Sunday, January 31, 2010

habis, gimana yaa....

Karena saya betul-betul kurang kerjaan atau tepatnya lagi malas kerja, maka acara "Take Me Out" atawa "Take Him Out" bisa tertonton. Saya percaya selain saya, banyak wanita (mungkin pria juga...?) yang sebenarnya menonton acara ini bukan menikmati programnya, tapi si pembawa acaranya yg ganteng itu. Hemm.

Di suatu bagian yang pernah saya lihat, ada hal yang cukup menarik.

Seorang "Pria Single" datang menawarkan diri. Ceritanya, sudah cukup lama dia meniti karir di bidang advertising, dan sudah memiliki posisi dan job-desk yang cukup penting. Rekomendasi dari teman-temannya pun positif bahwa dia pekerja keras, berdedikasi, tanggungjawab, bla bla. Umurnya saya lupa tapi seingat saya masih di bawah 30 tahun.

Kira-kira sesuai ingatan saya, yang selanjutnya terjadi begini:
Seorang cw bertanya tentang kemapanannya. Si Pembawa acara mempromosikan pria itu berkaitan dengan pekerjaannya yang sudah mapan tersebut.

Cewe: "Maksudnya mapan dalam artian, apa sudah ada rumah dan mobil?"
Pria Single: "Hmmm kalau rumah dan mobil, mungkin dua tahun lagi" katanya dengan nada mantap meyakinkan.

Setelah itu, beberapa orang termasuk si cw yang tadi bertanya, mematikan lampunya. Waktu ditanya, kira2 jawabannya:

"..habis gimana ya, belum mapan siy..."

"Pria Single" selanjutnya, atau setelah beberapa "Pria Single" selanjutnya (saya mulai geleuh sama istilah ini) yang muncul adalah seorang arsitek, sudah beberapa tahun berkarir, di sebuah konsultan yang cukup ternama (katanya). Kalau tidak salah umurnya juga masih di bawah 30 tahun.
Dia mendemokan keahliannya, menggambar dengan program Sketchup, lalu setelah terbangun beberapa objek dan menerangkan konsepnya, dia langsung memeperlihatkan hasil render yang sudah jadi. Katanya kira-kira begini:

"Ini rancangan rumah yang akan saya bangun untuk ditinggali bersama istri saya dan keluarga saya nanti"

Wow si pembawa acara pun memberi komentar positif.

Beberapa orang mematikan lampu. Cewe yang ditanya kenapa, jawabannya (entah cw yang sama dengan yang di atas atau yang lain lagi):

"...itu kan baru rancangan ya, belum ada realisasinya.."

GUBRAXXX!!!

kesian deh lu

Arsitek...

Sunday, January 10, 2010

Moon Child Syndrom II

My future child will look like this:

"grinnnnn"

Hopefully, he won't grow up to be like this:

"shoot me, yeah!"


The father will be this gorgeous gentleman:

"oh you make me blush"

No, not just someone who LOOK LIKE THIS....but THIS PERSON HIMSELF! haha...

"don't worry, you are all invited for the big day!"



The friendly gay uncle:


"Hi"


Actually, he is the one I love, but since he... well....


"You know I love you Girl, only not in the way you want it"

Wednesday, December 23, 2009

My Moon Child syndrome

Ternyata film Moon Child bisa mengobati kegaringan yang melanda setelah menonton New Moon dan Ninja Assassin.

Moon Child

Director : Takehisa Zeze
Producer :
Takashi Hirano
Screenwiter :
Gackt Camui,Isuchi Kisyu,Takehisa Zeze
Starring :
Gackt Camui,Hyde,Wang Lee Hom,Zeny Kwok,Taro Yamamoto
Released : 2003


Moon Child adalah film Jepang, artinya di sini aktor Jepang memerankan tokoh orang Jepang, dan aktor Cina memerankan tokoh orang Cina. Ini adalah film jepang, yang jalan ceritanya sulit ditebak dan sulit pula bagi penonton untuk menyusun suatu harapan tertentu mengenai endingnya. Ini adalah film Jepang, yang tanpa dialog pun kita dapat mengetahui perasaan maupun pikiran tokohnya melalui ekspresi wajah, lirikan mata,helaan nafas, maupun sesungging senyum. Ini adalah film Jepang, yang pada dialog-dialog simpel maupun detail-detail tertentu pada gambar dan adegannya bisa berarti sesuatu sehingga tidak boleh dilewatkan. Ini adalah film Jepang, dengan aktor-aktor utamanya merupakan penyanyi populer yang punya gaya super cool atau super norak (tergantung subjektifitas dan dari perspektif mana kita melihat). Ini adalah......tunggu, film Jepang ya? Oh pantes, bukan film Hollywood.

Moon Child adalah film yang serba tanggung. Tanggung sebagai film gangster, tanggung sebagai film vampir, tanggung sebagai film futuristik, tanggung sebagai film kisah cinta.
Yang bisa dikatakan paling berhasil di sini adalah ditampilkannya dua penyanyi populer J-Pop (atau J-Rock? Atau J-whatever??) yang dipuja begitu bnyak penggemar.Merekalah warna utama film ini.

Gackt dan HYDE, yang sudah belasan tahun berkarir dan masing-masing memiliki eksistensi tersendiri di industri musik jepang, kali ini bersama melakukan debut akting di film. Bisa dibayangkan histeria para pengemarnya?

Gackt-HYDE....aaa....awwww!!!!


Tidak kalah penting, di film ini juga ada
Wang Lee Hom, penyanyi/ pemusik Taiwan yang lahir dan besar di Amerika dan sudah belasan tahun juga berkarir sukses jadi idola. Sebelumnya Leehom sendiri sudah pernah bermain di dua (atau tiga) film produksi Hong Kong.

Alexander Wang Lee-Hom


Karena itu lah, dalam hal menonton film Moon Child, bagi yang tidak kenal Gackt dan HYDE, ada beberapa kemungkinan:

a. Tidak akan perduli pada film ini
b.Tidak sengaja menontonnya, tidak suka pada filmnya justru karena melihat dua tokoh tersebut.
c. Tidak sengaja menontonnya, tidak suka pada filmnya, tapi suka pada para pemerannya.
d. Tidak sengaja menontonnya, suka pada filmnya
e. Bonus dari opsi d, berakibat jadi suka pada pemeran tokoh utamanya.
f. Bonus dari opsi c dan e, berakibat jadi suka pada aliran musik mereka
g. Menonton entah sengaja atau tidak, tidak suka baik pada filmnya, maupun pada pemerannya.
h. Menonton karena ada Wang Leehom, dan selanjutnya seperti opsi c-f

Bagi penggemar dari Gackt & HYDE, atau salah satunya, pasti kecil sekali kemungkinan untuk melewatkan film ini dengan sengaja. Dan kecil sekali kemungkinan untuk tidak tergila-gila pada film ini. Dan tidak mungkin tidak akan makin tergila-gila pada idolanya di sini.

Bagi yang tidak suka, atau tepatnya anti atau mungkin juga benci pada keduanya, sangat kecil kemungkinan untuk tertarik menonton film ini, tapi beberapa opsi di atas bisa berlaku juga, atau menontonnya dengan sengaja untuk mengumpulkan bahan menghujat film maupun para pemerannya.


Nah, mari kita melakukan pembahasan yang obyektif.

Seperti yang sudah disebut di atas, film ini serba tanggung dengan banyak “lubang” dalam hal cerita maupun visualisasi. Salah satunya mengenai timeline. Kisah dimulai di tahun 2000 dan berlanjut sampai beberapa puluh tahun kemudian. Namun kita tidak merasa ada perbedaan yang mendasar dengan masa “sekarang”.
Bahkan pakaian pun tidak memiliki keistimewaan (selain mungkin, celana ketat dan jaket "tukang ojeg" yang dipakai Sho??). Kita memang tidak perlu mengharapkan ditampilkannya tahun 2045 dengan gedung-gedung berbentuk kapal luar angkasa, taxi terbang atau mesin teleportasi, telekomunikasi dengan hologram, senjata laser dll. Tapi dengan tidak adanya perbedaan signifikan apabila dibuat waktu aktualnya di jaman sekarang, keterangan setting waktu yang ditampilkan jadi tidak begitu penting selain untuk menghitung umur tokoh-tokohnya. Anggaplah, bagian terakhir film itu di sekitar tahun 2003, berarti film dimulai dengan latar waktu tahun..1958. Atau jangan-jangan justru sutradaranya merasa lebih sulit menampilkan situasi jaman dulu, sehingga memilih alur ke masa depan.

Sebagai film gangster, Moon Child mengangkat konflik antar mafia yang disisipi dasar konflik antar bangsa, konflik sosial dan kepentingan ekonomi di antara masyarakat marjinal yang harus bertahan hidup di suatu daerah fiksi Mallepa, kantung imigran di daratan cina. Film ini juga menyuguhi banyak aksi tembak menembak, dengan koreografi yang cukup menarik dan cukup lucu. Dalam hal ini, Moon Child sedikit mengingatkan pada film Time and Tide. Adalah keahlian sutradara untuk membuat para aktor aksi "amatiran" ini bisa tampak keren saat memegang pistol, berkelahi dan melakukan pose-pose tertentu dengan kostum, model rambut dan make-up yang tetap "gaya". Sayangnya, ada beberapa adegan yang konyol sebetulnya tidak penting untuk tetap ditampilkan, dan beberapa aksi yang janggal hanya bisa kita maafkan.

Siapa yang lebih ganteng?


Sebagai film vampir, ada sedikit cipratan-cipratan film Interview with The Vampire, yaitu dalam hal hubungan antar tokoh dan dialog ala vampirnya. Sedikit suasana surealis pun ada, juga aksi vampir dengan "kesaktian" yang cukup kita kenal: bisa terbang, atau loncat sangat tinggi, bergerak sangat cepat, dan punya daya pulih untuk tiap luka sehingga hanya bisa mati dengan cara-cara tertentu… yang kita juga sudah tahu.

Gambar ini memang mencurigakan. Tapi ini adalah
gambar dari salah satu adegan yang penting
dan berkesan di film ini.


Sebagai kisah cinta dan persahabatan, film ini cukup menyentuh dengan cinta segitiga dan konflik antar sahabat. Status vampir pun menjadi aspek penting (untunglah, tanpa kisah macam di seri Twilight). Kita temukan juga konflik antar saudara yang sayangnya tidak cukup tereksplor di sini. Hampir kumplit, mirip kisah drama tragis Korea.

Gackt, HYDE dan Wang Lee Hom, juga para pemeran lainnya tampil sesuai kapasitas masing-masing.
HYDE sebagai Kei, Vampir dengar umur jauh lebih tua dibanding tampilan fisiknya, memang tidak sekeren dan sekharismatik Lestat, maupun Count Dracula. Tapi cukup untuk karakter Kei. Cukup suram, cukup menyedihkan.
Gackt yang memerankan Shou, anak yang sejak kecil bersahabat dan tumbuh bersama Kei, cukup mampu menampilkan perkembangan karakternya, sehingga kita akan bisa memaafkan make-up wajahnya, dan pilihan fashionnya. Taro Yamamoto sebagai Toshi, sahabat Sho dari kecil tampil memikat dan menyeimbangkan keberadaan para tokoh idola walau porsi perannya tidak begitu banyak. Wang Lee Hom sebagai Son, pemuda asal taiwan yang dibawa jalan nasib bergabung dengan geng Kei & Sho tampil tak kalah memikat. Sayangnya tidak cukup banyak adegan untuk mengeksplorasi konflik yang dialami Son mengenai pilihan-pilihan hidupnya. Zeny Kwok sebagai Yi Che, adik Son merupakan pemanis yang tepat tanpa bicara, cukup dengan melamun, menatap dan tersenyum. Memang karakternya tak perlu dieksplor lebih jauh.

Yi Che-Kei-Sho-Son-Toshi

Sebagai suatu rangkaian adegan, rangkaian gambar, rangkaian aksi dan dialog, berbumbu musik, Moon Child menjadi suatu karya yang unik dengan caranya sendiri. Kita bisa menikmatinya sebagai film yang tidak tampak ambisius dengan big budget, tapi berhasil membuat momen-momen yang kuat dan memikat. Keterbatasan visual film ini termaafkan dengan muatan cerita yang cukup padat dan walau tidak terlalu mendalam, bukan berarti tanpa pesan. Sementara kejanggalan-kejanggalan dari cerita termaafkan dengan penampilan para aktornya.

Bisa dikatakan, justru karena tidak seberat dan tak mrncaapai surealisme seperti film Interview with the Vampire, maka hubungan antar tokohnya terasa lebih dekat dengan kita-dengan kemanusiaan dibandingkan dengan, dalam hal ini, Lestat - Louis - Armand - Claudia. Karena tidak semengharu-biru film drama Korea, maka konflik percintaannya itu jadi cukup. Tidak mengambil porsi yang besar, tapi terasa pengaruhnya. Konflik antar mafianya pun cukup jelas dan dilematis, tanpa perlu ditampilkan sekompleks film mafia Hong Kong.

Segala hal tanggung yang terdapat di film Moon Child ternyata menjadi resep yang pas dan bisa membuatnya menjadi tontonan yang menarik, menghibur, mengharukan, walau tidak membuat kita berpikir dan memaknai film ini lebih mendalam.

Jaket putihnya mungkin sudah dikapalkan bersama kontainer baju bekas ke Indonesia,
dan dipakai oleh salah satu vokalis band di Indonesia
yang menggunakan angka 12 di nama bandnya.

Jaket merahnya...aku mauuuu


sambalado's Trivia:

Moon Child Syndrom II


Monday, December 14, 2009

My list of 10 favourite Hong Kong movies released during the years 2000-2009

Movies I voted for LoveHKfilm.com list of Top 50 Hong Kong Films of the Decade.

1. 2046
2. Time and Tide
3. Infernal Affairs
4. In The Mood for Love
5. Lust, Caution
6. Curse of the Golden Flower
7. Ashes of Time Redux
8. The Eye
9. Shaolin Soccer
10.Crouching Tiger Hidden Dragon

This poll is for Hongkong movies, with some criterias from the voting organizer. Ang Lee's & Zhang Yimou's on this list already pass the criterias. Also Ashes of Time Redux, which original version was produced on 1994.
So In this list I have one Tsui Hark's, three WKW's, two Ang Lee's, One Stephen Chow's, One Pang Bros, one Andrew Lau's, one Zhang Yimou's.

Addendum: I should have put Hero in number 6 and Chinese Odissey 2002 in number 10. Redux & Crouching Tiger will be sadly removed from this top ten. But still in top fifteen perhaps.. Hmm I should make my top 25 or top 50 for Chinese movies, so all Zhang Yimou's (except House of flying dagger) will make to the list.

You can check the complete result as republished here

Sunday, November 22, 2009

P C


Saya tidak menggunakan panggilan"Dek" padahal dia jelas terlihat lebih muda, juga tidak dengan "Kang" atau "Aa" walau kemungkinan besar dia orang setempat, alias orang sunda . Saya tidak tahu siapa namanya, seorang petugas di toko buku diskon terkenal di Bandung.
Menggunakan panggilan "Mas' pada siapa saja walau sering terasa janggal, sepertinya tetap paling aman.

"Mas, ada majalah PC Media?"

Saya yakin majalah itu dijual di situ, dan pasti ditempatkan bersama majalah-majalah yang lain, tapi saya tidak 'ngeh di bagian mana rak majalah dalam toko tsb. Saya pikir minta saja agar ditunjukkan petugas sekalian dicarikan kalau mungkin tak terlihat karena tertumpuk2 atau terselip atau kurang menonjol tampilannya di antara majalah2 lain..

Si 'Mas' ini sedang berada di depan komputer katalog setelah melayani pengunjung yang lain. Dia langsung pasang ancang mau mengetik judul yang saya sebutkan di komputer, hal yang tidak perlu karena yang saya cari adalah majalah yang cukup umum dan seharusnya dia pun tahu keberadaannya.
Tapi itikad baiknya itu saya biarkan saja.

Dia mulai mengetik

V - I - S - I

"PC Media mas.."

V - I -

"PC Media, Pi-Si.. Pe-Ce.."

V - E -

"Pe Ce"

V

"Pe Ce! Pe! Pe! "

V

"PPPe CCCCe!! PPPe!!! Peeeeeeeeeee!!!

V.. "Oooohhh"
Barulah dia tersadar dan mengetik PC Media


"Ada"
"Iya, ada di mana?"
"Di bagian majalah"
"Ya mana bagian majalahnya?"
Lalu dia tunjukkan

Bagaimanapun harus berterimakasih atas bantuannya. Dan walaupun malah menambah pengeluaran energi, tapi dapet hiburan juga.

Do I look sundanese to you?