Tuesday, October 19, 2004

World

Men see the world too well from the mountains
(dari film The Message)

Monday, October 18, 2004

G4 Studio

Posted by Hello

G4 studio, menerima pesanan gambar dan desain arsitektur dan interior rumah tinggal ataupun fungsi lain.

Friday, October 15, 2004

PDAM

12 Oktober, hari yang saya tunggu-tunggu. Saya dijanjikan akan menerima Rp. 450.000,-, uang yang akan saya kembalikan ke rekening tabungan saya di bank, tempatnya semula.. Namun, tak disangka saya kecewa, harus menunggu lama dan kembali lagi ke kantor pusat PDAM untuk menagih.

Kebetulan, rekening saya di bank Bukopin dipakai untuk membayar tagihan-tagihan keluarga saya. Bagi anda yang juga menggunakan fasilitas autodebet (dengan isi tabungan pas-pasan) untuk membayar tagihan rutin, tiba-tiba mengalami lonjakan tagihan pemakaian air bersih yang tidak manusiawi, mungkin pengalaman kita akan sama...
  • Mendapat tagihan ancaman penyegelan dan pemutusan dari beberapa tagihan yang belum terbayar
  • Panik, pergi ke bank mengadu karena merasa seharusnya semua sudah lunas
  • Menurut bank, saldo tidak mencukupi sehingga ada yang tidak terbayar
  • Setelah dirinci, baru tersadar bahwa tagihan PDAM terlalu besar dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Dan lebih lagi, hal ini sudah terjadi selama dua bulan!!!!
  • Menurut catatan di kwitansi, pemakaian memang melonjak sangat irrasional. Dari biasanya sekitar 4m3 per bulan menjadi 50m3 dan 100m3 berturut-turut
  • Melapor ke PDAM membawa kwitansi yang telah diberikan bank.
  • Di loket pengaduan, terdapat catatan pemakaian yang sesuai dengan kwitansi.
  • Panik lagi, takut ada apa-apa dengan meteran air.
  • Disuruh melapor ke bagian langganan, kekeuh bahwa itu angka yg tertera tidak logis
  • Disuruh ke bagian meter
  • Bagian meter menjanjikan akan datang petugas untuk mengambil meteran untuk di tes, tapi gak bisa memastikan kapan datangnya.
  • Setelah dipaksa, dia berjanji besok petugas akan datang.
  • Meteran diambil, petugas mengatakan angka yang tertera di meter memang tidak sesuai dengan yang di kwitansi. Seharusnya 136 jadi 274.. keterlaluan!!!
  • Meteran tetap harus dites dan hari berikutnya lagi kita harus datang untuk menyaksikan "Tera ulang" meteran di bagian perakitan peralatan.
  • Meteran baik-baik saja.
  • Melapor ke bagian meter
  • Melapor ke bag langganan
  • Oper2 Bapak anu dan Bapak anu, saya mendapat surat agar kembali tanggal 12 oktober (sekitar 2 minggu kemudian), untuk mengambil kelebihan uang

Begitu mengesalkan. Menuntut hak kita sendiri begini repotnya. Ongkos, waktu, energi.... Ketika tgl 12 oktober datang ke bag langganan, dioper ke Bapak Anu dan Bapak Anu yang lain, saya mendapat surat untuk mengambil uang ke bagian keuangan. Tapi, Pejabat yang berwenang "sedang rapat di hotel situ, dan mungkin lama" jadi uang tidak bisa turun saat itu. Dengan begitu kesal saya pulang, ingin rasanya mengobrak-abrik meja kerja mereka. Segitu tidak pentingnya uang saya. Tak ada yang bisa perduli, pokoknya yang bertugas tidak di tempat, saya tidak bisa mendapat uang saya saat itu.

Sorenya saya mengutus Kakak karena sudah tidak tahan menghadapai orang-orang di sana. Menurut laporannya, dia pun dipersulit, diperlama walaupun sudah bertemu, "Si Bapak yang Berwenang Mengeluarkan Uang" itu pake mengaku belum menerima berkas-berkasnya, dan setelah ada bukti penerimaan dia terpaksa dengan perlahan mencari-cari dulu berkas-berkas yang ternyata terpuruk di dasar laci yang berantakan.

Sekarang, apa PDAM mau mengganti ongkos bulak-balik, denda tagihan2 yang belum terbayar dan ongkos ke tempat pembayar tagihan2 tunggakan tersebut? Dalam dua minggu lumayan tuh beberapa ratus rupiah uang saya kalau dibungakan di bank.

Lalu, kesalahan pencatatan itu dari mana sumbernya? Apakah memang human error pada saat pencatatan di tempat (2 bulan berturut2 lo), data tertukar, salah ketik, atau yang terburuk (salahkah saya ber su'u zhan): memang SENGAJA memasukkan angka asal karena tahu kami pelanggan yang menggunakan auto debet....

Monday, September 27, 2004

Rumah Pisau Terbang


Spoiler Alert!!!!
Kalo mau nonton kisah cinta picisan khas film cina, gak usah filmnya Zhang Yimou!!

Film-film karya Zhang Yimou selama ini selalu memiliki keunikan dan ciri khas yang istimewa. Beberapa filmnya yang telah saya tonton: Not one Less, The Road Home, Shanghai Triad, Raise the Red Lantern, Happy Times, bahkan yang saya tonton tanpa teks: To Live dan Ju Dou, tercatat sebagai film-film yang berbekas di hati, menyentuh, membuat tertawa dan menangis. Gambaran kondisi sosial dan budaya masyarakat cina merupakan tema langganan ZYM. Ada kisah tentang para tokoh sederhana dan polos dalam menghadapi konflik kemasyarakatan dan perubahan sosial. Perkembangan karakter yang sangat manusiawi sebagai reaksi dari konflik-konflik yang terjadi memberikan daya tarik dari cerita-cerita karyanya.

Lalu muncullah film Hero. Terobosan luar biasa. Film kungfu pertamanya ini digarap dengan sungguh2 dan mencapai ketenaran dengan sukses. Keunikan plot cerita dan permainan warna merupakan keistimewaannya. Ditambah lagi para pemeran yang selain populer juga memiliki kualitas akting andalan. Maggie Cheung dan Tony Leung yang telah mendapat berbagai penghargaan sebelumnya, Jet Li dengan kung-funya yang telah banyak dikagumi, dan Zhang Zi Yi yang tenar sejak bermain di The Road Home dan Crouching Tiger. Selain Zi Yi, belum ada yang pernah bermain di film Zhang Yimou sebelumnya.

House of Flying Daggger, film kungfu yang berikutnya tentu telah dinantikan. Pemeran2 populer juga dipersiapkan: Takeshi Kaneshiro, Andy Lau, dan Zhang ZiYi lagi. Bagaimana mungkin saya tidak penasaran ketika mendangar film itu akan dirilis.

Warna, pemandangan, kostum, koreografi dan visual efek di film ini memang cantik. Tapi saya merasakan kehampaan yang tidak pernah ada di film karya ZYM yang lain. Inti ceritanya apa? Cinta segitiga? Cinlok? Hal yang sangat tidak penting. Permasalahan awal mengenai pencarian ketua sekte Flying Dagger sejalan alur cerita menjadi tidak sepenting konflik percintaan tokoh-tokohnya.

Cerita film ini hanya mencakup sepenggalan dari tipe kisah legenda kungfu yang biasanya banyak diangkat. Itupun, kalau mau yang lengkap, mending menonton Crouching Tiger Hidden Dragon. Perebutan senjata pusaka, jurus-jurus andalan, skandal cinta, petualangan, cewe nyamar jadi cowo, racun dan penangkalnya, dan sebagainya. Ciri khas kisah cinta picisan cina: sekarat di pelukan kekasih, sambil sempat mengucapkan kata2 perpisahan pun ada. Nah, di film HOFD, adegan Xiao Mei (Zi Yi) yang sekarat sampai berulang tiga kali. Saya sendiri tekejut ketika ternyata dia belum mati juga. Tau-tau, matanya masih bergerak, berbisik2, bahkan sempat dia berdiri, tumbang lagi, dst.

Film romantika picisan yang menyentuh dan mengharukan kadang saya suka juga. Beberapa sutradara punya sentuhan tersendiri. Sam Pek Eng Tay (The Lovers) karya Tsui Hark contohnya, bagi saya lebih menarik. Latar belakang dibalik kisah cinta pasangan tokohnya cukup kaya dan bermutu. Tambah lagi, permainan gambar dan musiknya yang membentuk suasana méhé- méhénya menjadi karya seni yang mengagumkan. Beberapa drama romantis dengan setting modern juga terkadang lebih cocok buat saya, seperti Commrade, Almost a Love story & Sausalito (apalagi karena di keduanya ada Maggie Cheung)

Untuk film House of Flying Dagger ini, saya terharu tidak, tersentuh pun tidak, apalagi berpikir.
Hanya sebatas mengagumi gambar dan warna2nya saja dan musiknya yang enak di telinga.
Satu hal lagi: Kaneshiro dan Andy Lau gak cocok berkostum pendekar. Lebih cocok jadi gangster.

Wednesday, August 18, 2004

Le Huitième Jour

Le Huitième Jour (The Eighth Day/ Hari kedelapan)
Dir : Jaco Van Dormael
Cast : Daniel Auteuil, Pascal Duquenne, Miou Miou
Prod : PAN Europèenne, 1996

Setiap manusia punya caranya sendiri untuk melihat dunia, tergantung pengalaman hidupnya, proses kejiwaannya, atau kondisi lingkungan di sekitarnya. Terkadang, manusia tidak tahu bagaimana memandang keindahan yang ada di dunia ini, dan bagaimana menikmati kebahagiaan yang sebenarnya dapat ditemui di sekeliling kita. 

Tersebutlah George (Pascal Duquenne), seorang penderita downs syndrome yang tinggal di sebuah panti. Ia punya cara sendiri untuk membuat dirinya bahagia, di balik hal-hal buruk yang dialaminya. Dalam kesepiannya, George berkesempatan untuk merenungi ciptaan Tuhan. Ia menyimak kehadiran hewan-hewan kecil seperti kepik dan semut dan menikmati eksistensinya di tengah alam sekitar. Walaupun terkadang 'hidup' dalam dunia imajinasinya, George bisa menikmati berbagai keindahan. Ia juga selalu bersikap jujur dan terus terang bahkan menyikapi kekurangannya secara positif.
Jauh berbeda dengan kehidupan George, Harry (Daniel Auteuil) adalah seorang pengusaha sukses yang sudah terjebak dalam sistem yang bekerja di masyarakat moderen. Sibuk mengejar ambisi dan materi, Harry lupa bahwa perhatiannya secara langsunglah yang lebih dibutuhkan keluarganya, sampai ia bercerai dengan istrinya dan mengecewakan anak-anaknya. Harry selalu mengajarkan anak buahnya supaya bersikap optimis dan tampil ceria demi kesuksesan, terutama ketika berhadapan dengan klien. Namun, justru dirinya sendiri merasa semakin hampa sehingga semua yang dikatakannya itu hanyalah menjadi kedok dari kondisi yang sebenarnya. 


Takdir mempertemukan kedua tokoh ini dalam suatu peristiwa yang menyebabkan Harry harus bertanggung-jawab mengantarkan George kepada keluarganya. Ternyata, keluarga George tidak mau menerima. Hal yang sama tejadi pada Harry yang ditolak keluarganya ketika berusaha memperbaiki hubungan. Jadilah mereka dua manusia kesepian yang mulai membentuk ikatan persahabatan dan saling ketergantungan. 


Hal menarik yang diangkat di sini adalah mengenai proses tumbuhnya persahabatan antara kedua tokoh yang sangat kontras ini. Kisah ini mengingatkan kita pada film Rain Man yang dibintangi Dustin Hoffmann dan Tom Cruise, tahun 1988. Selama mereka bersama, banyak kelakuan George yang menyusahkan Harry. Namun, lama kelamaan Harry merasa terhibur dengan kehadiran George sehingga merasa begitu berat ketika harus berpisah. George sendiri menyadari bahwa kehadirannya hanya akan memberatkan sahabat barunya itu, sehingga ia memilih untuk kembali ke panti. Bersama teman-temannya, George kemudian membantu Harry menyelesaikan permasalahannya. 


Siapa sangka, manusia yang dianggap 'terbelakang' bisa menginspirasi dan menyadarkan seorang manusia lain --yang disebut normal-- dalam menyikapi hidup. Kehidupan George sendiri sebenarnya tidaklah menjadi lebih baik. Ia telah terpisah dari keluarga, bahkan ditinggal pergi kekasihnya (sesama penderita down syndrome) yang dibawa oleh orang tuanya. Seperti yang diekspresikan George, orang yang paling sayang padanya hanyalah Ibu kandungnya. Cukup berat bagi George ketika menyadari Ibunya telah tiada. Tentu kitapun tahu, seorang Ibu akan tetap mencintai anaknya dengan segala kekurangan yang ada, sebagai wujud ciptaan Tuhan yang dihadirkan melalui dirinya.
Harry sendiri mengalami perubahan besar. Berkat George, ia menyadari bahwa manusia akan mampu menghargai kehidupan bila dapat memperhatikan dan menikmati segala ciptaan Tuhan, sampai yang sekecil-kecilnya. Ia juga tahu bagaimana caranya tertawa dan merasa bahagia tanpa kepalsuan. Bagi Harry, George adalah ciptaan Tuhan yang begitu berharga. Perubahan pada diri Harry ini memang tampak begitu mudah dan 'ajaib'. Namun, sebagaimana hadirnya George dalam sepenggal kehidupan Harry, kisah ini memang bertutur mengenai keajaiban dan juga cobaan dalam anugerah Tuhan. 


Film Le Huitième Jour ini tidak sekedar menyentuh, tapi juga begitu unik. Tidak akan mudah kita temui film dengan aktor-aktor downs syndrome yang dapat berakting dengan begitu baik. Mereka semua di sini tampil dan menjalankan peran yang dapat membuat kita tertawa dan terharu. Kenapa kita tertawa? Mungkin karena banyak tindakan mereka yang konyol, nekat dan kebiasaan-kebiasan yang bagi kita janggal. Kenapa terharu? Mungkin karena kasihan melihat kondisi mereka, atau justru terharu karena mempertanyakan kenapa mereka mesti diasingkan dan dipandang rendah di tengah masyarakat. 


Sutradara asal Belgia yang juga menulis skenario film ini, Jaco Van Dormael, memang sangat memahami golongan 'mongols'. Mereka merupakan manusia yang memiliki IQ lebih rendah dibanding standar manusia yang disebut normal karena berbagai penyebab. Van Dormael dapat melihat hal-hal positif yang ada pada mereka dan mengangkatnya sebagai potensi, seperti yang tergambar pada karakter George. Menurutnya, memang golongan ini memiliki cara yang lain dari manusia umumnya dalam memandang dunia. Mereka memang berbeda. Hanya saja, permasalahannya adalah bagaimana cara menyikapi perbedaan-perbedaan itu. Kita seharusnya mampu menerima dan menghargai keberadaan mereka yang dianggap 'berbeda' sebagai komponen masyarakat dan juga ciptaan Tuhan yang istimewa. 


Pemandangan dan permainan gambar yang ditampilkan di film ini begitu indah. Tampaknya kamera memang membawa kita untuk ikut menikmati keagungan ciptaan Tuhan. Selain itu, kita juga dibawa ke dalam dunia imajinasi George, yang terkadang muncul begitu saja. Begitu aneh, unik dan sekaligus juga indah. Mungkin sampai di akhir film kita tidak tahu, apakah harus merasa sedih atau terhibur. Yang pasti, film ini memiliki segalanya untuk menyentuh lubuk hati kita yang terdalam.

18 Feb 2003