Wednesday, October 31, 2007

YANG HOROR.. YANG HOROR

Minggu-minggu ini baik bioskop maupun televisi dipenuhi film (yang katanya) horor. Bayangkan saja, waktu mampir di BIP, tampak bioskop 21nya sedang menayangkan Pocong3, Jelangkung 3, Kuntilanak2, Sundal Bolong. Hanya satu studio yang isinya tidak termasuk film jenis (yang katanya) horor, yaitu Get Married. Sebuah stasiun TV swasta pun bisa-bisanya membuat program Halloween Week dengan menayangkan film-film (yang katanya) Box-Office bernuansa horor. Demikian juga stasiun tv lainnya diwarnai film-film yang ceritanya mendukung tema Halloween.


Saya bukan penonoton film horor. Bukan karena takut, tidak lagi kalau itu sih... tapi karena tidak butuh akan sensasi takut. Saya menonton film untuk mencari cerita yang berkesan, dan yang menentukannya ada banyak faktor, baik subjektif maupun objektif. Film horor Indonesia biasanya malah tampak konyol karena
make-up berlebihan dan jalan ceritanya yang dodol, tambah lagi kekurangan-kekurangannya secara teknis. Sementara horror barat-Hollywood biasanya menjadi sekedar film sadis dengan konsep umum mengenai iblis yang merasuki manusia atau menempati sebuah rumah dan menyebabkan kematian-kematian tidak wajar.

Film horor yang tertonton (tidak sengaja awalnya) dan menjadi film favorit saya adalah: Trilogi
The Ring (versi asli Jepang, selanjutnya saya sebut Ringu agar tidak tertukar dengan versi Hollywood yg tidak akan saya bahas karena tidak saya tonton ) dan The Eye 1 serta The Eye 2. Selain itu, rasanya tidak ada yang menarik. Kebetulan keduanya termasuk genre “Horor Asia”.
Saya mulai menonton trilogi
Ringu sepotong-sepotong di LFM, waktu trilogi tersebut menjadi “Box-Office Ruang Santai”, terobsesi menonton lengkap, menyewa VCDnya dan sempat berkali-kali menonton (tidak pernah sendiri tentunya).Faktor apa yang harus ada dari film film horror? Apa yang membuat sebuah film memberi suasana menakutkan? Wah entah apa teorinya, pastinya trilogi Ringu punya semua itu dan ditambah lagi JEPANGNYA ITUUUUUU. Ekspresi datar dan nada bicara orang Jepang itu koq tidak ada yang menandingi, membuat tegaaang. Yang paling berkesan tentunya sosok Sadako. Setelah itu, sepertinya banyak sekali karakter hantu yan menyerupainya (terutama di film Indonesia). Kenapa sosok Sadako yang membalas dendam mengerikan? Karena rambut panjangnya yang menutupi wajah, karena jari-jarinya, karena dia keluar dari sumur, karena sebelah matanya yang melotot aneh. Kenapa sosok Sadako semasa hidup cantik? Karena pemerannya NAKAMA YUKIE.

Selain suasana horror dan karakter menyeramkanya,
trilogi Ringu punya cerita dan plot yang kuat, tidak sekedar memberikan suasana yang membuat penontonnya menjerit-jerit. Misteri kehidupan Sadako yang terpapar pada Ringu 0: Basudei memberikan kepuasan menonton satu paket cerita. Adegan terakhir dari The Ring 0 adalah salah satu ending yang paling dramatis, tragis dan menggetarkan dari film-film yang pernah saya tonton. Walaupun mempengaruhi puluhan film horor selanjutnya baik di Indonesia, Asia bahkan Amerika, trilogi Ringu tetap tak terbandingkan.


Satu keistimewaan trilogi Ringu yang sulit ditandingi oleh sineas horor Indonesia , bahkan para pembuat ulangnya di Hollywood sana, adalah film ini berisi balas dendam, kematian, dan ketegangan tanpa setetespun darah!!! Tidak ada kematian-kematian sadis ala film-film horor hollywood. The Ring Hollywood mengandung adegan berdarah, suatu kesalahan (yang mana? Tonton aja).

Catatan ralat, 2010
Beberapa waktu setelah membuat tulisan ini, saya sempat browsing The Ring dan streaming beberapa video trailernya. Ada yan mengejutkan yaitu ternyata, ada hal yang saya tulis di atas ternyata SALAH! di trailer The Ring 2, ada adegan yang mengandung darah merah. Tapi saya yakin karena sudah beberpa akali menontonnya bahwa saya tidak melihat adegan itu.maka saya menyadari bahwa yang saya tonton adalah versi VCD yang telah terpotong, disensor atau sekedar untuk mengurangi jam tayang. maka saya perlu mencari lagi film ini untuk menyelidiknya lebih jauh.
....................................................... 

Setelah heboh trilogi Ringu, muncul kehebohan The Eye di ruang santai LFM. Setelah menontonnya dengan rekomendasi dari Neng Sally : “ini mah Film romantis, bukan horor”, saya lumayan setuju dan terkesan . Kalau masalah tingkat seramnya memang lebih menyeramkan trilogi Ringu, tapi The Eye punya keunikan cerita dengan twist ending yang luar biasa mantaaap. Tidak ada hantu balas dendam seperti Sadako yang membunuh-bunuh orang. The Eye adalah kisah tragis mengharukan, diwujudkan dengan penyutradaraan dan akting yang sangat bagus.
Ketika muncul sequelnya The eye 2, awalnya saya tidak begitu tertarik. Hanya karena ada teman yang mengajak nonton, gratisan, saya menontonnya di bioskop.
Walaupun banyak dikritik tidak sebagus yang pertama, The Eye 2 punya gaya horor seperti film sebelumnya. Tokoh utamanya bisa melihat sosok orang-orang yang sudah mati. Dengan brengseknya, sutradara film ini membuat kemunculan sosok2 itu seolah akan membahayakan si tokoh utama atau kita sebagai penonton? Ini kan yang membuat film menjadi horor. Apa yang akan sebetgulnya diinginkan dan akan dilakukan roh-roh gentayangan itu? Tapi tidak seperti selesai menonton
The Ring yang membuat hati menjadi gundah gulana, Ending The Eye 1 & 2 justru memberikan ketenangan jiwa. The Eye 1 & 2 yang termasuk film horor justru memutar balik pola pikir kita tentang pameo mistis yang telah menjadi hegemoni dalam sistim kehororan dunia entertainment (apaaa pula ini?).

Sayang oh sayangg.. ketika saya bermaksud memperlihatkan
The Eye 2 kepada saudara dan teman-teman yang lain, saya sangat kecewa karena ada satu adegan yang tidak ada di dvd yang kami tonton. Apakah pembajaknya yang eror (karena sudah dua dvd, di penyewaan dan yang saya beli sama isinya) atau memang ada versi yang seperti itu? Padahal, adegan itu adalah adegan yang saya tunggu-tunggu sepanjang film, karena menurut saya paling menjelaskan (dan memberi ketenangan jiwa seperti yang saya sebut di atas). Saya tidak hafal berapa adegan persisnya yang hilang, yang pasti saya sampai terpana memble kebingungan “loh..loh.. koq ujug-ujug begini???”

Ending
The Eye 2 jadi terasa menggantung dan aneh. Entahlah apa orang lain mengerti rasa kehilangan itu. Mereka hanya kebingungan mendengar saya menjelaskan “bla-bbla-bla.. harusnya tuh begini begono..” ohh.. hilanglah kesan itu. Bagimana dengan penonton lain yang juga menonton via dvd bajakan? Jangan-jangan mereka pun kurang mendapat esensi film itu.

Catatan tambahan, des 2009
Setelah di seldiki lebih jauh, versi dvd itu adalah alternative ending dan entah kenapa versi itu yang ada di dvd (bajakan) yang beredar. Saya berhasil menemukan adegan penutup seperti yang saya tonton di bioskop melalui youtube
Lebih jauh mengenai perbedaan penutup film ini saya bahas di: Adegan Yang Hilang

2 comments:

Hyoutan said...

Ya itulah bagiku yang horor bulan ini adalah Cinta Fitri. Horrrrooooeeeeurrrrrr

kuaci said...

mala... temenin nonton the ring.. hehehe..ga brani serem banget liat keluar dr sumurnya.

miss u!