Showing posts with label My Favourite VF's. Show all posts
Showing posts with label My Favourite VF's. Show all posts

Sunday, April 25, 2010

Impresario's Decision

While immortalized in numerous still photographs, no film exists of Nijinsky dancing. Diaghilev never allowed the Ballets Russes to be filmed. He felt that the quality of film at the time could never capture the artistry of his dancers and that the reputation of the company would suffer if people saw it only in short jerky films.
(www.russianballethistory.com)

They are now the creatures of Lord Morpheus and continue to live and perform their beauty in his realm.


You are the spirit, you are the perfume
You are the shadow that waltz around my dream

Monday, January 21, 2008

V

for


VIKING


Bukan Viking bobotoh Persib. Tulisan ini mengenai tontonan terbaru saya di bioskop:


Beowulf


Yang membuat saya tertarik menontonnya, pertama:
Beowulf tokoh pahlawan Viking dari dongeng kepahlawanan Eropa kuno yang menginspirasi atau menjadi referensi utama novel Eaters of The Dead, atau yang setelah difilmkan judulnya menjadi "The13th Warrior". Sebetulnya lebih tepatnya, T13thW adalah versinya Michael Crichton dari epik Beowulf yang aslinya penuh dengan mitos mistis, menjadi "scientific", dan lebih bisa dipahami secara logika. Saya pribadi sangat menyukai T13thW, baik film maupun novelnya (terlepas dari perbandingan ini-itu antara keduanya).

kedua: Neil Gaiman berperan sebagai salah satu penulis naskahnya (lagi nge-fans berat ke Sandmannya sih) .


ketiga: Film ini produksi salah satu jaringan mafia film di Hollywood dengan kecanggihan teknologi yang tak diragukan lagi. Mungkin bisa menghibur mata..??


Selama menontonnya, saya benar2 terbawa suasana! tegang, lucu, sampai merasa gemaaasssss saking sukanya pada film ini walaupun saat itu belum menonton sampai selesai!!! Beberapa aspek sebetulnya cukup tertebak, tapi kekuatan plot ceritanya memberi permainan emosi yang sangat terasa. Tetap ada kejutan-kejutan full action sampai akhir film.


Kisah Beowulf yang telah "diacak-acak" oleh para penulis skenario di film ini, memberikan sudut pandang yang sangat "menyegarkan" tentang sosok sang pahlawan. Membuktikan bahwa kisah apapun, mulai dari mitos, legenda sampai sejarah pun, sangat tergantung dari para penulisnya dan selalu ada sisi/ bagian yang tidak tertuliskan, yang mungkin tak kan pernah kita tahu. Mungkin itu adalah hal yang kita memang seharusnya tahu atau justru tidak perlu tahu.


Yang pasti, "It's the mistery that lingers" (kutipan dari kutipan dari kutipan)


Yang menyebalkan dari film ini adalah para aktornya, karena merupakan model CGI dari aktor-aktor sebenarnya yang hanya menyumbang suara. Ekspresi manusia yang ditampilkan seorang aktor asli manusia, tidak akan pernah bisa diciptakan kembali oleh manusia untuk ditampilkan oleh sesosok model dari dunia komputer. Tapi bagaimanapun, karakterisasi para tokohnya tetap kuat walau dengan ekspresi wajah yang datar.. ditambah lagi dengan renderan pemandangan, tekstur setiap permukaan yang tampak alami, dinamika kamera dan musik yang... huaduh, hagus hanget.. dan sekali lagi, berkat kekuatan ceritanya, semua termaafkan. Beberapa hal yang tidak jelas atau membingungkan... tetaplah menjadi misteri.

Mantapp.. film Hollywood yang benar2 menghibur saya nih!!


Pesan: Ini Film UNTUK DEWASA. tapi ternyata banyak juga anak kecil yang menontonnya. Bukan karena bokep yah, tapi karena banyak adegan sadisnya.
Hmm mungkin UNTUK REMAJA juga bisa sih. Ah tapi saya tidak mengerti juga tingkatan anak-anak sekarang dan pertimbangan-pertimbangannya LSF.
Yang pasti, jangan kira semua cerita dongeng, fairy tales, komik dan film animasi itu cocok untuk anak-anak.


December 02, 2007 | Permalink

Thursday, February 15, 2007

Untuk Namamu yang Indah

(Madu lageee madu lagee!!)

Waktu SMA, saya sempat beranggapan bahwa nama semua kecengan saya harus berunsur huruf "R". Sampai-sampai jadi rumus yang rada dipaksakan, walau sekedar nama panggilan atau nama belakang, bahkan nama bapaknya pun jadi!

Masa-masa dan teori gak penting itu memudar sendiri, sementara sebuah nama yang bertahun-tahun terus mengiang tetap melekat di hati dan pikiran: Vaslav Fomitch Nijinsky. Karena-sia-sia mendapatkan kombinasi nama yang sepadan di lingkungan saya (=p), cukuplah beliau ini dijadikan pelampiasan hobi berburu cerita yang tetap menjadi penting sampai sekarang.

Selanjutnya, di masa tingkat-tingkat akhir kuliah saya mulai menyadari kesukaan terhadap kisah Frankenstein dan Van Gogh yang sebenarnya sudah berlangsung lama juga.

Awakening tentang Frankenstein dimulai setelah menonton Film karya Kenneth Branagh "Mary Shelley Frankenstein". Sebelumnya ketika film-film Frankenstein diputar di TV (mungkin film hitam-putihnya ataupun versi miniseri) saya tidak begitu perduli, entah menonton atau tidak saya tidak ingat. Lagipula saya tidak begitu suka film horor, sementara seperti itulah asumsi saya tentang kisah Frankenstein.
Lalu, ketika credit title pun belum muncul di layar bioskop Kiara*, sementara penonton sudah "diusir" dari bioskop, adegan terakhir yang sangat mengharukan, tragis dan getir membuat saya benar-benar tersepona, melengkapi seluruh esmosi selama film berlangsung. Dan sejak saat itu saya begitu kagum pada sang filmmaker dan menyimpan rasa penasaran tentang kisah Frankenstein.

Lukisan-lukisan Van Gogh sudah saya kenal sejak kecil, semenjak mulai dikenalkan pada buku penuh warna "Impressionism" milik ibu saya. Walaupun belum benar-benar mengerti secara teori seni maupun sejarahnya , lukisan-lukisan Van Gogh jelas paling mencolok dibanding karya para impresionis lainnya, dan cocok untuk selera saya yang masih anak-anak.

Begitulah, dan saya tersadar akan kombinasi nama mereka ketika saya secara nyaris berturut-turut mengangkat kisah masing-masing ketiga pemilik nama itu untuk artikel buletin LFM**. Vaslav Fomitch Nijinsky,
Victor Frankenstein, dan Vincent Van Gogh.
Terasa berima begitu indahnya kombinasi huruf V dan F!!!. Dan bukan sekedar nama. Mereka adalah My Favourite Psycho Geniuses! haha...
Sejak itu saya mulai dengan kesadaran memfavoritkan kedua huruf tersebut, terutama kombinasinya. Namun, seperti kata si bambumuda, saya tidak terlalu mudah jatuh hati pada nama-nama V lainnya. Tetap saja sang tokoh dan kisahnya dulu yang harus membuat saya tertarik.

Yang pasti, cukuplah dalam cerita sejarah maupun novel fiksi saja mereka jadi kesukaanku. Di dunia nyata sih jangan sampe saya berjodoh dengan psikopat macam begitu, artist maupun scientist, apalagi yang mengaku-aku dan merasa-rasa demikian, siapapun namanya!! amiin... (semoga gak kualat).

Oya, pemeran Unnamed Creature di film JaDulnya
Frankenstein(taun 40-an) namanya bagus juga: Boris KarloFF. Dan karakter yang dia tampilkan menjadi monumental dan legendaris.

Tambahan lagi, tiga model sebuah minuman vitamin C --yang papan iklan besarnya terpasang dengan mencolok di jalan Merdeka Bandung yang juga ketiganya merupakan ratu sejagat (hualah) namanya memiliki unsur V loh! Amelia Vega, Natalie GleboVa, Zuleyka RiVera (nah ini baru bener-bener gak penting)


*Sebuah bioskop di jalan Kiara Condong. Sudah tergusur bertahun-tahun lalu. Konon termasuk korban dominasi 21.
Penulis menonton Mary Shelley's Frankenstein sekitar tahun 1995

** Sayangnya, yang tentang Van Gogh tidak jadi dimuat karena ketidakjelasan pengelolaan buletinnya waktu itu =(

Sunday, January 14, 2007

Dear Victor


Apa yang ada di kepala Victor Frankenstein? Ia tumbuh di tengah kehangatan keluarga dan sahabat, dengan orang tua yang penuh kasih sayang dan menyebarkan kebaikan untuk sesama. Mereka hidup sejahtera, aman tenteram di negeri yang damai dalam rumah megah di tengah keindahan alam. Ia juga memiliki kesempatan untuk mengecap pendidikan sebaik-baiknya, serta melanjutkan kehidupan yang baik tersebut bersama wanita yang dicintainya.

Seperti wajarnya seorang remaja, Victor memiliki keingintahuan yang tinggi. Antusiasme dan obsesinya mengarah ke satu bidang yang dianggap tidak menarik bagi kebanyakan remaja: Science. Ia membedakan diri dari teman-teman terdekatnya, bahkan orangtuanya, dengan keinginannya untuk mempelajari rahasia-rahasia yang ada di langit dan bumi. Victor terhanyut dalam berbagai buku karya para ahli di bidang ilmu alam dan selalu tertarik pada penemuan-penemuan baru. Namun, selalu ada yang ia rasa kurang, yang belum terungkap. Ia ingin menapaki jalan baru, menggali kekuatan yang masih tersembunyi dan mengungkap misteri penciptaan.

Victor bekerja keras, seluruh konsentrasinya ia curahkan pada studi, penelitian dan percobaan-percobaannya. Siang dan malam tak kenal istirahat ia berkutat sendirian di laboratoriumnya yang terisolasi. Setiap kemajuan atau keberhasilan membuatnya semakin terobsesi untuk mengungkap lebih jauh lagi apa yang masih disembunyikan alam. Victor mengabaikan kekhawatiran keluarga dan sahabat-sahabatnya, tak perduli apa yang terjadi di dunia luar dan sekelilingnya. Namun, hal terpenting yang ia lupakan adalah bahwa kehidupan dan kematian adalah sepenuhnya kuasa Tuhan. Bahwa kesedihan akan kehilangan merupakan takdir manusia. Bahwa alam ini diciptakan dengan keseimbangan dan dunia tanpa kematian bukanlah dunia yang lebih baik. Bahwa manusia takkan mungkin menggantikan posisi Yang Maha Mencipta……

Suatu hari, tujuan dari semua kerja kerasnya tercapai: Victor berhasil menghidupkan tubuh tak bernyawa yang disusun dari jaringan-jaringan tubuh manusia lain. Tubuh yang tidak sekedar bisa bergerak, tetapi juga memiliki akal dan perasaan. Namun ternyata, hasil dari semua pengorbanannya ini tidak membuatnya bahagia, tetapi ia justru dikejar rasa takut dan perasaan bersalah, bahkan muak pada diri sendiri. Victor Frankenstein menjadi seorang pencipta yang tidak mencintai hasil ciptaannya sendiri.

Lalu, bagaimana makhluk itu bisa bernyawa? Benarkah Victor yang telah meniupkan nyawa ke dalam tubuhnya? Sementara, seluruh tubuh makhluk itu sendiri terdiri dari kumpulan jaringan-jaringan tubuh yang diciptakan langsung oleh Tuhan. Apakah dengan memasang otak pada tubuhnya, makhluk itu bisa memiliki akal, berpikir dan belajar? Memasang jantung dan hati bisa membuatnya memiliki perasaan, ingin dicintai dan mencintai?

Victor Frankenstein telah membangkitkan sesosok manusia dalam bentuk yang sangat tidak sempurna. Postur tubuh dan wajah yang dimilikinya dinilai oleh manusia lain sebagai penampilan yang janggal, mengerikan sekaligus menjijikkan. Namun, ia memiliki kecerdasan dan mampu dengan segera menyamakan kemampuannya dengan manusia lain. Ia juga memiliki keinginan untuk dilindungi dan diperdulikan, serta merasakan sakitnya dikucilkan hanya karena penampilannya yang tidak normal bagi manusia lain. Ketika mengetahui siapa yang telah membentuknya sedemikian rupa dan mendatangkan nyawa kemudian mengabaikannya, yaitu orang yang seharusnya menjadi ayahnya, kebencian merasuki diri makhluk yang kesepian ini. Ia tidak tahu bagaimana mengendalikan amarahnya, maka kehadirannya di dunia ini menjadi hukuman untuk Victor Frankenstein.

Seluruh kebahagiaan Victor Frankenstein hancur. Satu persatu keluarga dan sahabatnya pergi dari alam kehidupan. Victor tidak sanggup mencegahnya karena ia sendiri yang telah meninggalkan tanggungjawabnya. Ia tidak bisa memenuhi tuntutan makhluk karyanya, dan justru kebenciannya sendiri yang menjadi semakin dalam. Victor pun menjadi makhluk yang kesepian. Sisa semangat dalam dirinya adalah keinginan balas dendam, dengan mengejar dan menghancurkan sendiri makhluk yang telah ia hadirkan di bumi ini. Namun, ia tak ditakdirkan untuk menyelesaikan misi terakhirnya ini.

Victor Frankenstein meninggal dalam penyesalan. Harapan yang tinggi, segala ambisinya di masa muda dengan gambaran-gambaran keberhasilan hanya membuatnya terpuruk ke dalam kesedihan yang terdalam. Semua menjadi sia-sia, bahkan ia sendiri telah mendatangkan kutukan untuk dirinya.


Diceritakan kembali oleh:
Ramala Pualamsari
7 September 2002

Berdasarkan
Novel : Frankenstein, oleh Mary Shelley, 1818
Film : "Mary Shelley’s Frankenstein"
karya Kenneth Branagh, 1994

Saturday, July 31, 2004

Lullaby untuk Van Gogh

Starry, starry night
Paint your palette blue and grey
Look out on a summer's day
With eyes that know the darkness in my soul

Ia tidak terpuruk dalam kegelapan. Ia hidup di dunia penuh warna yang tidak diketahui orang lain. Warna-warni yang seharusnya memberikan keceriaan dan kebahagiaan itu, baginya begitu sedih dan sepi....

Sejak suatu 'titik' di kehidupannya, Vincent menyadari takdirnya sebagai seorang pelukis, kemudian ia belajar dan berkelana dalam kesendirian sementara kekuatan warna membangkitkannya. Siapa perduli, siapa yang mendengarkan, bahwa Vincent Van Gogh sedang mengalunkan sebuah lullaby dengan keindahan warna-warna di atas kanvasnya.
Shadows on the hills
Sketch the trees and daffodils
Catch the breeze and the winter chills
In colours on the snowy linen land

Van Gogh mengajak kita menghargai alam yang asli sebagai sebuah melodi ciptaan Tuhan. Melihat keindahan alam yang terbentang di hadapannya, Vincent begitu terobsesi untuk "menangkap" semua dalam dirinya. Ia terus bekerja seperti lokomotif, melukis dan melukis, sambil berjuang melawan kegilaan yang semakin merasuk, ia menghasilkan ratusan karya.
Now I understand
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free
They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

Starry, starry night
Flaming flowers that brightly blaze
Swirling clouds and violet haze
Reflect in Vincent's eyes of china blue

Siapa yang tidak suka memandang langit berbintang, jutaan kilauan yang terserak di langit gelap memberikan ketenangan dan kedamaian dalam renungan, Tapi, langit berbintang bagi Van Gogh begitu bergejolak. Awan yang bergulung, bulan dan bintang berpijar, langit yang berkilau dan begitu dinamis. Starry Night adalah lukisan yang dibuatnya ketika menjadi pasien di mental asylum St. Remy. Dari jendela kamarnya, Vincent menatap langit malam dan juga keindahan alam di luar 'penjara'nya itu.
Colours changing hue
Morning fields of amber grain
Weathered faces lined in pain
Are soothed beneath the artists' loving hand

Lukisan-lukisan ladang gandum adalah ekspresi rasa sepi dan sedih, namun juga tersimpan semangat dan pemulihan yang ia rasakan di tengah ketenangan dan keindahan alam. Vincent menyimak dan menangkap esensi dari pemandangan yang ia lihat, kemudian ditransformasikan menjadi melodi ekspresinya. Harapan akan kebebasan, rasa tertekan dan sakit, kesepian, kematian ia alunkan dalam goresan-goresan kuasnya..
Now I understand
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free
They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

For they could not love you
But still your love was true
And when no hope was left inside
On that starry, starry night
You took your life as lovers often do
But I could have told you Vincent
This world was never meant for one as beautiful as you

Vincent Van Gogh, sang jenius dalam warna, jenius dalam sepi, pengembara dan penyendiri yang terkekang dan mengimpikan kebebasan, meninggal pada tanggal 29 Juli 1890, di usia 37 tahun, dua hari setelah menembak dirinya sendiri. Rasa frustrasi dan sepi yang berkepanjangan semakin menekan jiwanya. Ia ditertawakan dan ditakuti orang karena kegilaannya, Kondisi mental Vincent dinilai semakin memburuk sejak tahun 1889, setelah ia memotong sebelah daun telinganya, sering berhalusinasi, bahkan mengancam rekan pelukisnya dengan benda tajam.

Van Gogh telah menjadi semacam simbol ketersia-siaan, ketika dengan variabel waktu, suatu karya atau seorang manusia menjadi berharga justru ketika ia telah tiada untuk menikmati penghargaan itu. Semasa hidupnya, ia hanya menjual beberapa lukisan dengan harga yang sangat murah. Sekarang, Van Gogh bisa dikatakan seniman terpopuler sepanjang masa, di seluruh dunia. Lukisan-lukisannya terjual dengan harga yang semakin tak terbayangkan, pamerannya menarik jumlah pengunjung tertinggi, karyanya digemari berbagai usia, reproduksi karya-karyanya pada produk-produk lain konon banyak digunakan orang, bahkan film mengenai dirinya dan yang memitoskan kisahnya telah cukup banyak dibuat.
Starry, starry night
Portraits hung in empty walls
Frameless heads of nameless wall
With eyes that watch the world and can’t forget

Like the strangers that you've met
The ragged men in ragged clothes
The silver thorn of bloody rose
Lie crushed and broken on the virgin snow

Lukisan karya Vincent Van Gogh bisa menjadi teman bagi jiwa-jiwa yang kesepian, yang selalu mencari dan bertanya atau terjebak dalam gelap. Di tangan Van Gogh, ladang gandum, dedaunan, langit, pepohonan dan wajah manusia tampak ‘menyala’, menyentuh dan menggerakkan jiwa-jiwa yang memandangnya. Van Gogh tidak melukis manusia-manusia halus, tampan dan cantik. Di tangannya, wajah-wajah manusia sederhana tampil dengan kekuatan karakter dan pengalaman hidup. Bahkan lukisan potret wajahnya bagaikan menatap dengan tajam dunia yang telah mengecawakannya, tanpa secercah kebahagiaan terpancar.
Now I think I know
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free
They would not listen
They're not listening still
Perhaps they never will


Dengan kematiannya, Vincent bermaksud menggapai sebuah bintang dalam lukisannya, dan Vincent Van Gogh tetap hidup dalam namanya, dalam keindahan lukisan-lukisannya.


Lagu: "Vincent" (by: Don McLean, 1971)




"Looking at the stars always make me dream..
Why, I ask myself,
shouldn’t the shining dots of the sky be as accessible
as the black dots on the map of France?
Just as we take train to get to Tarascon or Rouen,
we take death to reach a star."

(Vincent Van Gogh)

Yume no Karasu: Mengenal Vincent


Lukisan Van Gogh dapat bermakna luas, menampilkan beragam keindahan yang menakjubkan dan juga misteri. Kehidupannya dalam masa yang relatif singkat begitu kompleks dan tragis. Para pengagum lukisannya akan bertanya-tanya dan ingin mengenal sang seniman lebih jauh. Lagu Vincent yang dinyanyikan don McLean mengalun dengan lembut, membawa memori, menggali pelosok jiwa yang tertekan dan gelisah, mereka yang merasa perlu berteman dan berbicara dengan Van Gogh. Lagu ini termasuk lagu kenangan bagi generasi muda 70-an dan juga telah dinyanyikan ulang oleh beberapa penyanyi lain.

Seperti juga syair lagu tersebut, sesi mimpi berjudul
"Crow" dalam film Akira Kurosawa's Dreams, menampilkan sosok Van Gogh sebagai seniman dan sebagai pribadi, mengungkapkan kekaguman akan keindahan karyanya, sambil seolah menawarkan persahabatan dengannya. Penggambaran oleh Akira Kurosawa di sini membantu kita untuk ikut merasakan dan melihat keindahan warna-warni dunia Van Gogh, dan juga merasakan kesendiriannya, bahkan pandangan orang terhadap Van Gogh semasa hidupnya juga tersimbolkan dalam film ini.

Saat menikmati beberapa lukisan paling terkenal karya Van Gogh, seorang pelukis muda mendapat kesempatan untuk mendengarkan sang seniman. Ia bermimpi "masuk" ke dunia Van Gogh dalam lukisannya dan menemukan Vincent sendirian di tengah ladang gandum yang luas, sedang melukis, dengan telinga yang dibalut.

Van Gogh berbicara pada si pelukis muda, tentang kekagumannya akan keindahan pemandangan, dan obsesinya menangkap dan menuangkannya ke dalam lukisan. Ia begitu terburu-buru seolah tahu, umurnya begitu singkat untuk menghasilkan karya-karya yang diinginkannya. 

Vincent meninggalkan sang pelukis muda terpana di tengah ladang. Ketika bemaksud menyusul, sang pelukis muda justru tersesat kebingungan. Seketika Ia berada di antara pepohonan, jalan, dan perkampungan dalam bentuk goresan-goresan cat dari tangan Van Gogh. Bahkan, matahari Van Gogh terasa bersinar terik. Ia seolah berjalan di atas kanvas, atau kanvas-kanvas itu membesar dan membentuk ruang sampai kemudian ia berhasil kembali ke ladang gandum yang "nyata" dalam mimpinya itu.

Sosok Van Gogh tampak berjalan tergesa, lalu menghilang di balik bukit. Seiring suara lokomotif, burung-burung gagak berterbangan. Pemandangan yang sama dengan yang dilukis Van Gogh pada lukisan "Wheat Fields with Crows", lukisan yang diperdebatkan sebagian orang sebagai "pesan bunuh diri" sang seniman.

September 2003.