati diri, karakter film luar sering terlihat dalam eksperimenn film baru.
 
10. Italia: Sepertinya urang banyak sampel spesifik produksi Italia yang bisa membuat saya menemukan karakter khusus, tapi dari beberapa produksi atau karya sineas Italia yang saya tonton, terasa kekuatannya di narasi film dan tipe adegan-adegan yang sedikit cenderung teatrikal, ditemukan pada film horor maupun film latar sejarah.
 
11. Honorable mention: Film Swedia & Islandia: berkaitan dengn iklimnya yang dingin, tapi bisa hangat di hati....

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>PS<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Pembagian di atas cenderung kuat pada kriteria peran sutradara, bukan dari asal negara produksi, karena bisa dirasakan ketika film produksi Hollywood disutradarai oleh seseorang yang bukan asal Amerika dan besar di Hollywood, ada perbedaan dan karakter yang dibawa. Sedangkan film berbahasa asing pun ketika merupakan produksi atau karya Hollywood, kemungkinan besar kita juga bisa mengidentifikasi.
Semua yang saya bahas ini hanyalah generalisasi dari mayoritas yang saya tonton, Hasil kesimpulan sementara saya di atas tidak lepas dari ketersediaan sampel dan mood menonton yang kemungkinan akan ada variabel-variabel lain seiring perubahan jaman dan trend produksi film, juga pertambahan umur.
List referensi acuan: perlu dibuat gak ya..

Ket foto: Ang Lee - Tsui Hark - Chen Kaige - Zhang Yimou - John Woo - Peter Chan - Johnnie To - Hou Hsiao Hsien - Wong Kar Wai - Andrew Lau

Yang paling ganteng ya tetep Takeshi Kaneshiro


Sunday, September 27, 2015

Perbedaan-perbedaan

SPOILER ALERT!!!
:
Film yg dibahas: The Count of Monte Cristo (2002) & What Price Survival (1994)



Saya terinspirasi mengenai perbedaan karakter film berdasarkan suku bangsa sineasnya, dalam hal ini mungkin faktor yang paling kuat adalah sutradara, dan tentunya perlu pendefinisian lebih jauh untuk dibahas lain kali.

Salah satu yang mentrigger adalah ketika bertahun-tahun lalu menonton film The Count of Monte Cristo versi 2002. Saya tidak ingat apa saya menontonnya setelah membaca bukunya. Dan kalau setelah membaca, saya tidak ingat versi seperti apa, apakah terjemahan yang dipersingkat untuk anak-anak dari salah satu koleksi buku di rumah saya.
Yang teringat, adegan akhir film tersebut membuat saya kurang enak hati.

Kira-kira seperti berikut:

Di akhir film, tokoh utamanya, Dantes berduel dengan teman lama yang telah menjelma menjadi musuhnya, Mondego, yang menjebloskan dia dipenjara belasan tahun dan merebut tunangannya.
Belakangan pun diketahui bahwa tunangan Dantes dulu mau menikahi Mondego karena saat itu dia menyangka Dantes telah meninggal dan dia sedang hamil. Anak mereka yg telah remaja itu pun mengetahui siapa ayah aslinya di adegan klimaks di akhir film dan mengetahui kejahatan ayah angkatnya.

Singkat cerita dalam duel tsb Mondego pun kalah dan terbunuh, Dantes berhasil membalaskan dendamnya, sebgaaimana boga lakon pada umumnya. Yang membuat saya sedikit berkerut, pada saat adegan akhir, kematian Mondego, si anak sempat terlihat bersedih sebentar tapi setelah itu akhir fimm sudah berfokus pada kembalinya kebersamaan mereka.

Hey... bagaimanapun, dia telah membesarkan anak angkatnya yang walaupun dia dapat dengan cara curang, tapi dengan baik sehat dan sejahtera? Dan setidaknya, walaupun didasari ketidak-tahuan, ibunya sendiri yang dengan sukarela menerima lamaran dan mengambil manfaat juga dari si Mondego? Tidakkah ada sedikit keperdulian dari si anak?

Pemikiran tersebut muncul karena beberapa waktu sebelumnya menonton What Price Survival yang meninggalkan kesna tajam dan mendalam. Film produksi HK dengan cerita utama tipikal persaingan antar perguruan, intrik-intrik, balas dendam. Tokoh Utama film itu waktu bayi diambil oleh musuh ayah kandungnya akibat taruhan persaingan antar perguruan. Setelah dewasa, dalam ketidaktahuan, dia membunuh ayah kandungnya atas suruhan ayah angkatnya. Belakangan setelah dia mengetahui sejarah masa lalunya, terjadi pertarungan dengan sang ayah angkat. Inilah saatnya membalaskan dendam penderitaan orang tua kandungnya.

Tapi, apa yg terjadi? si tokoh utama tidak bisa membunuh ayah angkatnya, Dia hanya membutakan matanya. Dan adegan menyayat hati pada klimaks tersbeut, adalah cipratan darah di atas foto yg tersimpan di dompet di ayah angkat, yaitu foto mereka berdua, foto hitam putih, si tokoh utama  saat masih kecil, dengan baju rapih, duduk manis berdampingan dengan ayah angkatnya.

Setelah itu, si tokoh utama  menghukum dirinya sendiri dengan karma potong tangan.

Mungkin hanya satu-dua detik adegan yg memperlihatkan foto tsb, tapi kita jadi tahu, bagaimanapun latar belakangnya, si ayah angkat telah membesarkan si tokoh utama dengan baik dan banyak kenangan masa kecilnya yg berharga. Tidak semudah itu membalas dendam, perasaan itu tidak bisa tedefinisi dalam hitam-putih,
Saat itulah saya menyimpulkan, bahwa ada treatment yang berbeda dengan kasus yg mirip? malah tidakkah lebih baik di kasus Monte Cristo, si anaknya tidak dibuat harus membunuh ayah kandungnya, tap iia menyaksikan ayah kandungnya membunuh ayah angkatnya.

Hanya dengan satu adegan saja bisa memberikan perbedaan pemaknaan dan mungkin pengembangan cerita di kepala masing-masing penonton. Sejak itu saya semakin memperhatikan pola semacam ini,  dalam kasus cerita hubungan ayah-anak laki-laikinya dan beberapa topik lain.

Dalam beberapa bahasan dan ulasan film versi saya di tulisan-tulisan sebelumnya, kadang sudah saya bahas, seperti ketika saat memngkhayalkan perbedaan versi untuk  ending suatu film, kalau dibuat oleh produksi hollywood, bollywood, korea dll.
Rasanya perlu juga merangkumnya karena selentingan pikiran-pikiran ini sudah lama berseliweran di kepala saya. Mungkin bentuknya semacam membuat perbandingan secara umum, walaupun katakanlah data yang didapat belum cukup relevan dan masih dalam proses penambahan, karena hunting dan  pendonlodan film masih akan jalan teruss!!!!




Bersambung kapan-kapan .



Sunday, April 13, 2014

Ketika "Almost a Love Story" merupakan "The Best Love Movie"

Comrades, Almost a Love Story ( 甜蜜蜜), 1996

Director: Peter Chan Ho-Sun
Writer: Ivy Ho
Cast: Maggie Cheung Man-Yuk, Leon Lai Ming, Eric Tsang Chi-Wai, Kristy Yeung Kung-Yu, Joe Cheung Tung-Cho, Christopher Doyle


Contoh tipe manusia yg biasanya menjadi “musuh bersama” kita di dunia nyata: Suami yg selingkuh dan wanita selingkuhan yang suka memanfaatkan orang (apalagi kalau kita adalah korban mereka). Namun, ketika sebuah film menjadikan tokoh seperti mereka ini sebagai pemeran utamanya, kita akan melihat dari sudut pandang lain, yang mungkin akan membuat kita memaklumi kesalahan kedua tokoh ini.

Film "Comrades, Almost a Love Story" a.k.a. "Tian Mi Mi" adalah salah satunya. Dengan menampilkan alur cerita dalam rentang masa kehidupan hampir satu dekade dengan karakterisasi kuat tokoh-tokohnya, penonton dapat mengeksplorasi dinamika perasaan yang begitu kaya, kompleks, yang seringkali terlalu disederhanakan dalam film-film jenis drama Hollywood. Latar belakang lokasi dan budaya membantu memberikan gambaran dan pemahaman yang memperkaya film ini dari sekedar kisah cinta tanpa akar.

Xiao Jun (Leon Lai), seperti kebanyakan warga Mainland China merantau dari kampungnya ke Hong Kong untuk bekerja. Dalam kegagapannya menghadapi dunia baru disertai hambatan bahasa, dia berteman dengan Li Chiao (Maggie Cheung) yang membantu sekaligus memanfatakannya untuk banyak proyek. Keduanya adalah pekerja keras yang berjuang untuk mewujudkan cita-citanya masing-masing demi penghidupan yang lebih baik. Pertemanan fungsional ini pun berkembang menjadi “friends with benefit”. Setelah berlangsung beberapa bulan, perbedaan antara mereka dalam menyikapi hubungan tersebut, Xiao Jun yang memiliki tunangan di kampungnya, ditambah situasi ekonomi di Hong Kong saat itu membuat mereka harus berpisah dan memilih jalan yg berbeda.

Setelah beberapa tahun mereka bertemu lagi dengan kondisi impian masing-masing yang telah terwujud: Xiao Jun sudah memboyong dan menikahi tunangannya (ya, yang sudah diselingkuhinya itu), sementara Li Chiao sudah menjadi pengusaha sukses, dan hidup bersama Pao (Eric Tsang), bos mafia yang membantu Li Chiao saat sedang bangkrut-bangkrutnya korban krisis moneter di HK tahun 1987.

Ketika interaksi antara mereka berlanjut, "CLBK" pun terjadi, dan justru saat itulah mereka memutuskan bahwa mereka sebenarnya ingin untuk terus bersama. Xiao Jun dan Li Chiao mulai memikirkan bagaimana mereka menyampaikan pengakuan kepada pasangan masing-masing, ketika kondisi hubungan masing-masing sebetulnya dalam keadaan tanpa masalah.

Bagaimana selanjutnya mereka menyikapi kondisi ini dan keputusan yang harus mereka buat, mengalir dalam jalan takdir yang berlaku dalam hidup mereka, dan menunjukkan bahwa tidak mudah menyederhanakan perasaan dan pilihan hidup, apalagi ketika melibatkan orang-orang lain.

Sebagai sebuah film, "Comrades" sangatlah efektif menyampaikan semua emosi dalam komplikasinya, dan menjadi salah satu film paling romantis yang pernah diproduksi di dunia ini dalam prinsip bahwa hidup harus terus berlanjut. Salah satu kekuatannya ada pada akting Maggie Cheung yang hanya dengan merubah ekspresinya, tanpa banyak berkata-kata, semua emosi dan perasaan Li Chiao dapat tersampaikan. Akting Maggie Cheung diimbangi dengan akting Eric Tsang yang matang walau tidak banyak porsi kemunculannya, sementara kekakuan Leon Lai dimanfaatkan dengan tepat untuk karakternya. Didukung musik latar yang sangat kuat untuk membentuk suasana, serta musik pop Teresa Teng yang sangat terkenal pada masa itu dan cukup melegenda, membuat film ini secara umum pun cukup mudah untuk disukai.

Film "Comrades" bukanlah tipe tearjerker, bahkan tanpa unsur-unsur klise mengenai ide-ide romantisme di film, juga tanpa hal-hal spektakuler seperti heroisme atau pengorbanan yang berlebihan, tanpa tempat pertemuan spesial di ujung dunia atau puncak menara. Kejadian2 di film ini seperti hal-hal casual, dalam keseharian tokoh-tokohnya yang mungkin bisa terjadi pada siapa saja: Bagaimana pertemuan dan perpisahan, persahabatan dan percintaan digariskan dalam nasib setiap orang.

Seperti apa kisah di film ini akan berakhir? Apakah penonton berharap Li Chiao & Xiao Jun akhirnya bersatu? itukah yang kita sebut Happy ending?

Ada beberapa kemungkinan penyelesaian untuk situasi di film ini:

Versi Hollywood: Pao terlibat kasus yang membuatnya dipenjara sementara Xiao Ting ternyata punya selingkuhan. Akhirnya masing2 punya alasan berpisah dengan pasangannya dan saling mengakui bahwa saling mencintai dan mereka pun akhirnya jadian.

Versi Korea: salah satu yg diselingkuhi kecelakaan dan cacat, dan salah satu dari Li Chiao/ Xiao Jun akan pergi dengan kegalauan lalu bunuh diri atau mati kecelakaan gara-gara suatu tindakan konyol, meninggalkan yg satu lagi jadi gila.

Tapi ini adalah film Hong Kong, keegoisan mungkin akan mendapat karma, maka kesedihan ditempuh untuk mengembalikan suatu kehidupan, ketika akhir menjadi awal.



**************************************************


Thursday, October 10, 2013

GF*BF yang Blue Gate Crossing

Blue Gate Crossing adalah salah satu film "Ruang Santai" yang sekitar satu  dekade lalu pernah dipertontonkan Neng Sally pada khalayak LFM dan saya berkesempatan ikut menontonnya. Tidak seperti beberapa film pilihan Sally yang lain yang rada bikin trauma (hehe..), film satu ini menyisakan kesan positif. Sekian tahun berlalu, secara detail saya sudah lupa isi ceritanya, tapi ketika menemukan keberadaan film Girlfriend * Boyfriend, alias GF*BF yang dirilis tahun 2012, beberapa hal mengingatkan lagi akan film BGC, dan beberapa waktu setelah itu berhasil mengcopy bajakannya dari Neng Sally untuk menyegarkan ingatan.

Di antara BGC dan GF*BF, ada kesamaan yang paling jelas, yaitu dua-duanya produksi Taiwan dan pemeran utama wanitanya Guey Lun Mei, menampilkan  kehidupan anak SMA,  kisah cinta segitiga dan dilema persahabatan. Okey, satu lagi yang membuatnya semakin mirip walau berbeda, mungkin satu hal yang seharusnya SPOILER ALERT!!! Atau mungkin tidak apa-apa juga buat yang mungkin akan nonton tapi sudah mengetahui sebelumnya hal tersebut, karena menikmati kedua film ini adalah dengan mengikuti dan terbawa suasana-suasan yang terbangun sepanjang film, bukan mengenai "kejutan" atau jawaban akan sesuatu hal yang muncul di akhir cerita.

BGC dan GF*BF sama-sama bercerita tentang kisah cinta segitiga, dan di antara tiga tokoh utama yang terlibat ....mmmm.. ada yang suka pada sesama jenis (Ya, geleuh sih..). Jadi, masalah yang diangkat bisa dibilang sedikit kompleks dibandingkan permasalahan di film-film drama romantis kebanyakan. Kondisi persahabatan di antara mereka pun menjadi lebih dilematis. Beberapa hal pendukung dalam cerita kedua film ini juga memiliki kemiripan, seperti hobi berenang tokoh-tokohnya, kenorakan lucu-lucuan anak SMA yang kadang tampak agak berlebihan sebetulnya.

Kedua film ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi dua-duanya merupakan film favorit saya. Latar belakang BGC yang hanya berkisar dalam durasi singkat di masa SMA, membuatnya lebih ringan dan bisa untuk penonton kalangan remaja sedangkan GF*BF untuk penonton dewasa, mengikuti perkembangan para tokohnya sampai hampir tiga dekade dalam berbagai perubahan kondisi sosial politik di Taiwan sehingga jalan ceritnya pun jadi lebih "berat" karena mengandung muatan-muatan lain dalam latar belakangnya.

Yang paling menarik bagi saya adalah bahwa saya merasa film GF*BF  bisa saja dianggap sebagai semacam "jawaban" dari film BGC. Di akhir film BGC, ada harapan dan pertanyaan yang muncul dari diri kita penonton, dan pertanyaan-pertanyaan dari tokohnya. Yang terjadi di film GF*BF menampilkan salah satu kondisi yang mungkin terjadi juga pada tokoh2 BGC bila kisah mereka berlanjut. Memang tanpa menganggap keduanya terkoneksi pun sebagai satu film sendiri, BGC adalah film yang tuntas. GF*BF lah yang justru memiliki beberapa "plot holes".
Walaupun demikian, GF*BF cukup berhasil membuat penonton mengabaikan beberapa ketidakjelasannya tersebut ketika film ini menampilkan penyelesaian dalam beberapa adegan yang bisa cukup menentramkan semua kegalauan sepanjang film.

Keistimewaan  yang membuat kedua film ini tidak cepat membosankan dan tidak mudah terlupakan, adalah bagaimana olahan emosi ditampilkan dalam detail2 akting yang tampak begitu natural dari bahasa tubuh dan ekspresi tokoh-tokohnya dan terbangunnya suasana dengan permainan gambar & latar musiknya untuk membawa kita pada nostalgia setiap menonton ulangnya.





GF*BF A.K.A. : Girlfriend*Boyfriend  
Director: Yang Ya-Che

Writer: Yang Ya-Che

Stars: Joseph  Chang , Gwei Lun-Mei, Rhydian Vaughan, Bryan Shu-Hao Chang


Blue Gate Crossing  
Director:Chih-yen Yee


Writer: Chih-yen Yee

Stars: Gwei Lun-Mei, Bo-lin Chen, Shu-hui Liang

Saturday, June 15, 2013

Wong Kar Wai Singkat Secara Singkat

Sementara film-film panjangnya mungkin bisa dianggap "not for everyone", film-film pendek karya Wong Kar Wai mungkin malah lebih asik dinikmati sebagai suguhan keindahan audio & visual tanpa terlalu "terbebani" oleh ceritanya, sehingga mudah diikuti.

Ada beberapa contoh film pendek yang ditulis dan disutradarai Wong Kar Wai, berupa film iklan dari produk2 tertentu. Berhubung dengan tujuan konsumerisme, maka film2 ini haruslah bisa catchy untuk banyak orang.

WKW berhasil merepresentasikan produk yang dipromosikan dalam suatu cerita dan menampilkannya dengan puitis khas WKW, tidak mesti eksplisit, tapi tanpa menghilangkan esensi produknya.
Indah di mata walaupun suaranya disilent, dan indah didengar walaupun tanpa melihat gambar-gambarnya, demikianlah salah satu keistimewaan karya2 Wong Kar Wai.



Déjà Vu for Chivas Regal

Dengan permainan cahaya dan ruang, WKW mempuisikan produk minuman haram di iklan ini, dilengkapi "filosofi cinta" yang baru kali ini saya dengar:

Love is like Ice, how long can you hold on to it?

Ceritanya simpel saja, tentang pertemuan sepasang manusia, lalu mereka berpisah dan sambil si cewek berpesan:

"I will comeback If you grant me three wishes:  same place, same table, same….. miracle.. "

Nah "miracle"nya itu lah produk yang dipromosikan dalam film ini. Ditambah lagi, kehadirannya di film ini ceritanya disertai keajaiban fenomena alam.

Warna gelap keemasan, arsitektur antik nan eksotis, kemegahan interior dan musik dengan aktor-aktris yang indah di mata serta musik yang dramatis, membuat  minuman haram ini tampak begitu berkilau, mewah dan seolah penuh keajaiban.

Film satu ini cukup menonjol keiklanannya karena di beberapa frame, label produknya terlihat jelas.
Ada versi trailer, dan dua episode yang isinya beririsan.

ep 1:


ep 2








Between shadow and golden light, it's Chang Chen in a suit!


There’s Only One Sun for Philips Aurea, LCD TV

Yang satu ini sangat mirip film  2046, dari segi warna-warnanya, kostum  dan suasana futuristiknya bahkan pemilihan musiknya dengan adanya lagu yang sama, walau dari penyanyi berbeda. Ceritanya sih jauh berbeda. Kali ini WKW mengangkat cerita khas kisah mata-mata, yang menghadapi konflik perasan karena terlalu jauh terlibat dengan targetnya. Tentang melihat, mengingat, dan merasa.

It’s hard to look at things   directly
They are too bright and too dark,
Sometimes we need to see things through a screen.
On one side of the screen, memory fades
On the other, they glow forever..
Satu lagi yang nembuat unik film ini adalah perbedaan bahasa anatara tokohnya, si cewek berbahasa prancis, yang cowok2 bahasa rusia. No problem toh buat yangga mengerti keduanya tinggal baca teks bhs inggris, tapi efek yang terdengar rasanya unik sekali,  karena betapa bahasa rusia itu sangat jauh berbeda dari bahasa2 eropa yang lebih sering kita dengar, dan memberi mood yang lebih dramatis. Hal ini juga  mengkukuhkan perbedaan dan jarak yang menyebabkan dilema bagi si agen cewek.


Mbayangkan kalau film ini ditonton melalui layar yang diiklankan...

Cuplikan puisi rusia di akhir film semakin melengkapi kepuitisan film ini, ditambah lagi lagu berbahasa spanyol yang melatari monolog bahasa prancis .. memang tak ada yang sempurna di dunia ini, tapi ini iklan yang nyaris sempurnaaa!!






The Follow for BMW

The Follow adalah salah satu dari sejumlah film pendek BMW dalam serial The Hire yang diperankan Clive Owen, dan merupakan yang paling unik dibanding episode2 yg lain. Secara sinematografi, biasa saja tidak terlalu menonjol warna keWKWannya tapi walau skenarionya tidak ditulis oleh WKW, ceritanya  lebih bermakna dibanding episode-episode serial The Hire yg lain, dan dengan variasi alur dan twist cerita, WKW bisa menempatkan berbagai hal yang khas karya2nya: narasi monolog, adegan dan musik yang pas sehingga tetap berhasil membuatnya puitis disertai adegan ngalamun, dan tokoh wanita yang memakai kaca mata hitam tak lepas-lepas.


Harus itu, harus..... gak afdol kalau gak ada adegan ngalamun

Di episode-episode  yang lain, walaupun seru khas masing2 sutradara, dan pemerannya juga all-star, semuanya mengedepankan tentang kebut2an dengan si BMW. Apakah itu mengejar, dikejar, ataupun balapan. Bahkan versinya Ang Lee malah mengecewakan, karena jadi terlalu Hollywood, tentang kejar2an juga tanpa memunculkan keistimewaannya yang ada di film2 lain, plus “cameo” The Hulk yang gak penting.

The Follow bercerita tentang membuntuti orang, yang justru perlu teknik bagaimana menjaga jarak.... jangan terlalu dekat, dan juga jangan sampai kehilangan yang sangat membutuhkan kesabaran dan pengendalian diri. Bagaimana menunggu, dan bagaimana harus bersikap dan bereaksi terhadap “target”.
Bener deh sodara2, penggemar BMW atau bukan, stalker atau bukan, liat deh yang satu ini.