Sunday, November 09, 2008
Tontonan 2008
Duch males banget buat resensi, tapi merasa harus, padahal ga ada juga yang mengharuskan.
Ya saya bermaksud merangkum beberapa film yang sudah saya tonton tahun 2008 ini. Seadanya saja lah, sekedar kesan selewat.
Lingkup film yang saya tonton pun tidak terlalu luas nih, sebatas yang ada di bioskop, sedapatnya dvd bajakan dan jenis-jenis bajakan lainnya. Belum ada yang membuatku gemas sampai ingin meresensinya.
HOLLYWOOD SESSION
Iron Man
Sangat sederhana alsan saya menonton film super hero satu ini:
"Kalau bukan Robert Downey Jr. yang main mah, saya moal nongtonnn!!!"
Ya memang begitu. Kenyataannya, cerita film ini memang tidak begitu penting, tapi aktornya itu memang sangat menarik, alias: CAKKHEEEPPPPPP
Yah itu aja.
The Incredible Hulk
Yang ini juga. Edward Norton suanggattt cocok dengan perannya. Mengenai filmnya sih yah....duh standar banget. Levelnya sedikit lebih bawah daripada Iron Man. Bagian paling menyenangkan adalah adegan paling terakhirnya. Ah, no spoiler here!
Hancock
Film super hero juga, tapi lebih unik dan menarik. Belum tau latar belakang ceritanya. Apa dari komik juga kah? atau contekan dari film non-hollywood? tapi lagi-lagi, berkat Will Smith lah saya mau menonton film ini.
Quote: "Le petit Asshole"
Batman The Dark Knight
Nah, yang ini baru filmnya yang menarik. Sequel yang sudah dinanti-nantikan. Bukan sekedar karena kesuksesan Batman Begins, tapi juga untuk melihat karakter Joker yang konon sangat spektakuler diperankan oleh Heath Ledger, Alm.
The Dark Knight berdurasi cukup panjang. kalau tidak salah hampir tiga jam???
Yang pasti, ini film Super Hero terbaik tahun ini, setelah menonton Iron Man, Hulk, Hancock..???
Bagian awal-awalnya ni film yang kerasa cuma "disturbingly cruel" gillaa psaiko abbisss. Begitu banyak adegan sadis. Ekspektasi daya pikat Christopher Nolannya belum muncul secara spesifik. Kemunculan Joker juga ga begitu spektakuler seperti harapan saya. Tapi makin lama mulai kerasa menarik dan bikin gemeeessss. Luar biasa dah yang bikin cerita hebat.
I am Legend
Will Smith again. Yap TOP BGT aktingnya, duet dengan si gogog Sam. Bikin kangen ma Temon. Sekali lagi, Will Smith is the best Hollywood treardropper
Sunday, September 14, 2008
Tuesday, July 01, 2008
Mimpi yang Datang Kembali
Bukan hanya komik Vertigo serial Sandman karya Neil Gaiman yang menjadi menarik karena temanya tentang mimpi. Akupun sering merasa bahwa mimpi-mimpi dalam tidurku sangat menarik.
Sebagaimanapun serunya petualangan di alam mimpi, biasanya saat bangun kita lupa apa yang baru kita “alami” dalam tidur. Tapi, ada mimpi-mimpi tertentu yang teringat, walaupun tak mendetail. Kadang dalam mimpi pun aku merasa deja vu meskipun tak jelas apa bagaimananya.
Diantara berbagai macam mimpi yang pernah kualami dalam tidur, ada beberapa yang cukup melekat di pikiran, terutama karena berulang . Nah, inilah dia topik favorit dalam mimpi-mimpiku:
I. Kembali ke sekolah
Dalam mimpi dengan topik ini, aku bisa menjadi siswa SMA, SMP, bahkan SD. Dan jalan cerita selanjutnya selalu sama: yaitu aku sudah lama tidak masuk, mungkin mabal karena malas, dan aku kembali menjelang ujian atau terima raport. Kadang yang akan dihadapi adalah ujian semesteran, sekedar ulangan, atau bahkan Ujian Akhir Nasional. Yang kurasakan dan kupikirkan biasanya adalah: “Waduh, udah lama gak masuk ni bisa gak ya ujiannya” atau lebih kepada kekhawatiran akan pengurangan nilai karena status absensi. Bangunan sekolahnya bermacam-macam di dalam mimpi. Tidak pernah sama dengan sekolah-sekolahku di alam nyata. Tapi aku bisa melihat beberapa teman sekelas, bahkan guru-guru lama.
Setelah aku menyadari bahwa aku sering mengalami mimpi macam begini pun, aku masih mengalaminya. Entah apa maknanya, mungkin akau harus melanjutkan sekolah lagi? Atau karena aku begitu traumanya dengan masa sekolah yang sampai sekarang sudah berlalu 10 tahun?
Anehnya, mimpi topik sekolahan ini baru muncul beberapa tahun setelah lulus kuliah. Sedangkan beberapa waktu setelah lulus kuliah, aku masih sering mimpi sidang dan asistensi TA. Wajar lah karena masa-masa Tugas Akhir itu memang beban dan tekanan mentalnya sangat berat. Tapi mimpi buruk itu berlalu sendiri tak terlalu lama. Baru belakangan ini aku sekali mimpi masa kuliah, tapi bukan masa TA. Seolah kembali ke Studio Jurusan Arsitektur (yang pasti bangunannya aneh), ada kelompok Kalkun, dan seperti biasa aku seolah habis mabal lama dan menghadapi pengumpulan tugas.
II. Kereta Api
Topik ini pun cukup sering muncul dan lumayan membuat agak stress. Biasanya dalam mimpi ini aku mengejar jadwal kereta api, dan karena dalam mimpi susah sekali berlari, aku rasanya panik sekali. Bahkan pernah aku mesti mengejar gerbong yang sudah berjalan. Kadang mimpi salah turun stasiun atau terjebak macet dalam perjalanan ke stasiun di kota antah berantah yang dalam mimpi itu disebut sebagai kota Jakarta. Terakhir aku mimpi ketinggalan barang di kereta dan setelah lewat beberapa hari baru sempat menanyakannya ke petugas. Pernah juga aku mimpi berada di kereta yang mogok. Dalam mimpi perjalanan KA, ataupun di mimpi mengejar gerbong yang meninggalkanku, pemandangan sekitar jalur kereta api sangat menarik dan indah. Memang aku sampai sekarang lebih suka naik kereta api ke Jakarta daripada via tol Cipularang, karena pemandangannya lebih menarik. Mulai dari pemandangan bukit, lembah, sawah, sampai pemukiman kumuh dan tumpukan sampah.
III. Naik gunung
Dalam mimpi naik gunung, biasanya di saat hendak berangkat aku belum menyiapkan barang-barang dan perbekalan yang semestinya., padahal gunungnya sudah di depan mata, tapi isi ransel aku masih belum memenuhi syarat seperti yang ada dalam kuliah “Persiapan Perjalanan” bagi AM Jamadagni. Lebih dari satu kali aku bermimpi akan mendaki Gunung Gede, tapi gunungnya dan lokasi sekitarnya, seperti biasa, aneh dan asing. Seingatku, mimpi begini biasanya tidak berlanjut sampai ke puncak gunung, atau hanya setengah perjalanan, dengan nekad berangkat membawa barang seadanya setelah meyakinkan diri bahwa gunung tersebut tidak berbahaya dan merupakan tempat wisata umum, jadi tidak apa-apa walau tak terlalu lengkap bawa peralatan.
Dalam mimpi lain aku berhasil sampai ke puncak “Gunung Semeru” yang sama sekali tidak mirip Semeru yang sebetulnya. Pernah juga aku keliling gunung-gunung kompleks ciwidey yang kesannya berbahaya sekali karena bukitnya sedang naik-turun entah bagaimana (ceritanya sedang ada fenomena tektonis kali...).
Mimpi naik gunung tidak sesering yang dua di atas. Tapi lumayan berkesan dan teringat, karena memang suatu kekhawatiran bila kita sampai berangkat tanpa peralatan yang komplit, dan yang paling kukhawatirkan dalam mimpi itu sebetulnya adalah lampu senter. Dalam kenyataan, senter adalah benda yang sangat penting untuk pendakian yang melewati malam hari, ataupun sekedar kemping senang-senang Ironisnya, senter juga adalah barang yang paling sering hilang karena berpindah-pindah tangan dipinjam orang-orang yang tidak membawanya selain kemungkinan hilang olehku sendiri, mungkin tercecer atau nyelip tertumpuk barang lain di rumah.
Mimpi dengan tiga topik di atas adalah contoh dari mimpi-mimpi yang paling aku ingat sering berulang. Dalam tiga macam mimpi ini, aku biasanya berada dalam kondisi panik, kuatir dan nyaris setress.
Kenapa ya?
Apa hidupku memang dipenuhi kekhawatiran kaliiiii
Saking besarnya pengaruh mimpi, kadang perasaan dalam mimpi begitu kuat bahkan mempengaruhi kehidupanku di kenyataan. Pada suatu masa dulu, mungkin waktu aku masih SMA atau awal-awal kuliah. Aku pernah kembali "ngecengin" seseorang gara-gara mimpi. Sebelumnya, ceritanya aku udah menyerah alias “give up” cieh hehe.... sudah ngeceng yang lain dong, dan gak perduli lagi pada orang itu.Tapi suatu malam aku bermimpi ada dia. Dalam mimpi itu, seolah dia baik sekali padaku dan sepertinya sih suka padaku (dalam mimpi pun orang bisa merasa ge er ternyata). Hmm rinciannya sudah kabur, aku hanya ingat beberapa frame hasil capturenya yang masih tersimpan di kepalaku. Lalu aku terbangun, perasaan dalam mimpi masih terbawa. Akibatnya aku ngecengin orang itu lagi deh.. dan tetep aja cume ngeceng terus... hueheheeee.
I love you in reality
Monday, June 30, 2008
Things They Don't teach You at School
They don't teach you how to love somebody
They don't teach you how to be famous
They don't teach you how to be rich, how to be poor.
They don't teach you how to walk away from someone you don't love any longer
They don't teach you how to know what's going on in someone else's mind
They don't teach you What to say to someone who's dying
They don't teach you anything worth knowing
The sandman volume nine; The Kindly Ones
Monday, May 26, 2008
Menelenovela
Enrique Iglesias. Itu satu-satunya alasan saya menunggui TV di jam tertentu untuk menonton pembukaan telenovela Esperanza. Lagu pembukaannya memang luar biasa romantis. Kalau Cerita filmnya mah... amit amiiiiit! Dalam alunan suara merdunya si abang ini (by the way saya sangat suka suaranya, kalau orangnya secara fisik mah biasa ajah hihi..) , saya juga jadi terbayang-bayang Edith Gonzales, si pemeran Esperanza, dan tentunya melayang lebih jauh ke telenovela terbaik sepanjang masa, yaitu Corazon Salvaje, yang di indonesia dikenal dengan "Hati yang Berduri" lalu terbayang2 om ganteng Eduardo Palomo almarhum. Kangeen!!!.. dulu waktu film itu diputar di televisi, saya masih SMP. Walaupun terlalu kecil untuk mememahami telenovela yang berat untuk dewasa seperti itu, selain karena komentar2 positif ibu saya, saya sendiri pun cukup mengerti kalau itu adalah serial yang sangat bagus. Mulai dari kostum, akting bahkan plot ceritanya bagus dan memikat. Sebetulnya saya sudah lupa cerita lengkapnya, hanya ingat saja bahwa ceritanya bagus (well, memory is your interpretation).
Kemunculan om Eduardo selanjutnya yang saya tonton adalah di serial Ramona. Dengan setting sekitar abad 19 (??). Di sana dia berperan sebagai Alejandro de Asis, seorang Indian (atau campuran ya?) dari suku Yahi yang sedang berada di ujung kepunahan dibantai para Yankee Amerika. Ramona adalah contoh telenovela dengan pola yang tidak biasa. Secara umum tele satu ini sangat gloomy dan cukup lambat sehingga saya tidak begitu gemar mengikutinya. Tapi ceritanya sangat bagus, karena memiliki muatan sosial dan humaniora yang berat dan dikemas dengan menyentuh. Tidak sekedar konflik antara orang kaya berebut warisan dari wanita miskin yang sederhana dan tulus tapi ujung-ujungnya tetep aja bertransformasi jadi cewe kaya yang gaya.
Kisah cinta Ramona dan Alejandro berakhir tragis dengan fitnah dan hukuman gantung bagi Alejandro saat Ramona sedang mengandung anaknya. Kehilangan Ramona digambarkan dengan sangat tragis di telenovela ini. Sementara itu, Felipe, kakak angkat Ramona yang mengira bahwa Ramona adalah adik satu ayah hasil perselingkuhan ayahnya juga memendam perasaan yang tulus dan telah merelakan Ramona yang menikah dengan Alejandro. Namun, belakangan ia
mengetahui bahwa itu adalah kebohongan. (Maxudnya, sebetulnya mereka bisa aja jadian).
Pada suatu hari untuk menonton Ramona, saya berlari dengan segenap energi setelah berhasil mabal dari studio AR ke ruang santai LFM ITB. Mana kutahu sebelumnya kalau itu episode terakhir. Kali itu saya bersemangat benar untuk menontonnya, karena beberapa episode sebelumnya, cerita menjadi sangat menarik. Namun padatnya jadwal kuliah dan tugas, dan jam tayang yang sangat "NGGAK BANGET" (jam 9 pagi booo) membuat saya melewatkan banyak episode. Kali itu, di episode terakhir, hanya lima menit terakhir yang aku tonton dan... dan... SANGAT ROMANTISSSSSS!!!!!
Kira-kira begini: Dikisahkan Ramona sudah menikah dengan Felipe, dan telah memiliki satu anak lagi dari pernikahan keduanya ini. Dia mendongeng pada anak-anaknya yang sebetulnya cerita tentang kehidupannya dan Alejandro dan Felipe. Lalu, ketika Felipe menanyakan pada Ramona: "Bagaimana akhir ceritanya? apakah bahagia?" Ramona berkata: "Sangat bahagia".
Hanya segitu yang saya tonton. Untung, untuuuuung masih terkejar. Dengan entah berapa puluh atau berapa ratus "bloody episodes" sebelumnya, adegan terakhir itu sangat memberi arti karena kisah cinta segitiga antara mereka tidak seperti yang biasanya seperti di kebanyakan telenovelatina, apalagi sinetron Indonesia (cuihhhccchh).
Hmmmm semoga suatu saat Corazon Salvaje dan Ramona dan Gadis Pemimpi (semuanya ada Eduardo Palomo alm.) diputar lagi di TV. Jauh lebih bermutu daripada sinetron-sinetron ataupun Reality Show yang sekarang merajalela.
