Monday, August 07, 2006

Great Expectation, 1998

Based on the novel by Charles Dickens


The tree-lined avenue

Begins to fade from view

Drowning past regrets

……………

Saya menonton Great Expectation versi Alfonso Cuaron di bioskop LFM, sekitar tahun 1999. Saat itu mungkin saya masih belum bisa mendefinisikan selera sendiri. Masih belum berani menyatakan sebuah film itu bagus atau tidak, walaupun sudah memfavoritkan beberapa film bagus yang berkesan tak terlupakan . Tapi tapi somehow.. film ini entah kenapa begitu menyentuh.. ada kesan yang kuat, dan cukup untuk membuat ingin menontonnya lagi dan lagi!! Di TV, sewa VCD, sampe berburu DVD bajakannya yang sudah keburu hilang di pasaran kota kembang. Akhirnya ketemu VCD originalnya di Disc Tara. Walaupun udah sangat gak level nonton VCD, lumayan juga untuk koleksi minimal. Seberapa gak pentingnya pun film ini, saya suka..!!


I’m not gonna tell the story the way it happened, I’m gonna tell it the way I remember” (Pernyataan yang sesuai dengan konsep film Memento mengenai memori*).

Dan inilah memori seorang Finn Bell mengenai masa lalunya.


Seorang anak lelaki dengan kepolosannya menghadapi dunia, dihadapkan pada keanehan manusia dalam kehidupan. Diawali dari pertemuan dengan seorang buronan (Robert de Niro) yang kemudian tertangkap, dijadikan teman bermain seorang gadis kecil keponakan wanita aneh di rumah mewah yang kumuh tak terurus, kepolosan dan ketulusan Finn membawanya pada nasib baik sekaligus buruk. Miss Dinsmoore (Anne Bancroft) yang mendendam berpuluh tahun pada seorang pria yang meninggalkannya di altar pernikahan, menjadikan keponakannya, Estella, (Gwyneth Paltrow) sebagai alat untuk membalas pengalaman buruknya kepada kaum pria.

Sial bagi Finn, ia terjebak untuk terlibat permainan berbahaya itu semenjak ia jatuh cinta pada Estella. Namun tanpa disangka, jalan terbuka baginya untuk berusaha “menaikkan derajat” dari anak keluarga miskin menjadi seseorang yang pantas disandingkan dengan Estella. Sayangnya, alur nasib terus membulak-balik perasaan dan harapan Finn.


Adegan-adegan terbaik di film ini adalah kemunculan Estella. Gwyneth Paltrow sangat cocok tampil sebagai gadis glamour snobbish dan dingin. Ketika adegan-adegan beralih dari Estella ke kisah kemunculan kembali sang buronan, flow film sempat terasa menurun karena seolah terlepas dari alur sebelumnya. Padahal, semua masalah yang muncul itu saling berkaitan.


Entah seberapa hebat sebetulnya kisah cinta antara Finn dan Estella, tetapi romantisme yang gelap terbangun pada adegan-adegan film ini. Nuansa kesuraman membawa kita merasakan kepedihan Finn dan juga Miss Dinsmoore saat mereka bertemu terakhir kalinya. Keseluruhan kisah Great Expectation bukan sekedar kisah cinta, tapi juga mengenai ketulusan dan kasih sayang secara lebih universal, seperti yang digambarkan dalam hubungan Finn dan Joe, kakak iparnya. Dan seiring narasi Finn, kita pun diajak memahami tentang perkembangan jiwa dalam pemaknaan hidup seorang anak lelaki yang tumbuh menjadi dewasa.


Beberapa tokoh mengalami pergantian nama dari novel aslinya, dan alurnya pun banyak mengalami perubahan, terutama penyesuaian dengan jaman tanpa melepas esensi cerita.


Sebuah versi adaptasi novel yang memiliki identitas sendiri. Keglamouran versi 90an dan adegan klasik seperti holding hands on the seashore, looking at the sunset atau berlari di tengah hujan menjadi kombinasi yang cukup berkelas. Walaupun cenderung lebih explisit, ending versi Alfonso Cuaron membawa semangat a la Dickens pada ending novelnya, yang bisa membuat para pembaca/ penonton lega sekaligus bertanya-tanya.


Jadi, walaupun ada beberapa adegan “dangdut”, jangan anggap ini film kacangan ala Hollywood. Dan, yap... Gwyneth bekilau di bawah sinar matahari.


Wednesday, April 12, 2006

Mimpi Buruks


Mimpi buruk berturut-turut. Gara-gara baca komik Conan, Death Note, lalu Monster.
Setelah lamaaa sekali tidak membaca komik jepang, judul-judul ini pula yang saya baca.
Banyak yang bilang Conan mah tokoh-tokohnya imut-imut dan pembunuhannya juga ga begitu sadis dibanding Detektif Kindaichi. Ya untung saya tidak baca Kindaichi sendirian tengah malem. Conan saja dibaca dengan cara itu ternyata sudah cukup bikin horor dalam tidur. Komik yang dua lagi lebih parah, bobot berpikirnya lebih berat. Dan mimpinya pun lebih mencekamm.

Komik misteri semacam yang disebut2 tadi lebih mempengaruhi saya daripada komik horor, selain saya juga ga begitu suka baca komik horor. Mungkin karena ketegangan berpikir yang sangat mempengaruhi jiwa itu yang bikin kebawa-bawa tidur. Terutama Monster by Urasawa Naoki. HIGHLY RECOMMENDED!!! udah mah tegang, seram, bikin penasaran, juga sangat mengharukan Huaaaaaa

Friday, March 03, 2006

Tikus nonton American Idol


Bukan Mickey Mouse, bukan Jerry.
Tapi bener2 tikus. Melalui celah pintu yang terbuka sedikit, dia berdiri tenang, diam, melotot ke arah TV. Tikus besar, tua. Bulunya kusut, mulai jarang dan agak basah. Buntutnya seperti cacing besar pink kemerahan, dengan beberapa gradasi seperti bercak noda. Menyadari keberadaannya ketahuan, ia bergerak santai pindah tempat dan berdiam diri lagi di sudut ruangan. Lalu berjalan pelan ke luar rumah.

Dan saya menjerit jijik sekeras-kerasnya

Sunday, January 01, 2006

Another Night Another Day


Apa hebatnya Tahun Baru. It's just another night, another day.

Apa pentingnya Tahun Baru sampai orang memiliki alasan untuk berpesta semalam suntuk, Dugem, booking hotel, macet-macetan di jalan, totoetan terompet. Sampai sampai para ustadz pun ikutan bicara mengenai bagaimana menyikapi tahun ke depan, niat memperbaiki diri, dll. Kenapa mesti 1 Januari, padahal di dunia ini ada berbagai macam sistem kalender dan detik-detik pergantian hari tidak sama di setiap tempat? Jadi, apa yang dirayakan?


......
Terlalu banyak alasan berpesta. Alasan pertokoan mendekorasi tempatnya, alasan produsen membuat kemasan berhias simbol-simbol tak penting yang dibuat penting, alasan stasiun TV membuat "Acara spesial". Adakah yang perduli bahwa sebetulnya banyak simbol-simbol yang justru menjauhkan makna yang semestinya, sampai semua menjadi semakin tak bermakna.

......
Terlalu banyak alasan infotainment mewawancara para selebriti: "Apa makna Idul Fitri bagi anda?" "Makna natal?" "Makna Tahun Baru?" "Bagaimana anda merayakannya tahun ini?" Sampai-sampai hari proklamasi, bahkan musibah pun menjadi alasan untuk mereka berkomentar dan mengait-ngaitkan dirinya dengan kejadian.

Manusia butuh momen. Padahal toh momen itu hanya berlaku bagi sebagian orang. Saat mereka yang di sono berpesta, yang di sana berduka, dan yang di situ sedang dalam penderitaan perang. Karena itu, apa yang terlalu dibesar-besarkan?


.....
Hanya pergantian hari, dan hari apapun dapat bermakna untuk kita sendiri. Tak usah seluruh dunia yang merayakan, tak perlu hiasan.

Tuesday, December 20, 2005

SAMBEL DADAK


Berhubung Sambalado ini kurang menyambal, baiklah kembali saya posting salah satu resep kesukaan saya.


BAHAN-BAHAN:

  • Cabe Merah
  • Bawang Merah
  • Gula Merah
  • Tomat merah (kok merah semua ya..?)
  • Terasi
  • Cengek
  • Jeruk Sambel
  • Garam

Seperti biasa, semua bahan ditakar SECUKUPNYA

ALAT-ALAT

Namanya juga buat sambel, harus ada mutu dan coet (batu buat ngulek)
Sendok
Pisau
Talenan


CARA MEMBUAT

Ulek cengek, bawang dan garam, tambah gula merah dan terasi. Setelah rata, tambahkan cabe merah yang diiris kasar, ulek lagi, tambahkan irisan tomat, ulek sampai rata. Teteskan Jeruk sambel secukupnya.
Hidangan siap disantap

Tips 1: Kehalusan ulekan bisa disesuaikan dengan selera.

Tips 2: Sambel ini bisa diulek dan dimakan mentah, jangan lupa cuci yang bersih (jangan pake sabun). Tetapi, terasi baiknya yang mateng, goreng dulu. Biar agak "mati lado" bisa disiram dengan sedikit minyak goreng panas setelah diulek.

Tips 3: Bila terlalu pedas, tambahkan gula merah. Bila kemanisan, tambahkan cabe dan garam... demikian seterusnya. Prinsipnya sama aja dengan pencok leunca =p

SELAMAT MENCOBA!!!