Monday, January 02, 2017

Sambalado Sejati

Ramala mempetisi Ayu Tingting:

Kembalikan kehormatan filosofis SAMBALADO!
Setelah (tidak sengaja) menyimak lirik lagu Sambalado, saya merasa telah terjadi penistaan terhadap makna dan filosofi dari istilah sambalado dalam lirik lagu tersebut.

Baik sambalado maupun sambal adalah produk budaya tinggi kuliner bangsa Indonesia, dengan ratusan, mungkin ribuan variasi dari Sabang sampai Merauke.
Istilah sambalado sendiri yang merupakan bahasa Minang, juga berarti aneka menu olahan cabai dengan ragam kombinasi bahan, bumbu, dan cara pengolahan, yang menghasilkan makanan dengan berbagai rasa dan warna, bukan sekedar pelengkap apalagi penyedap yang "enaknya di mulut saja". Sambalado merupakan unsur penting dalam menu masakan sebagai salah satu faktor penentu untuk asupan gizi pada tubuh manusia, bahkan bahan-bahan penyusunnya sendiri terbukti mengandung vitamin dan anti oksidan.

Sambal sejati bukanlah sekedar rasa pedas di mulut yang lalu hilang, apalagi yang ujung-ujungnya bikin sakit hati. Sambal sejati merupakan salah satu anugerah duniawi yang diberikan kepada manusia untuk dinikmati dan disyukuri.

Wednesday, August 10, 2016

Caged Bird


Related Poem Content Details

A free bird leaps 
on the back of the wind   
and floats downstream   
till the current ends 
and dips his wing 
in the orange sun rays 
and dares to claim the sky. 

But a bird that stalks 
down his narrow cage 
can seldom see through 
his bars of rage 
his wings are clipped and   
his feet are tied 
so he opens his throat to sing. 

The caged bird sings   
with a fearful trill   
of things unknown   
but longed for still   
and his tune is heard   
on the distant hill   
for the caged bird   
sings of freedom. 

The free bird thinks of another breeze 
and the trade winds soft through the sighing trees 
and the fat worms waiting on a dawn bright lawn 
and he names the sky his own 

But a caged bird stands on the grave of dreams   
his shadow shouts on a nightmare scream   
his wings are clipped and his feet are tied   
so he opens his throat to sing. 

The caged bird sings   
with a fearful trill   
of things unknown   
but longed for still   
and his tune is heard   
on the distant hill   
for the caged bird   
sings of freedom.

Wednesday, May 04, 2016

Mana yang Paling Ganteng?

 
 
Sejak semakin mudahnya akses "mendapatkan" film dan informasi film dalam beberapa tahun terakhir ini, daftar koleksi dan pengalaman tontonan saya terasa cukup pesat bertambah dengan lebih banyak variasi dari beberapa negara/ bangsa selain film Amerika. 
 
Di antara daftar tersebut, makin lama terasa seolah ada benang merah yang menghubungkan masing-masing asal produksi atau asal sineas dalam bentuk suatu ciri atau pengalaman tontonan bagi saya, dan hal ini berlaku lintas genre film. Yang paling kuat perbedaan-perbedaan terhadap film mainstream Hollywood yang masih menjadi pembanding utama, karena secara statistik tetap mendominasi tontonan saya. 
 
Sebetulnya tidak mudah juga membuat perbandingannya menjadi sederhana ketika harus melibatkan banyak unsur untuk dianalisa dan membuat kriteria pengelompokannya, ditambah kapasitas serta keterbatasan judul yang sudah ditonton serta pengaruh subjektifitas yang berlaku dari sejak pemilihan film yang ditonton. Tapi saya coba sederhanakan saja poin-poinnya maupun pengelompokannya.
 
1. Film berbahasa Spanyol:
Berkat obsesi akan film-filmnya Gael Garcia beberapa waktu lalu, saya jadi terpapar film Spanyol & Mexico. Dua negara ini terikat kesamaan bahasa dan kaitan sejarah dan sering tukar menukar aktor dan sineas. Bila digeneralisasi, karakter keduanya memiliki beberapa kemiripan dan juga perbedaan. Film berbahasa Spanyol sangat kental akan kepekaan permasalahan sosial, dengan kekuatan pada dialog-dialognya. Kita bisa mendapatkan gambaran tentang hal-hal lain di luar alur cerita utama, berupa kondisi external yang memepengaruhi alur utama film atau sekedar informasi/ wawasan tambahan. Spesifik film Mexico, lebih banyak yang menampilkan kesenjangan sosial dengan gambaran kemiskinan yang juga sering kita lihat di telenovela produksi mereka. 
 
2. Film berbahasa Perancis (Perancis - Belgia): Dari beberapa film francophone yang saya temukan, dominasi karakter tokoh yang cenderung galau dan banyak mengkhayal cukup terasa, atau setidaknya cerita dan visualisasi lebih terfokus ke pribadi tokohnya, porsi untuk latar sosial lingkungannya tidak sebanyak bila dibandingkan dengan film Spanyol. Adegan montage cukup sering saya temukan termasuk unsur yang memperkuat kegalauan atau lamunan tokoh-tokohnya tersebut.
 
3. Jepang: Yang mencolok dan khas film jepang, adalah cerita tentang ketekunan dan dedikasi akan pekerjaan selalu merupakan topik utama. Kesungguhan dan motivasi, loyalitas akan profesi juga idealisme tokohnya merupakan nilai-nilai yang selalu menyertai di genre dan topik apapun. 
 
4. Pan-Chinese : Yang termasuk di sini film produksi PRC atau Mainland China alias "Cina Daratan", Hong Kong dan Taiwan, dengan bahasa Mandarin & Kanton. Masing-masingnya memiliki ciri khas yang cukup spesifik, terutama untuk produksi Hong Kong sebelum kembali ke PRC.
Di antara ketiganya, satu ciri khas yang dimiliki semuanya adalah bahasa ekspresi yang kadang lebih kuat dibanding dialog atau narasi. Momen-momen yang mengulik rasa kadang hanya singkat tapi punya kekuatan bisa terselip baik di film drama, komedi, film aksi, thriller dll. Adegan2 cirambay yang menguras air mata sebetulnya lebih banyak di drama seri, bukan di film lepas.
"Sad ending" dengan kondisi "Penjahat yang menang" dan "Yang romantis itu tragis/ sedih" sering menjadi trade mark film HK dalam perbandingan dengan film Hollywood, ketika aliran distribusi film HK ke Indonesia memang cukup banyak, dibanding Mainland dan Taiwan. Namun sebetulnya tidak seperti itu juga, lebih cocok dikatakan akhir film sering cenderung terbuka, meninggalkan pertanyaan yang bisa dijawab oleh penonton dan justru membuka alternatif penyelesaian yang bisa dipilih, memberi kesempatan untuk move on setragis apapun kondisi yang dihadapi/ dilalui sepanjang film.
 
5. Korea: Yang khas dari film Korea adalah kisah-kisah tragisnya. Untuk genre drama dan thriller, seringkali akhir cerita dengan tokoh utama yang gila atau meninggal karena bunuh diri, dibunuh, atau kecelakaan yang tak terduga. ...........ups......... *spoiler alert!
 
6. India: Film India mayoritasnya secara fisik jelas terdeskripiskan dengan keberadaan adegan-adegan tarian dan nyanyian, satu hal lagi, rasanya hampir semua film India yang saya tonton memiliki adegan yang melibatkan kereta api. Tapi dari segi kekhasan alur cerita, umumnya di dalam satu film India, mood dan suasana bisa berubah-ubah dengan sangat drastis. Dari yang tadinya lucu ngakak menjadi sedih bergelimang air mata, lalu menjadi menyeramkan dan menegangkan. Perubahannya terjadi dengan sangat ekstrim.
 
10. Rusia: Terggoda dengan film Rusia sejak menonton film Mongol karya Sergei Bodrov. Dari beberapa karya Bodrov & beberapa film yang berhasil saya akses, film Rusia cukup kaya akan gambaran budaya dalam detail drama, nilai-nilai patriotik, dan sosial kemanusiaan. Kita mengenal manusia-manusia yang berbeda dari para teroris yang sering digambarkan sebagai antagonis oleh produksi Hollywood jaman perang dingin.
Yang pasti annoying ketika menonton film Rusia adalah dialog bahasa asing tidak didubbing , tidak pake subtitle, tapi ditimpa narasi seperti jaman Flora-Fauna dulu ...
 
7. Film Amerika Hollywood
Secara statistik, film produksi Hollywood adalah yang paling banyak saya (dan dunia) tonton. Film Amerika sendiri tidak semuanya produksi Holywood, dan di antara film Hollywood sendiri sebetulnya pun ada banyak variasi, sehingga ada yang sering disebut "Hollywood banget" dan ada yang dianggap “gak terlalu Hollywood”. Antara film Hollywood lintas dekade pun banyak perbedaannya dan perubahannya.
"Boga lakon never dies" adalah salah satu slogan andalan yang sering diucapkan (orang Bandung?) dalam ekspektasinya terhadap film Hollywood. Happy ending merupakan akhir yang bisa diharapkan untuk mayoritas film Hollywood. Baik film action, darama romance, thriller dll. Seberapa parahnya pun perjuangan dan cobaan sepanjang film, tokoh utama biasanya akan menemukan solusi.
Yang mengganggu buat saya di banyak film formula Hollywood beberapa tahun terakhir ini adalah bagaimana pembenaran bagi si tokoh utama untuk menuju happy ending, kadang ketika si boga lakon berbuat salah, akan tertutup oleh kesalahan tokoh antagonisnya, atau walaupun tokoh antagonis itu menjadi terbentuk disebabkan oleh si boga lakon di masa lalu, si antagonis akan tetap dibuat sejahat-jahatnya sehingga tetap saja sampai akhir kita membenarkan tindakan si boga lakon untuk mengalahkan si antagonis, justru sebagai penebusan kesalahannya.
Juga seringkali menunjukkan bahwa dengan kata-kata yang tak jarang berupa pidato di depan umum, bahwa si tokoh akan bisa menyelamatkan dunia, meyakinkan orang, menyatakan cinta, dll untuk mencapai tujuannya. Ini salah satu perbedaan kontras terutama dengan film pan-chinese yang lebih banyak diam, tapi mungkin itu juga yang membuat ending mereka sering tidak jelas, tebak menebak yang ujungnya gagal ini itu karena ga ngomong...
 
8. Film Inggris:
Dibandingkan dengan film Hollywood dan film Inggris lintas Hollywood, film yang mungkin termasuk British banget yang saya temukan tipenya memiliki penokohan yang lebih kuat dalam karakter, dan alur ceritanya yang lebih mendalam untuk topik yang digunakan, bisa lebih dramatis tapi juga lebih real, atau sekalian yang dinamis dan artistik dari visualisasi, tetap dengan kekuatan tokoh dan cerita. Banyak juga yang lebih menjunjung tinggi kesastraan, kebangsawananan dan kesenimanan. 
 
9. Indonesia: Kalau istilah puitisnya: "Film Indonesia tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri".
Demikian juga yang berlaku pada saya yang memang lebih menikmati film luar dari pada film Indonesia. Mungkin karena keterbatsan produksi dan distribusinya, atau secara psikologis saya justru membuat jarak karena tokoh-tokoh dan settingnya yang justru sebetulnya dekat secara fisik.
Sejauh pemahaman saya, kebanyakan film Indonesia masih banyak menjunjung nilai-nilai kebaikan, religius, setidaknya nilai pancasila. Baik-jahat masih harus terdefinisi, sehingga banyak cerita berada dalam dalam kerangka ini. Walau makin banyak variasinya, tapi mungkin masih mencari jati diri, karakter film luar sering terlihat dalam eksperimenn film baru.
 
10. Italia: Sepertinya urang banyak sampel spesifik produksi Italia yang bisa membuat saya menemukan karakter khusus, tapi dari beberapa produksi atau karya sineas Italia yang saya tonton, terasa kekuatannya di narasi film dan tipe adegan-adegan yang sedikit cenderung teatrikal, ditemukan pada film horor maupun film latar sejarah.
 
11. Honorable mention: Film Swedia & Islandia: berkaitan dengn iklimnya yang dingin, tapi bisa hangat di hati....

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>PS<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Pembagian di atas cenderung kuat pada kriteria peran sutradara, bukan dari asal negara produksi, karena bisa dirasakan ketika film produksi Hollywood disutradarai oleh seseorang yang bukan asal Amerika dan besar di Hollywood, ada perbedaan dan karakter yang dibawa. Sedangkan film berbahasa asing pun ketika merupakan produksi atau karya Hollywood, kemungkinan besar kita juga bisa mengidentifikasi.
Semua yang saya bahas ini hanyalah generalisasi dari mayoritas yang saya tonton, Hasil kesimpulan sementara saya di atas tidak lepas dari ketersediaan sampel dan mood menonton yang kemungkinan akan ada variabel-variabel lain seiring perubahan jaman dan trend produksi film, juga pertambahan umur.
List referensi acuan: perlu dibuat gak ya..

Ket foto: Ang Lee - Tsui Hark - Chen Kaige - Zhang Yimou - John Woo - Peter Chan - Johnnie To - Hou Hsiao Hsien - Wong Kar Wai - Andrew Lau

Yang paling ganteng ya tetep Takeshi Kaneshiro


Thursday, April 07, 2016

Sunday, September 27, 2015

Perbedaan-perbedaan

SPOILER ALERT!!!
:
Film yg dibahas: The Count of Monte Cristo (2002) & What Price Survival (1994)



Saya terinspirasi mengenai perbedaan karakter film berdasarkan suku bangsa sineasnya, dalam hal ini mungkin faktor yang paling kuat adalah sutradara, dan tentunya perlu pendefinisian lebih jauh untuk dibahas lain kali.

Salah satu yang mentrigger adalah ketika bertahun-tahun lalu menonton film The Count of Monte Cristo versi 2002. Saya tidak ingat apa saya menontonnya setelah membaca bukunya. Dan kalau setelah membaca, saya tidak ingat versi seperti apa, apakah terjemahan yang dipersingkat untuk anak-anak dari salah satu koleksi buku di rumah saya.
Yang teringat, adegan akhir film tersebut membuat saya kurang enak hati.

Kira-kira seperti berikut:

Di akhir film, tokoh utamanya, Dantes berduel dengan teman lama yang telah menjelma menjadi musuhnya, Mondego, yang menjebloskan dia dipenjara belasan tahun dan merebut tunangannya.
Belakangan pun diketahui bahwa tunangan Dantes dulu mau menikahi Mondego karena saat itu dia menyangka Dantes telah meninggal dan dia sedang hamil. Anak mereka yg telah remaja itu pun mengetahui siapa ayah aslinya di adegan klimaks di akhir film dan mengetahui kejahatan ayah angkatnya.

Singkat cerita dalam duel tsb Mondego pun kalah dan terbunuh, Dantes berhasil membalaskan dendamnya, sebgaaimana boga lakon pada umumnya. Yang membuat saya sedikit berkerut, pada saat adegan akhir, kematian Mondego, si anak sempat terlihat bersedih sebentar tapi setelah itu akhir fimm sudah berfokus pada kembalinya kebersamaan mereka.

Hey... bagaimanapun, dia telah membesarkan anak angkatnya yang walaupun dia dapat dengan cara curang, tapi dengan baik sehat dan sejahtera? Dan setidaknya, walaupun didasari ketidak-tahuan, ibunya sendiri yang dengan sukarela menerima lamaran dan mengambil manfaat juga dari si Mondego? Tidakkah ada sedikit keperdulian dari si anak?

Pemikiran tersebut muncul karena beberapa waktu sebelumnya menonton What Price Survival yang meninggalkan kesna tajam dan mendalam. Film produksi HK dengan cerita utama tipikal persaingan antar perguruan, intrik-intrik, balas dendam. Tokoh Utama film itu waktu bayi diambil oleh musuh ayah kandungnya akibat taruhan persaingan antar perguruan. Setelah dewasa, dalam ketidaktahuan, dia membunuh ayah kandungnya atas suruhan ayah angkatnya. Belakangan setelah dia mengetahui sejarah masa lalunya, terjadi pertarungan dengan sang ayah angkat. Inilah saatnya membalaskan dendam penderitaan orang tua kandungnya.

Tapi, apa yg terjadi? si tokoh utama tidak bisa membunuh ayah angkatnya, Dia hanya membutakan matanya. Dan adegan menyayat hati pada klimaks tersbeut, adalah cipratan darah di atas foto yg tersimpan di dompet di ayah angkat, yaitu foto mereka berdua, foto hitam putih, si tokoh utama  saat masih kecil, dengan baju rapih, duduk manis berdampingan dengan ayah angkatnya.

Setelah itu, si tokoh utama  menghukum dirinya sendiri dengan karma potong tangan.

Mungkin hanya satu-dua detik adegan yg memperlihatkan foto tsb, tapi kita jadi tahu, bagaimanapun latar belakangnya, si ayah angkat telah membesarkan si tokoh utama dengan baik dan banyak kenangan masa kecilnya yg berharga. Tidak semudah itu membalas dendam, perasaan itu tidak bisa tedefinisi dalam hitam-putih,
Saat itulah saya menyimpulkan, bahwa ada treatment yang berbeda dengan kasus yg mirip? malah tidakkah lebih baik di kasus Monte Cristo, si anaknya tidak dibuat harus membunuh ayah kandungnya, tap iia menyaksikan ayah kandungnya membunuh ayah angkatnya.

Hanya dengan satu adegan saja bisa memberikan perbedaan pemaknaan dan mungkin pengembangan cerita di kepala masing-masing penonton. Sejak itu saya semakin memperhatikan pola semacam ini,  dalam kasus cerita hubungan ayah-anak laki-laikinya dan beberapa topik lain.

Dalam beberapa bahasan dan ulasan film versi saya di tulisan-tulisan sebelumnya, kadang sudah saya bahas, seperti ketika saat memngkhayalkan perbedaan versi untuk  ending suatu film, kalau dibuat oleh produksi hollywood, bollywood, korea dll.
Rasanya perlu juga merangkumnya karena selentingan pikiran-pikiran ini sudah lama berseliweran di kepala saya. Mungkin bentuknya semacam membuat perbandingan secara umum, walaupun katakanlah data yang didapat belum cukup relevan dan masih dalam proses penambahan, karena hunting dan  pendonlodan film masih akan jalan teruss!!!!




Bersambung kapan-kapan .