Wednesday, December 23, 2009

My Moon Child syndrome

Ternyata film Moon Child bisa mengobati kegaringan yang melanda setelah menonton New Moon dan Ninja Assassin.

Moon Child

Director : Takehisa Zeze
Producer :
Takashi Hirano
Screenwiter :
Gackt Camui,Isuchi Kisyu,Takehisa Zeze
Starring :
Gackt Camui,Hyde,Wang Lee Hom,Zeny Kwok,Taro Yamamoto
Released : 2003


Moon Child adalah film Jepang, artinya di sini aktor Jepang memerankan tokoh orang Jepang, dan aktor Cina memerankan tokoh orang Cina. Ini adalah film jepang, yang jalan ceritanya sulit ditebak dan sulit pula bagi penonton untuk menyusun suatu harapan tertentu mengenai endingnya. Ini adalah film Jepang, yang tanpa dialog pun kita dapat mengetahui perasaan maupun pikiran tokohnya melalui ekspresi wajah, lirikan mata,helaan nafas, maupun sesungging senyum. Ini adalah film Jepang, yang pada dialog-dialog simpel maupun detail-detail tertentu pada gambar dan adegannya bisa berarti sesuatu sehingga tidak boleh dilewatkan. Ini adalah film Jepang, dengan aktor-aktor utamanya merupakan penyanyi populer yang punya gaya super cool atau super norak (tergantung subjektifitas dan dari perspektif mana kita melihat). Ini adalah......tunggu, film Jepang ya? Oh pantes, bukan film Hollywood.

Moon Child adalah film yang serba tanggung. Tanggung sebagai film gangster, tanggung sebagai film vampir, tanggung sebagai film futuristik, tanggung sebagai film kisah cinta.
Yang bisa dikatakan paling berhasil di sini adalah ditampilkannya dua penyanyi populer J-Pop (atau J-Rock? Atau J-whatever??) yang dipuja begitu bnyak penggemar.Merekalah warna utama film ini.

Gackt dan HYDE, yang sudah belasan tahun berkarir dan masing-masing memiliki eksistensi tersendiri di industri musik jepang, kali ini bersama melakukan debut akting di film. Bisa dibayangkan histeria para pengemarnya?

Gackt-HYDE....aaa....awwww!!!!


Tidak kalah penting, di film ini juga ada
Wang Lee Hom, penyanyi/ pemusik Taiwan yang lahir dan besar di Amerika dan sudah belasan tahun juga berkarir sukses jadi idola. Sebelumnya Leehom sendiri sudah pernah bermain di dua (atau tiga) film produksi Hong Kong.

Alexander Wang Lee-Hom


Karena itu lah, dalam hal menonton film Moon Child, bagi yang tidak kenal Gackt dan HYDE, ada beberapa kemungkinan:

a. Tidak akan perduli pada film ini
b.Tidak sengaja menontonnya, tidak suka pada filmnya justru karena melihat dua tokoh tersebut.
c. Tidak sengaja menontonnya, tidak suka pada filmnya, tapi suka pada para pemerannya.
d. Tidak sengaja menontonnya, suka pada filmnya
e. Bonus dari opsi d, berakibat jadi suka pada pemeran tokoh utamanya.
f. Bonus dari opsi c dan e, berakibat jadi suka pada aliran musik mereka
g. Menonton entah sengaja atau tidak, tidak suka baik pada filmnya, maupun pada pemerannya.
h. Menonton karena ada Wang Leehom, dan selanjutnya seperti opsi c-f

Bagi penggemar dari Gackt & HYDE, atau salah satunya, pasti kecil sekali kemungkinan untuk melewatkan film ini dengan sengaja. Dan kecil sekali kemungkinan untuk tidak tergila-gila pada film ini. Dan tidak mungkin tidak akan makin tergila-gila pada idolanya di sini.

Bagi yang tidak suka, atau tepatnya anti atau mungkin juga benci pada keduanya, sangat kecil kemungkinan untuk tertarik menonton film ini, tapi beberapa opsi di atas bisa berlaku juga, atau menontonnya dengan sengaja untuk mengumpulkan bahan menghujat film maupun para pemerannya.


Nah, mari kita melakukan pembahasan yang obyektif.

Seperti yang sudah disebut di atas, film ini serba tanggung dengan banyak “lubang” dalam hal cerita maupun visualisasi. Salah satunya mengenai timeline. Kisah dimulai di tahun 2000 dan berlanjut sampai beberapa puluh tahun kemudian. Namun kita tidak merasa ada perbedaan yang mendasar dengan masa “sekarang”.
Bahkan pakaian pun tidak memiliki keistimewaan (selain mungkin, celana ketat dan jaket "tukang ojeg" yang dipakai Sho??). Kita memang tidak perlu mengharapkan ditampilkannya tahun 2045 dengan gedung-gedung berbentuk kapal luar angkasa, taxi terbang atau mesin teleportasi, telekomunikasi dengan hologram, senjata laser dll. Tapi dengan tidak adanya perbedaan signifikan apabila dibuat waktu aktualnya di jaman sekarang, keterangan setting waktu yang ditampilkan jadi tidak begitu penting selain untuk menghitung umur tokoh-tokohnya. Anggaplah, bagian terakhir film itu di sekitar tahun 2003, berarti film dimulai dengan latar waktu tahun..1958. Atau jangan-jangan justru sutradaranya merasa lebih sulit menampilkan situasi jaman dulu, sehingga memilih alur ke masa depan.

Sebagai film gangster, Moon Child mengangkat konflik antar mafia yang disisipi dasar konflik antar bangsa, konflik sosial dan kepentingan ekonomi di antara masyarakat marjinal yang harus bertahan hidup di suatu daerah fiksi Mallepa, kantung imigran di daratan cina. Film ini juga menyuguhi banyak aksi tembak menembak, dengan koreografi yang cukup menarik dan cukup lucu. Dalam hal ini, Moon Child sedikit mengingatkan pada film Time and Tide. Adalah keahlian sutradara untuk membuat para aktor aksi "amatiran" ini bisa tampak keren saat memegang pistol, berkelahi dan melakukan pose-pose tertentu dengan kostum, model rambut dan make-up yang tetap "gaya". Sayangnya, ada beberapa adegan yang konyol sebetulnya tidak penting untuk tetap ditampilkan, dan beberapa aksi yang janggal hanya bisa kita maafkan.

Siapa yang lebih ganteng?


Sebagai film vampir, ada sedikit cipratan-cipratan film Interview with The Vampire, yaitu dalam hal hubungan antar tokoh dan dialog ala vampirnya. Sedikit suasana surealis pun ada, juga aksi vampir dengan "kesaktian" yang cukup kita kenal: bisa terbang, atau loncat sangat tinggi, bergerak sangat cepat, dan punya daya pulih untuk tiap luka sehingga hanya bisa mati dengan cara-cara tertentu… yang kita juga sudah tahu.

Gambar ini memang mencurigakan. Tapi ini adalah
gambar dari salah satu adegan yang penting
dan berkesan di film ini.


Sebagai kisah cinta dan persahabatan, film ini cukup menyentuh dengan cinta segitiga dan konflik antar sahabat. Status vampir pun menjadi aspek penting (untunglah, tanpa kisah macam di seri Twilight). Kita temukan juga konflik antar saudara yang sayangnya tidak cukup tereksplor di sini. Hampir kumplit, mirip kisah drama tragis Korea.

Gackt, HYDE dan Wang Lee Hom, juga para pemeran lainnya tampil sesuai kapasitas masing-masing.
HYDE sebagai Kei, Vampir dengar umur jauh lebih tua dibanding tampilan fisiknya, memang tidak sekeren dan sekharismatik Lestat, maupun Count Dracula. Tapi cukup untuk karakter Kei. Cukup suram, cukup menyedihkan.
Gackt yang memerankan Shou, anak yang sejak kecil bersahabat dan tumbuh bersama Kei, cukup mampu menampilkan perkembangan karakternya, sehingga kita akan bisa memaafkan make-up wajahnya, dan pilihan fashionnya. Taro Yamamoto sebagai Toshi, sahabat Sho dari kecil tampil memikat dan menyeimbangkan keberadaan para tokoh idola walau porsi perannya tidak begitu banyak. Wang Lee Hom sebagai Son, pemuda asal taiwan yang dibawa jalan nasib bergabung dengan geng Kei & Sho tampil tak kalah memikat. Sayangnya tidak cukup banyak adegan untuk mengeksplorasi konflik yang dialami Son mengenai pilihan-pilihan hidupnya. Zeny Kwok sebagai Yi Che, adik Son merupakan pemanis yang tepat tanpa bicara, cukup dengan melamun, menatap dan tersenyum. Memang karakternya tak perlu dieksplor lebih jauh.

Yi Che-Kei-Sho-Son-Toshi

Sebagai suatu rangkaian adegan, rangkaian gambar, rangkaian aksi dan dialog, berbumbu musik, Moon Child menjadi suatu karya yang unik dengan caranya sendiri. Kita bisa menikmatinya sebagai film yang tidak tampak ambisius dengan big budget, tapi berhasil membuat momen-momen yang kuat dan memikat. Keterbatasan visual film ini termaafkan dengan muatan cerita yang cukup padat dan walau tidak terlalu mendalam, bukan berarti tanpa pesan. Sementara kejanggalan-kejanggalan dari cerita termaafkan dengan penampilan para aktornya.

Bisa dikatakan, justru karena tidak seberat dan tak mrncaapai surealisme seperti film Interview with the Vampire, maka hubungan antar tokohnya terasa lebih dekat dengan kita-dengan kemanusiaan dibandingkan dengan, dalam hal ini, Lestat - Louis - Armand - Claudia. Karena tidak semengharu-biru film drama Korea, maka konflik percintaannya itu jadi cukup. Tidak mengambil porsi yang besar, tapi terasa pengaruhnya. Konflik antar mafianya pun cukup jelas dan dilematis, tanpa perlu ditampilkan sekompleks film mafia Hong Kong.

Segala hal tanggung yang terdapat di film Moon Child ternyata menjadi resep yang pas dan bisa membuatnya menjadi tontonan yang menarik, menghibur, mengharukan, walau tidak membuat kita berpikir dan memaknai film ini lebih mendalam.

Jaket putihnya mungkin sudah dikapalkan bersama kontainer baju bekas ke Indonesia,
dan dipakai oleh salah satu vokalis band di Indonesia
yang menggunakan angka 12 di nama bandnya.

Jaket merahnya...aku mauuuu


sambalado's Trivia:

Moon Child Syndrom II


Monday, December 14, 2009

My list of 10 favourite Hong Kong movies released during the years 2000-2009

Movies I voted for LoveHKfilm.com list of Top 50 Hong Kong Films of the Decade.

1. 2046
2. Time and Tide
3. Infernal Affairs
4. In The Mood for Love
5. Lust, Caution
6. Curse of the Golden Flower
7. Ashes of Time Redux
8. The Eye
9. Shaolin Soccer
10.Crouching Tiger Hidden Dragon

This poll is for Hongkong movies, with some criterias from the voting organizer. Ang Lee's & Zhang Yimou's on this list already pass the criterias. Also Ashes of Time Redux, which original version was produced on 1994.
So In this list I have one Tsui Hark's, three WKW's, two Ang Lee's, One Stephen Chow's, One Pang Bros, one Andrew Lau's, one Zhang Yimou's.

Addendum: I should have put Hero in number 6 and Chinese Odissey 2002 in number 10. Redux & Crouching Tiger will be sadly removed from this top ten. But still in top fifteen perhaps.. Hmm I should make my top 25 or top 50 for Chinese movies, so all Zhang Yimou's (except House of flying dagger) will make to the list.

You can check the complete result as republished here

Sunday, November 22, 2009

P C


Saya tidak menggunakan panggilan"Dek" padahal dia jelas terlihat lebih muda, juga tidak dengan "Kang" atau "Aa" walau kemungkinan besar dia orang setempat, alias orang sunda . Saya tidak tahu siapa namanya, seorang petugas di toko buku diskon terkenal di Bandung.
Menggunakan panggilan "Mas' pada siapa saja walau sering terasa janggal, sepertinya tetap paling aman.

"Mas, ada majalah PC Media?"

Saya yakin majalah itu dijual di situ, dan pasti ditempatkan bersama majalah-majalah yang lain, tapi saya tidak 'ngeh di bagian mana rak majalah dalam toko tsb. Saya pikir minta saja agar ditunjukkan petugas sekalian dicarikan kalau mungkin tak terlihat karena tertumpuk2 atau terselip atau kurang menonjol tampilannya di antara majalah2 lain..

Si 'Mas' ini sedang berada di depan komputer katalog setelah melayani pengunjung yang lain. Dia langsung pasang ancang mau mengetik judul yang saya sebutkan di komputer, hal yang tidak perlu karena yang saya cari adalah majalah yang cukup umum dan seharusnya dia pun tahu keberadaannya.
Tapi itikad baiknya itu saya biarkan saja.

Dia mulai mengetik

V - I - S - I

"PC Media mas.."

V - I -

"PC Media, Pi-Si.. Pe-Ce.."

V - E -

"Pe Ce"

V

"Pe Ce! Pe! Pe! "

V

"PPPe CCCCe!! PPPe!!! Peeeeeeeeeee!!!

V.. "Oooohhh"
Barulah dia tersadar dan mengetik PC Media


"Ada"
"Iya, ada di mana?"
"Di bagian majalah"
"Ya mana bagian majalahnya?"
Lalu dia tunjukkan

Bagaimanapun harus berterimakasih atas bantuannya. Dan walaupun malah menambah pengeluaran energi, tapi dapet hiburan juga.

Do I look sundanese to you?



Thursday, September 10, 2009

96th anniversary

Vaslav Nijinsky & Romola de Pulszky's Wedding






Wednesday, September 09, 2009

Frame Keren III

Edisi: A Troubled man

Urut kening-gosok mata




Manyun



Manyun bari ngeroko


Frame Keren I
Frame Keren II



Tuesday, August 11, 2009

Little Maiden & Little Bird

Little bird little bird, come to me
I have a clean cage already for thee
Many bright flowers I'll bring anew
And fresh ripe cherries, all wet with dew

Thanks little maiden, for all thy care
But I dearly love the clear, cool air
And my snug little nest in the old oak tree
Is better than golden cage for me

Little bird, little bird, where wilt thou go?
When all the fields are buried with snow?
The ice will cover the old oak tree
Little bird, little bird, stay with me!

Ah nay little maiden, away I will fly
To greener fields and warmer sky
When Spring comes back with cheerful rain
My joyful song you will hear again

Little bird, little bird, who will guide thee?
Over the hills and over the sea?
Foolish one, come with me to stay
If you don’t, I’m sure you’ll lose your way

No little maiden, God guides me
Over the hills and over the sea
He made me free as the morning air
To drink sunshine everywhere


This is a poem my mother used to recite for us (my sister and I) when we were little girls. She memorized it from a certain book she had when she was a little girl herself. Since years ago I google many times for this poem, but failed to find it.

To my surprise, with some combination of keywords, eventually Uncle Google showed me some versions of the poem which is also a nursery rhymes. I also found that maybe there is no "original version" since I don't know which one is the most reliable version.
So I stick to my mother's memory with some adjustment.




Friday, August 07, 2009

Apakah ini sesi memadu?

Sesi memadu 1:

Tetesan embun di pucuk kenangan
kutampung dalam genggaman
Kabut yang kaburkan pandangan
kini mengalir jadi gelombang


Sesi memadu 2:

Aku rindu Pengeran Senja
Warnanya merah lembayung jingga
Datang bersama angin, pergi bersama hujan
membawa aku melambung angan

Sesi memadu 3:


I miss the colours of sunset as I miss you
I miss the colours of the ocean as I remember you

I miss the thousand greens that you showed me
Untill one day maybe we'll meet again


Friday, May 22, 2009

Kisah cinta a la Serial Cantik


Serial Cantik adalah label yang dicantumkan ELex Media Komputindo untuk komik jepang satu jilid yang diperuntukkan bagi pembaca remaja putri. Umumnya, sekali lagi: umumnya, karena tidak semuanya, tokoh utamanya adalah siswi sekolah menegah dengan tema seputar kehidupan dan kisah cinta di sekolah.
Bacaan yang ringan, bahkan sampai menyebalkan untuk dibaca karena begitu ringannya.

Dalam konteks tulisan ini, istilah "Serial Cantik" saya pakai tidak khusus untuk komik yang hanya satu jilid, tapi juga termasuk judul-judul yang tersusun dari beberapa jilid, dengan tema sejenis. Bukan jenis bacaan favorit saya, tapi banyak yang terbaca juga karena untuk iseng mengisi waktu, atau sekedar ingin tahu.

Sebetulnya secara umum komik jepang dengan sasaran pembaca remaja putri atau wanita muda memang banyak yang memiliki pola dasar kisah cinta yang mirip, walau ada yang memiliki tema lebih menarik, kompleksitas lebih tinggi sampai sangat tinggi, dan cerita yang lebih bermutu.

Berikut ini kisah cinta a la serial cantik hasil analisa saya selama "tumbuh bersama komik jepang":

Tokoh utamanya adalah gadis remaja. Dia punya seorang kecengan, seorang cowok yang super kuerren dan beken (selanjutnya kita sebut co-1), biasanya tokoh ini tenar akibat kegantengan, prestasinya, dan sikapnya yang super cool.. atau bisa juga justru tipe tukang tebar pesona, alias rada playboy. Yang pasti tentunya membuat banyak cewek yang penasaran.

Si tokoh utama, biasanya merupakan cewek biasa biasa saja, tidak begitu cantik, tidak berprestasi, tapi punya karakter yang unik dan polos. Dia sering merasa minder karena si cowok idamannya itu digemari para cewek populer di sekolah.

Si tokoh utama punya seorang teman baik cowok.Mungkin teman satu kelas atau satu ekskul (selanjutnya kita sebut co-2). Bukan tipe yang tenar dan banyak penggemar. Tapi dia karakter yang menyenangkan,baik dan tulus. Co2 jadi teman dekat si cewek.
Gampang sekali ditebak ya, ke mana ara ceritahnya: kisah cinta segitiga (Atau segi empat, segi lima, tapi untuk menyederhanakan pembahasan, kita tidak melibatkan tokoh lain selain ketiga tokoh
utama ini).

Si cewek biasanya tidak menyadari akan perasaan si co-2 ini karena terlalu sibuk memikirkan cowok pertama. (Atau pura pura tidak perduli..).
Pembaca bisa dibuat simpati terhadap kedua tokoh cowok itu. Sampai sampai ikutan bingung dan penasaran: "Aww.. co-1 dingin sekali,sikapnya misterius..bikin penasaran,, tapi keren yaa.. mungkin gak ya dia suka pada si tokoh cewe?"
"Aaww..si co-2 baeek banget..udah so sweet gitu koq si cewe gak milih dia aja yaa??"

Di akhir cerita, "boga lakon never jomblo" alias dia kudu jadian dengan salah satu, setelah terjadi masa kebimbangan. co-1 yang misterius super cool itu biasanya belakangan berubah menunjukkan dia ternyata suka juga ke si cewek. Sikap dingin bahkan kadang agak antisosialnya itu biasanya terbentuk karena dia punya masa lalu yang suram atau masalah keluarga. Untuk tipe yang tebar pesona, biasanya belakangan dia mulai membuktikan betapa si cewek yang sederhana itulah yang dia anggap spesial.
Bingunglah si cewek ketika keduanya sudah "nyatain".

Penyelesaiannya, ada dua macam.
Alternatif 1: si cewek sudah sempat atau baru bermaksud menerima si co-2 yang sudah begitu setia dan banyak berkorban. Tapi ketika si co-1 juga telah berubah dan membuktikan cintanya, si cewek menyadari bahwa persahabatan dan cinta itu berbeda. Co-2 hanya bisa dia anggap sebagai sahabat, dan cintanya teteup pada si co-1 yang keren.

Alternatif 2: ketika co-1 sudah berubah dan menunjukkan perhatiannya,kondisi sudah terlambat karena si cewek udah kepincut oleh co-2 yang baek hati itu, alias menyadari ternyata cinta yang selama ini dia cari sudah ada di dekatnya cieehh..

Satu penyelesaian yang ekstrim dan aneh bisa ditemukan di salah satu komik Mari-Chan--entah seri yang mana.
Si tokoh utamanya, Mari, terjebak kebimbangan memilih dua cowok.Kayaknya sussah banget dehh entah apa saja yang dia pertimbangkan. lalu pembuktian cintanya terjadi ketika (entah ada yang sengaja untuk membantu Mari memilih , atau murni kecelakaan --saya lupa) sebuah guci bessuarrr jatuh dan hampir menimpa kedua cowok yang sedang berdiri bersebelahan di depan tempat guci tersebut terpajang.
Kalimat yang menyertai adegan tersebut kira kira begini: '... dan saat itu, Mari telah memilih..'
Mari secara spontan berusaha menyelamatkan salah satu dengan secara heroik mendorongnya ke tempat yang aman. Yang satu lagi? berhasil menyelamatkan diri sendiri. Dengan demikian, terbukti yang paling dicintai Mari adalah yang secara tidak sadar dia selamatkan dari guci laknat tersebut.

Adegan yang menyebalkan, komik yang menyebalkan. Saya tidak ingat dan tidak perduli bagian-bagian lain ceritanya apa, tapi adegan tersebut tetap tersimpan di kepala saya. Karena saat itu saya sempat berpikir. "Wow, kalau terjadi pada diriku, bingung milih dua orang, haruskah ada guci yang jatoh dulu untuk memutuskan??"
Dodol sekali.

Wednesday, May 13, 2009

Créer

Diantara berkas berkas lama, saya menemukan catatan yang berisi latihan menulis di CCF dengan soal yang paling aneh. Kami waktu itu ditugaskan membuat tulisan khayalan tentang kejadian penciptaan manusia. Secara grammaire, latihan ini untuk memahami penggunaan kata kerja dalam pembuatan kalimat khayalan atau pengandaian dari hal di kala lampau. Di lembaran soalnya terdapat pertanyaan pertanyaan untuk panduan,dan tulisan akan tersusun berdasarkan jawaban kami dari pertanyaan pertanyaan tersebut.

Bagi saya sulit sekali, jangankan dalam bahasa perancis, dalam bahasa indonesia pun kita tidak boleh menuliskannya asal, berdasarkan khayalan mengandai-andai, karena kita percaya apa yang sudah tertulis untuk kita percayai.
Apalagi, dalam latihan ini saya tidak bisa, apalagi berani membayangkan hal-hal yang ditanyakan itu, karena bukan kapasitas kita, manusia, untuk menebak-nebak apa yang dipikirkan, dipertimbangkan dan dirasakan Tuhan saat mencipta....n'est-ce pas?

Tapi, namanya juga latihan, jadi kata Bu guru, yang penting coba menyusun kalimatnya dengan grammaire yang benar. Bahkan memang lebih bisa dibuat dalam bahasa prancis karena dari pola kalimatnya bisa diketahui bahwa ini tulisan khayalan. Sementara kalau diterjemahkan ke bahasa indonesia bisa diinterpretasikan sebagai tulisan sok tahu, atau mungkin lebih parah.
Jadi saya coba juga:

Dieu a créé le premier homme et la première femme un samedi à midi. Il faisait beau, parce qu'il fait beau toujours au paradis.

Dieu était de bon humeur et dans le meilleur état d'esprit.
Dieu n'hésitait pas, Il savait que ses nouvelles creations étaient spéciales

L'événement se passait dans le centre du paradis à côté d'un lac.

Il avait un plan bien établi pour tous les creatures.

Pendek sekali dan tidak begitu nyambung antar kalimat :p , karena tidak semua pertanyaan di lembar soal bisa saya karang jawabannya. Teman teman yang pernah melewati latihan ini juga, mungkin punya versi lebih bagus yah....




Thursday, April 16, 2009

Wednesday, March 04, 2009

80


Tadi siang di tengah teriknya matahari Bandung, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan sepasang muda mudi. Entah bagaimana, mereka mengambil posisi di bawah lampu merah untuk mengobrol, sambil memegang megang tiang lampu merah tersebut, merasa seperti syuting film india mungkin . Saya atau siapapun yang kebetulan sedang menunggu saat untuk menyeberang pastinya mendengar dialog mereka:

co: "Kelahiran tahun berapa?"
oh.. mereka baru kenalan nih? sebenernya aneh juga melakukan obrolan pdkt di bawah naungan lampu merah di persimpangan jalan yang ramainya minta ampun di siang bolong begini.

Ce: "delapan puluh" lalu dia tertawa dengan nada 'ya gak mungkin lah, gila aja keleeeee.. mit amiiittttt'
Saya jadi agak melirik, memang tidak mungkin dengan gaya gaul mahasiswa jaman sekarang dan tampang si cewe itu yang masih culun culun genit, kalau dia seumur denganku. Si cowo sih agak pas-pasan mukanya.

Co: "masa?"
Wah ternyata si cowo rada mempertimbangkan juga jawaban tadi

Ce: "Ngaaak lah, delapan sembilan koq. Aku kan angk 2007"
sepertinya dia sempet agak panik karena disangka betul kelahiran tahun delapan puluh??

Masalah saya di sini jelas: Emang kenapa dengan kelahiran tahun delapan puluh? HAh? Hah???? haahh???

Wednesday, February 11, 2009

The night is too Bright


I need DARKNESS to be my guide

for I get lost in this BLINDING LIGHTS


Lestat de Lioncourt: They make nights brighter than days

Tasya: Jangan takut akan gelap, karna gelap melindungi diri kita dari kelelahan

Lord Of The Ring:
Three Rings for the Elven-Kings under the sky,
Seven for Dwarf-lords in their hall of stone,
Nine for Mortal Men doomed to die,
One for the Dark Lord on his dark throne
In the land of Mordor where the Shadows lie

One Ring to rule them all, One Ring to find them,
One Ring to bring them and all in the darkness bind them
In the land of Mordor where the Shadows lie


Saturday, January 31, 2009

Paganteng-ganteng a la Hollywood


Mengingat kembali, di film Interview with The Vampire, Louis (Brad Pitt) secara tidak langsung "diperebutkan" oleh Lestat (Tom Cruise) dan Armand (Antonio Banderas). Rada geleuh juga, kaya homo. Tapi alasannya, mereka sebagai vampir membutuhkan teman untuk bertahan hidup abadi di dunia yang terus berubah, dan mereka merasa membutuhkan Louis. Begitu kira-kira.

Saya mencapture gambar ini setelah menonton ulang filmnya dari koleksi DVD b**j*k*n di rumah. Cuma ingin mengenang kembali dua hal penting bahwa:
Tom Cruise adalah Vampire paling ganteng di dunia.
Seganteng-gantengnya Tom Cruise, paling ganteng adalah waktu dia jadi vampire


Interview With The Vampire adalah salah satu film yang tak telupakan dan sangat saya suka. Film yang unik, dan bisa membuat saya menontonnya beberapa kali tanpa bosan. Tapi mau dibilang termasuk kriteria "weirdly romantic, humanly touching and mind twisting story"??? bingung juga. Romantis? nggak banget. Secara complicated relationship antara Louis & Lestat? yeuuuhhhh...Humanly touching? jelas-jelas bukan tentang manusia. Semua kejadian dan karakter rasanya surealis, aneh. Melayang tidak membumi dan jelas tidak masuk di logika saya. Apa yah istilahnya? "vampirely touching" mungkin...Menyentuh, tapi tidak secara humaniora. Mind twisting sih iya. Membuat setress, pusing bingung dan geregetan.

Bram Stoker's Dracula (by Francis Ford Coppola), Mary Shelley's Frankenstein (by Kenneth Branagh),
dan Interview with the Vampire (by Neil Jordan), adalah tiga judul legendaris dari genre horor barat yang dijadikan film dan sangat saya suka. Yang paling bisa dibilang horor sebetulnya adalah Bram Stoker's Dracula, tapi yang ini paling romantis. Yang paling manusiawi adalah Mary Shelley's Frankenstein. Sangat menyentuh, tragis menyakitkan eweuh serem-seremna acan. Kalau Interiew...ya itu lah, membingungkan dan menjadi sangat unik apalagi karena ditulis di era yang jauh berbeda dari yang dua lagi.

Adapun buku-bukunya Anne Rice The Vampire Chronicles, kapan-kapan akan saya baca deh, kalau nemu ajah.



Thursday, January 22, 2009

Mimpi lagi lagi


Tadi malam saya mimpi buaya. Ceritanya di suatu tempat ada mitos bahwa dulu ada buaya yang sangat besar menghuni daerah tersebut. Bukan tempat yang jauh, rasanya dekat-dekat tempat tinggal saya. Di lokasi tersebut ada coakan tanah berbentuk buaya besar. Di dalamnya ada beberapa buaya berukuran normal. Konon, buaya yang jaman dulu sebesar coakan tanah tersebut. Coakan itu dibuat untuk mengenang buaya besar nenek moyang buaya-buaya kecil yang sekarang berada di dalamnya.

Mimpin tersebut jadi semakin aneh. Karena lalu saya berkonsultasi dengan Tuk Bayan Tula. Bagaimana sosok ini
ujug-ujug muncul, kurang mengerti juga. Rasanya belakangan ini saya tidak sedang memikirkan Laskar pelangi atau Maryamah Karpov cs. Menurut Tuk, memang masuk akal kalau jaman dulu ada buaya sebesar itu di tempat ini. Lalu dia menunjukkan buku referensinya. Entah buku apa. Halah, sejak kapan tokoh ini jadi ilmiah begitu yah?
Bangun pagi dalam keadaan mengingat mimpi-mimpi aneh sangat melelahkan.

Satu atau dua malam sebelumnya, sekitar Selasa malam, saya mimpi hendak berangkat perjalanan pertama AM JAMADAGNI. Acara ini sebenarnya berlangsung malam minggu sebelumnya yang tidak saya ikuti. Dalam mimpi, ceritanya saya hendak berangkat bersama AM
yang juga tidak ikut dan harus melakukan perjalanan susulan. Seperti biasa saya mulai pusing dengan persiapan barang-barang yang harus dibawa. Bertahun-tahun dihantui kekhawatiran ketidak lengkapan peralatan yang akan membahayakan, dan ketakutan terlambat siap dan akan ditinggalkan.
Saya bangun di pagi hari dengan rasa lelah.

Beberapa malam sebelumnya, LAGI LAGI untuk KESEKIAN PULUH KALINYA saya mimpi kembali ke sekolah, dan akan mengahadapi ulangan matematika. Sejak saya merumuskan mimpi-mimpi yang sering terulang dalam tidurku itu, masih berkali-kali lagi saya bermimpi kembali ke sekolah. Dan semakin spesifik, yaitu dalam kekhawatiran akan menghadapi pelajaran atau ulangan matematika.

Mungkin mimpi memang ada artinya. Mungkin menurut mimpi mimpi yang berulang itu, sudah saatnya saya kembali bersekolah. Padahal saya tidak begitu berminat untuk sekolah lagi, selain kalau bisa, sekolah gratis di luar negeri untuk nambah pengalaman jalan jalan dan koleksi foto-foto gaya.
Saya tidak punya niatan mulia untuk sekolah lagi, menambah ilmu, memajukan dan menaikkan martabat bangsa, dan membagi ilmu yang saya dapat nantinya. Belum ada niat itu. Masih males.

Tapi yang paling melelahkan adalah kalau pekerjaan terbawa bawa mimpi. Sudah begitu suntuk, panik dan nyaris stressnya dari pagi sampai malam menghadapi pekerjaan yang menyebalkan, saat tidur pun aku mimpi dalam suasana sedang bekerja.
Bangun pagi....Uhh masih harus melanjutkannya.

Jadi kalau tadi malam saya mimpi buaya, berarti saya sedang tidak terlalu suntuk dengan pekerjaan. Syukurlah.





Wednesday, January 14, 2009

Twilight: Ga ada cowo lebih ganteng apa?



Asalnya samaa sekali tidak ada niat, bahkan tidak perduli ada film ini. Cuma gara-gara ada temannya Kanti yang membahas film tersebut sehingga tergambar betapa konyolnya, kami jadi penasaran juga. Setelah berminggu-minggu suntuk dengan pekerjaan dan berbagai masalah, rasanya ingin menonton film yang enteng yang sepertinya bisa jadi bahan tertawaan, bukan karena film tersebut film komedi. Bahkan sebetulnya film ini terlalu tidak pantas buat saya bahas, tapi gemes juga pengen mencaci hehe...

Twilight memang film remaja banget. Cuma tentang cinta monyet anak SMA. Tapi berhubung jatuh cintanya pada
vampire, jadilah acara keceng mengeceng berkembang menjadi kisah "cinta terlarang" yang sepertinya bakal tragis. Sayangnya, si cowo yang konon super ganteng, sok cool, sok misterius dan sok heroik itu sama sekali tidak pantas dianggap "keren. Dan jadilah film ini bahan tertawaan kami.

Sepulangnya dari bioskop, Kanti langsung konfirmasi ke novelnya, pinjam dari sepupu lalu mendonlod berbagai edisi bajakan sequelnya sampai lengkap. Memang dia itu tahan, jangankan seri Twilight, komik Hana Yori Dango (Meteor garden) saja lengkap dibacanya sampai sinetron versi Taiwan, Jepang, edisi bioskopnya juga lengkap dia tonton. Walau alasannya cuma ingin mempelajari agar dapat mengkritiknya, curiganya terhanyut juga dia hehe...

Kembali ke si Twilight ini, setelah saya baca sebagian bukunya (belum selesai sih) menurut saya bukunya tidak "jauh lebih bagus" daripada filmnya seperti yang biasanya terjadi pada buku yang diadaptasikan ke film. Maksudnya, novel ini isinya memang tidak begitu penting. Tapi sebetulnya walupun isi ceritanya enteng, ada kesempatan memvisualisasikannya menjadi keren di film. Kalau saja si Edward Cullen bisa dibuat tidak terlalu tampak seperti banci, dan berbagai suasana yang seharusnya muncul bisa terbangun dengan baik. Adegan yang seharusnya romantis koq malah tampak
stupid, semua gombalan terdengar basi, tidak ada greget sama sekali. Suasana misteriusnya juga tidak terlalu mencekam. Ketika Edward menunjukkan "kekuatan aslinya" pada Bella pun sama sekali tidak tampak hebat,mengagumkan ataupun mendebarkan.

Kalau masalah ganteng mungkin subjektif. Tapi kegantengan itu bukan fisik semata.
Tom Cruise jelas vampire paling ganteng sedunia. Tapi Gary Oldman yang bukan tipe "CUAKHEEEEEPPPP" justru bisa tampil begitu memesona
sebagai Count Dracula, gombalnya pun gak sembarangan. Sayang sekali di film Twilight Robert Pattinson yang cocoknya jadi anggota boyband, dengan idung dan mulut tidak proporsional dengan mukanya, tidak bisa menampilkan kharisma kegantengan yang "rada pantes".




Vladislav Dracul & Wilhelmina





Wednesday, January 07, 2009