Wednesday, April 11, 2007

Paganteng-ganteng


Frame keren dari Infernal Affairs
















Sekilas Reviewnya



Tuesday, April 10, 2007

Bunga Emas yang Berdarah

Man cheng jin dai huang jin jia

Directed by
Yimou Zhang

Writing credits
(in alphabetical order)

Yu Cao (play)
Yimou Zhang

Cast (in credits order)
Yun-Fat Chow ... Emperor Ping
Li Gong ... Empress Phoenix

Jay Chou ... Prince Jai
Ye Liu ... Crown Prince Wan

Original Music
Shigeru Umebayashi


Percekcokan dalam rumah tangga bisa berujung pada jatuhnya korban belasan ribu orang. Hal itu mungkin terjadi, ketika yang terlibat pada konflik itu adalah keluarga kerjaan dari sebuah dinasti yang sedang berada pada puncak kejayaannya. Dan huru-hara pun terjadi dalam film Curse of The Golden Flower, kisah rumah tangga pada pucuk pimpinan kekaisaran Cina pada suatu masa...

Seorang permaisuri yang keadaan kesehatannya semakin buruk hari kehari, berusaha untuk melawan suaminya, sang kaisar, yang merupakan penyebab kondisinya. Sang permaisuri tanpa daya karena hidupnya terjebak dalam seremonial istana. Namun, ia masih dapat menemukan jalan yang sangat ekstrim untuk melawan. Akibatnya, bukan hanya anak-anak mereka yang terlibat dan menjadi korban. Konflik keluarga, yang juga ditumpangi kepentingan politik dan cinta ini memakan terlalu banyak tumbal.

Entah masalah yang mana sebetulnya yang menjadi asal muasal, semua hal seolah menjadi sebab-akibat yang saling beruntun bertubi. Para tokoh dengan dosanya masing-masing, dan masa lalu pun datang membawa dendam.

Kerukunan keluarga kaisar yang sering ditampilkan untuk menjadi contoh bagi rakyatnya hanya topeng belaka. Situasi seperti itu memang bukan hal yang aneh dalam kenyatan sehari-hari sampai masa kini, di keluarga suatu kerajaan maupun di tengah masyarakat. Dalam film ini, perang dingin antar kedua tokoh sentral semakin membakar, adu taktik dan adu kekuatan bergerilya menanti klimaks. Chong Yang Festival pun menjadi momen untuk penyelesaian. Festival yang seharusnya menyimbolkan kerukunan keluarga dengan nilai-nilai luhur, justru berada dalam keadaan yang sebaliknya.

Dalam kemegahahan kolosal film ini, kita hanya mengenal dua keluarga. Keluarga inti kekaisaran, dan keluarga tabib kerajaan --yang memang punya peran cukup besar dalam perseteruan ini, sehingga juga ikut menanggung nasib sial. Selebihnya, hanyalah figuran atau CGI. Kita tidak perlu tahu siapa saja yang gugur di halaman istana, siapa menangisi siapa di luar sana.

Di antara kilauan emas kostum maupun dekorasi istana, yang paling berkilau adalah Gong Li dan Chouw Yun Fat. Bobot akting mereka sepadan membuktikan kualitas sebagai aktor senior. Walaupun kisah dalam film CoTGF mirip-mirip telenovela, penuh melodrama, atau setidaknya tipikal sinetron asia yang penuh intrik dan dilema, semua masalah seolah terungkap dalam ekspresi kedua tokoh. Ekspresi mereka dapat mengungkapkan jutaan kata.


Tak perlu bertele-tele curhat, air mata sang permaisuri dan senyum sinis sang kaisar dapat menggambarkan apa yang sedang mereka pikirkan, masa lalu, masa kini dan masa depan yang terbayang. Kita tak hanya melihat seorang kaisar yang keras dan berkuasa, bijaksana sekaligus penuh tipu daya, namun dalam situasi yang tak terduga ia juga bisa terlihat penuh kasih sayang dan rapuh. Sementara Gong Li menampilkan permaisuri yang memendam dendam, berwibawa dan keras kepala namun menjadi tak berdaya dalam kungkungan patriarki.


Tidak sekedar melodrama, CoTGF juga merupakan film action dengan koreografi menawan, disertai dekorasi dan kostum warna-warni bersulam emas, jajaran korps dayang-dayang, kasim, dan berbagai kelompok perangkat istana yang ramai memenuhi kompleks Istana Terlarang. CoTGF Memenuhi semua persyaratan film yang megah dan mahal. Namun, semua itu tak sepenting akting kedua tokoh sentral.


Zhang Yimou dan kreatifitasnya, menghadirkan karya unik dengan perspektif baru melalui Reuninya dengan Gong Li kali ini.