Comrades, Almost a Love Story ( 甜蜜蜜), 1996
Director: Peter Chan Ho-Sun
Writer: Ivy Ho
Cast:
Maggie Cheung Man-Yuk, Leon
Lai Ming, Eric Tsang Chi-Wai,
Kristy Yeung Kung-Yu, Joe
Cheung Tung-Cho, Christopher Doyle
Contoh
tipe manusia yg biasanya menjadi “musuh bersama” kita di dunia nyata:
Suami yg selingkuh dan wanita selingkuhan yang suka memanfaatkan orang
(apalagi kalau kita adalah korban mereka). Namun, ketika sebuah film
menjadikan tokoh seperti mereka ini sebagai pemeran utamanya, kita akan
melihat dari sudut pandang lain, yang mungkin akan membuat kita
memaklumi kesalahan kedua tokoh ini.
Film "Comrades,
Almost a Love Story" a.k.a. "Tian Mi Mi" adalah salah satunya. Dengan
menampilkan alur cerita dalam rentang masa kehidupan hampir satu dekade
dengan karakterisasi kuat tokoh-tokohnya, penonton dapat mengeksplorasi
dinamika perasaan yang begitu kaya, kompleks, yang seringkali terlalu
disederhanakan dalam film-film jenis drama Hollywood. Latar belakang
lokasi dan budaya membantu memberikan gambaran dan pemahaman yang
memperkaya film ini dari sekedar kisah cinta tanpa akar.
Xiao
Jun (Leon Lai), seperti kebanyakan warga Mainland China merantau dari
kampungnya ke Hong Kong untuk bekerja. Dalam kegagapannya menghadapi
dunia baru disertai hambatan bahasa, dia berteman dengan Li Chiao
(Maggie Cheung) yang membantu sekaligus memanfatakannya untuk banyak
proyek. Keduanya adalah pekerja keras yang berjuang untuk mewujudkan
cita-citanya masing-masing demi penghidupan yang lebih baik. Pertemanan
fungsional ini pun berkembang menjadi “friends with benefit”. Setelah
berlangsung beberapa bulan, perbedaan antara mereka dalam menyikapi
hubungan tersebut, Xiao Jun yang memiliki tunangan di kampungnya,
ditambah situasi ekonomi di Hong Kong saat itu membuat mereka harus
berpisah dan memilih jalan yg berbeda.
Setelah
beberapa tahun mereka bertemu lagi dengan kondisi impian masing-masing
yang telah terwujud: Xiao Jun sudah memboyong dan menikahi tunangannya
(ya, yang sudah diselingkuhinya itu), sementara Li Chiao sudah menjadi
pengusaha sukses, dan hidup bersama Pao (Eric Tsang), bos mafia yang
membantu Li Chiao saat sedang bangkrut-bangkrutnya korban krisis moneter
di HK tahun 1987.
Ketika interaksi antara mereka
berlanjut, "CLBK" pun terjadi, dan justru saat itulah mereka memutuskan
bahwa mereka sebenarnya ingin untuk terus bersama. Xiao Jun dan Li
Chiao mulai memikirkan bagaimana mereka menyampaikan pengakuan kepada
pasangan masing-masing, ketika kondisi hubungan masing-masing
sebetulnya dalam keadaan tanpa masalah.
Bagaimana
selanjutnya mereka menyikapi kondisi ini dan keputusan yang harus mereka
buat, mengalir dalam jalan takdir yang berlaku dalam hidup mereka,
dan menunjukkan bahwa tidak mudah menyederhanakan perasaan dan pilihan
hidup, apalagi ketika melibatkan orang-orang lain.
Sebagai
sebuah film, "Comrades" sangatlah efektif menyampaikan semua emosi
dalam komplikasinya, dan menjadi salah satu film paling romantis yang
pernah diproduksi di dunia ini dalam prinsip bahwa hidup harus terus
berlanjut. Salah satu kekuatannya ada pada akting Maggie Cheung yang
hanya dengan merubah ekspresinya, tanpa banyak berkata-kata, semua emosi
dan perasaan Li Chiao dapat tersampaikan. Akting Maggie Cheung
diimbangi dengan akting Eric Tsang yang matang walau tidak banyak porsi
kemunculannya, sementara kekakuan Leon Lai dimanfaatkan dengan tepat
untuk karakternya. Didukung musik latar yang sangat kuat untuk membentuk
suasana, serta musik pop Teresa Teng yang sangat terkenal pada masa itu
dan cukup melegenda, membuat film ini secara umum pun cukup mudah untuk
disukai.
Film "Comrades" bukanlah tipe tearjerker,
bahkan tanpa unsur-unsur klise mengenai ide-ide romantisme di film,
juga tanpa hal-hal spektakuler seperti heroisme atau pengorbanan yang
berlebihan, tanpa tempat pertemuan spesial di ujung dunia atau puncak
menara. Kejadian2 di film ini seperti hal-hal casual, dalam
keseharian tokoh-tokohnya yang mungkin bisa terjadi pada siapa saja:
Bagaimana pertemuan dan perpisahan, persahabatan dan percintaan
digariskan dalam nasib setiap orang.
Seperti apa kisah
di film ini akan berakhir? Apakah penonton berharap Li Chiao & Xiao
Jun akhirnya bersatu? itukah yang kita sebut Happy ending?
Ada beberapa kemungkinan penyelesaian untuk situasi di film ini:
Versi
Hollywood: Pao terlibat kasus yang membuatnya dipenjara sementara Xiao
Ting ternyata punya selingkuhan. Akhirnya masing2 punya alasan berpisah
dengan pasangannya dan saling mengakui bahwa saling mencintai dan
mereka pun akhirnya jadian.
Versi Korea: salah satu yg
diselingkuhi kecelakaan dan cacat, dan salah satu dari Li Chiao/ Xiao
Jun akan pergi dengan kegalauan lalu bunuh diri atau mati kecelakaan
gara-gara suatu tindakan konyol, meninggalkan yg satu lagi jadi gila.
Tapi
ini adalah film Hong Kong, keegoisan mungkin akan mendapat karma, maka
kesedihan ditempuh untuk mengembalikan suatu kehidupan, ketika akhir
menjadi awal.
**************************************************
Sunday, April 13, 2014
Monday, January 13, 2014
Thursday, October 10, 2013
GF*BF yang Blue Gate Crossing
Blue Gate Crossing adalah salah satu film "Ruang Santai" yang sekitar
satu dekade lalu pernah dipertontonkan Neng Sally pada khalayak LFM
dan saya berkesempatan ikut menontonnya. Tidak seperti beberapa film
pilihan Sally yang lain yang rada bikin trauma (hehe..), film satu ini
menyisakan kesan positif. Sekian tahun berlalu, secara detail saya sudah
lupa isi ceritanya, tapi ketika menemukan keberadaan film Girlfriend *
Boyfriend, alias GF*BF yang dirilis tahun 2012, beberapa hal
mengingatkan lagi akan film BGC, dan beberapa waktu setelah itu berhasil
mengcopy bajakannya dari Neng Sally untuk menyegarkan ingatan.
Di antara BGC dan GF*BF, ada kesamaan yang paling jelas, yaitu dua-duanya produksi Taiwan dan pemeran utama wanitanya Guey Lun Mei, menampilkan kehidupan anak SMA, kisah cinta segitiga dan dilema persahabatan. Okey, satu lagi yang membuatnya semakin mirip walau berbeda, mungkin satu hal yang seharusnya SPOILER ALERT!!! Atau mungkin tidak apa-apa juga buat yang mungkin akan nonton tapi sudah mengetahui sebelumnya hal tersebut, karena menikmati kedua film ini adalah dengan mengikuti dan terbawa suasana-suasan yang terbangun sepanjang film, bukan mengenai "kejutan" atau jawaban akan sesuatu hal yang muncul di akhir cerita.
BGC dan GF*BF sama-sama bercerita tentang kisah cinta segitiga, dan di antara tiga tokoh utama yang terlibat ....mmmm.. ada yang suka pada sesama jenis (Ya, geleuh sih..). Jadi, masalah yang diangkat bisa dibilang sedikit kompleks dibandingkan permasalahan di film-film drama romantis kebanyakan. Kondisi persahabatan di antara mereka pun menjadi lebih dilematis. Beberapa hal pendukung dalam cerita kedua film ini juga memiliki kemiripan, seperti hobi berenang tokoh-tokohnya, kenorakan lucu-lucuan anak SMA yang kadang tampak agak berlebihan sebetulnya.
Kedua film ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi dua-duanya merupakan film favorit saya. Latar belakang BGC yang hanya berkisar dalam durasi singkat di masa SMA, membuatnya lebih ringan dan bisa untuk penonton kalangan remaja sedangkan GF*BF untuk penonton dewasa, mengikuti perkembangan para tokohnya sampai hampir tiga dekade dalam berbagai perubahan kondisi sosial politik di Taiwan sehingga jalan ceritnya pun jadi lebih "berat" karena mengandung muatan-muatan lain dalam latar belakangnya.
Yang paling menarik bagi saya adalah bahwa saya merasa film GF*BF bisa saja dianggap sebagai semacam "jawaban" dari film BGC. Di akhir film BGC, ada harapan dan pertanyaan yang muncul dari diri kita penonton, dan pertanyaan-pertanyaan dari tokohnya. Yang terjadi di film GF*BF menampilkan salah satu kondisi yang mungkin terjadi juga pada tokoh2 BGC bila kisah mereka berlanjut. Memang tanpa menganggap keduanya terkoneksi pun sebagai satu film sendiri, BGC adalah film yang tuntas. GF*BF lah yang justru memiliki beberapa "plot holes".
Walaupun demikian, GF*BF cukup berhasil membuat penonton mengabaikan beberapa ketidakjelasannya tersebut ketika film ini menampilkan penyelesaian dalam beberapa adegan yang bisa cukup menentramkan semua kegalauan sepanjang film.
Keistimewaan yang membuat kedua film ini tidak cepat membosankan dan tidak mudah terlupakan, adalah bagaimana olahan emosi ditampilkan dalam detail2 akting yang tampak begitu natural dari bahasa tubuh dan ekspresi tokoh-tokohnya dan terbangunnya suasana dengan permainan gambar & latar musiknya untuk membawa kita pada nostalgia setiap menonton ulangnya.
Di antara BGC dan GF*BF, ada kesamaan yang paling jelas, yaitu dua-duanya produksi Taiwan dan pemeran utama wanitanya Guey Lun Mei, menampilkan kehidupan anak SMA, kisah cinta segitiga dan dilema persahabatan. Okey, satu lagi yang membuatnya semakin mirip walau berbeda, mungkin satu hal yang seharusnya SPOILER ALERT!!! Atau mungkin tidak apa-apa juga buat yang mungkin akan nonton tapi sudah mengetahui sebelumnya hal tersebut, karena menikmati kedua film ini adalah dengan mengikuti dan terbawa suasana-suasan yang terbangun sepanjang film, bukan mengenai "kejutan" atau jawaban akan sesuatu hal yang muncul di akhir cerita.
BGC dan GF*BF sama-sama bercerita tentang kisah cinta segitiga, dan di antara tiga tokoh utama yang terlibat ....mmmm.. ada yang suka pada sesama jenis (Ya, geleuh sih..). Jadi, masalah yang diangkat bisa dibilang sedikit kompleks dibandingkan permasalahan di film-film drama romantis kebanyakan. Kondisi persahabatan di antara mereka pun menjadi lebih dilematis. Beberapa hal pendukung dalam cerita kedua film ini juga memiliki kemiripan, seperti hobi berenang tokoh-tokohnya, kenorakan lucu-lucuan anak SMA yang kadang tampak agak berlebihan sebetulnya.
Kedua film ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi dua-duanya merupakan film favorit saya. Latar belakang BGC yang hanya berkisar dalam durasi singkat di masa SMA, membuatnya lebih ringan dan bisa untuk penonton kalangan remaja sedangkan GF*BF untuk penonton dewasa, mengikuti perkembangan para tokohnya sampai hampir tiga dekade dalam berbagai perubahan kondisi sosial politik di Taiwan sehingga jalan ceritnya pun jadi lebih "berat" karena mengandung muatan-muatan lain dalam latar belakangnya.
Yang paling menarik bagi saya adalah bahwa saya merasa film GF*BF bisa saja dianggap sebagai semacam "jawaban" dari film BGC. Di akhir film BGC, ada harapan dan pertanyaan yang muncul dari diri kita penonton, dan pertanyaan-pertanyaan dari tokohnya. Yang terjadi di film GF*BF menampilkan salah satu kondisi yang mungkin terjadi juga pada tokoh2 BGC bila kisah mereka berlanjut. Memang tanpa menganggap keduanya terkoneksi pun sebagai satu film sendiri, BGC adalah film yang tuntas. GF*BF lah yang justru memiliki beberapa "plot holes".
Walaupun demikian, GF*BF cukup berhasil membuat penonton mengabaikan beberapa ketidakjelasannya tersebut ketika film ini menampilkan penyelesaian dalam beberapa adegan yang bisa cukup menentramkan semua kegalauan sepanjang film.
Keistimewaan yang membuat kedua film ini tidak cepat membosankan dan tidak mudah terlupakan, adalah bagaimana olahan emosi ditampilkan dalam detail2 akting yang tampak begitu natural dari bahasa tubuh dan ekspresi tokoh-tokohnya dan terbangunnya suasana dengan permainan gambar & latar musiknya untuk membawa kita pada nostalgia setiap menonton ulangnya.
GF*BF A.K.A. : Girlfriend*Boyfriend
Director: Yang Ya-Che
Writer: Yang Ya-Che
Stars: Joseph Chang ,
Gwei Lun-Mei, Rhydian Vaughan, Bryan Shu-Hao Chang,
Blue Gate Crossing
Director:Chih-yen Yee
Writer: Chih-yen Yee
Stars: Gwei Lun-Mei,
Bo-lin Chen,
Shu-hui Liang
Saturday, June 15, 2013
Wong Kar Wai Singkat Secara Singkat
Sementara film-film panjangnya mungkin bisa dianggap "not for
everyone", film-film pendek karya Wong Kar Wai mungkin malah lebih asik
dinikmati sebagai suguhan keindahan audio & visual tanpa terlalu
"terbebani" oleh ceritanya, sehingga mudah diikuti.
Ada beberapa contoh film pendek yang ditulis dan disutradarai Wong Kar Wai, berupa film iklan dari produk2 tertentu. Berhubung dengan tujuan konsumerisme, maka film2 ini haruslah bisa catchy untuk banyak orang.
WKW berhasil merepresentasikan produk yang dipromosikan dalam suatu cerita dan menampilkannya dengan puitis khas WKW, tidak mesti eksplisit, tapi tanpa menghilangkan esensi produknya.
Indah di mata walaupun suaranya disilent, dan indah didengar walaupun tanpa melihat gambar-gambarnya, demikianlah salah satu keistimewaan karya2 Wong Kar Wai.
Déjà Vu for Chivas Regal
Dengan permainan cahaya dan ruang, WKW mempuisikan produk minuman haram di iklan ini, dilengkapi "filosofi cinta" yang baru kali ini saya dengar:
Ceritanya simpel saja, tentang pertemuan sepasang manusia, lalu mereka berpisah dan sambil si cewek berpesan:
Nah "miracle"nya itu lah produk yang dipromosikan dalam film ini. Ditambah lagi, kehadirannya di film ini ceritanya disertai keajaiban fenomena alam.
Warna gelap keemasan, arsitektur antik nan eksotis, kemegahan interior dan musik dengan aktor-aktris yang indah di mata serta musik yang dramatis, membuat minuman haram ini tampak begitu berkilau, mewah dan seolah penuh keajaiban.
Film satu ini cukup menonjol keiklanannya karena di beberapa frame, label produknya terlihat jelas.
Ada versi trailer, dan dua episode yang isinya beririsan.
ep 1:
ep 2
There’s Only One Sun for Philips Aurea, LCD TV
Yang satu ini sangat mirip film 2046, dari segi warna-warnanya, kostum dan suasana futuristiknya bahkan pemilihan musiknya dengan adanya lagu yang sama, walau dari penyanyi berbeda. Ceritanya sih jauh berbeda. Kali ini WKW mengangkat cerita khas kisah mata-mata, yang menghadapi konflik perasan karena terlalu jauh terlibat dengan targetnya. Tentang melihat, mengingat, dan merasa.
The Follow for BMW
The Follow adalah salah satu dari sejumlah film pendek BMW dalam serial The Hire yang diperankan Clive Owen, dan merupakan yang paling unik dibanding episode2 yg lain. Secara sinematografi, biasa saja tidak terlalu menonjol warna keWKWannya tapi walau skenarionya tidak ditulis oleh WKW, ceritanya lebih bermakna dibanding episode-episode serial The Hire yg lain, dan dengan variasi alur dan twist cerita, WKW bisa menempatkan berbagai hal yang khas karya2nya: narasi monolog, adegan dan musik yang pas sehingga tetap berhasil membuatnya puitis disertai adegan ngalamun, dan tokoh wanita yang memakai kaca mata hitam tak lepas-lepas.
Di episode-episode yang lain, walaupun seru khas masing2 sutradara, dan pemerannya juga all-star, semuanya mengedepankan tentang kebut2an dengan si BMW. Apakah itu mengejar, dikejar, ataupun balapan. Bahkan versinya Ang Lee malah mengecewakan, karena jadi terlalu Hollywood, tentang kejar2an juga tanpa memunculkan keistimewaannya yang ada di film2 lain, plus “cameo” The Hulk yang gak penting.
The Follow bercerita tentang membuntuti orang, yang justru perlu teknik bagaimana menjaga jarak.... jangan terlalu dekat, dan juga jangan sampai kehilangan yang sangat membutuhkan kesabaran dan pengendalian diri. Bagaimana menunggu, dan bagaimana harus bersikap dan bereaksi terhadap “target”.
Bener deh sodara2, penggemar BMW atau bukan, stalker atau bukan, liat deh yang satu ini.
Ada beberapa contoh film pendek yang ditulis dan disutradarai Wong Kar Wai, berupa film iklan dari produk2 tertentu. Berhubung dengan tujuan konsumerisme, maka film2 ini haruslah bisa catchy untuk banyak orang.
WKW berhasil merepresentasikan produk yang dipromosikan dalam suatu cerita dan menampilkannya dengan puitis khas WKW, tidak mesti eksplisit, tapi tanpa menghilangkan esensi produknya.
Indah di mata walaupun suaranya disilent, dan indah didengar walaupun tanpa melihat gambar-gambarnya, demikianlah salah satu keistimewaan karya2 Wong Kar Wai.
Déjà Vu for Chivas Regal
Dengan permainan cahaya dan ruang, WKW mempuisikan produk minuman haram di iklan ini, dilengkapi "filosofi cinta" yang baru kali ini saya dengar:
Love is like Ice, how long can you hold on to it?
Ceritanya simpel saja, tentang pertemuan sepasang manusia, lalu mereka berpisah dan sambil si cewek berpesan:
"I will comeback If you grant me three wishes: same place, same table, same….. miracle.. "
Nah "miracle"nya itu lah produk yang dipromosikan dalam film ini. Ditambah lagi, kehadirannya di film ini ceritanya disertai keajaiban fenomena alam.
Warna gelap keemasan, arsitektur antik nan eksotis, kemegahan interior dan musik dengan aktor-aktris yang indah di mata serta musik yang dramatis, membuat minuman haram ini tampak begitu berkilau, mewah dan seolah penuh keajaiban.
Film satu ini cukup menonjol keiklanannya karena di beberapa frame, label produknya terlihat jelas.
Ada versi trailer, dan dua episode yang isinya beririsan.
ep 1:
ep 2

Between shadow and golden light, it's Chang Chen in a suit!
There’s Only One Sun for Philips Aurea, LCD TV
Yang satu ini sangat mirip film 2046, dari segi warna-warnanya, kostum dan suasana futuristiknya bahkan pemilihan musiknya dengan adanya lagu yang sama, walau dari penyanyi berbeda. Ceritanya sih jauh berbeda. Kali ini WKW mengangkat cerita khas kisah mata-mata, yang menghadapi konflik perasan karena terlalu jauh terlibat dengan targetnya. Tentang melihat, mengingat, dan merasa.
It’s hard to look at things directlySatu lagi yang nembuat unik film ini adalah perbedaan bahasa anatara tokohnya, si cewek berbahasa prancis, yang cowok2 bahasa rusia. No problem toh buat yangga mengerti keduanya tinggal baca teks bhs inggris, tapi efek yang terdengar rasanya unik sekali, karena betapa bahasa rusia itu sangat jauh berbeda dari bahasa2 eropa yang lebih sering kita dengar, dan memberi mood yang lebih dramatis. Hal ini juga mengkukuhkan perbedaan dan jarak yang menyebabkan dilema bagi si agen cewek.
They are too bright and too dark,
Sometimes we need to see things through a screen.
On one side of the screen, memory fades
On the other, they glow forever..

Mbayangkan kalau film ini ditonton melalui layar yang diiklankan...
Cuplikan
puisi rusia di akhir film semakin melengkapi kepuitisan film ini,
ditambah lagi lagu berbahasa spanyol yang melatari monolog bahasa
prancis .. memang tak ada yang sempurna di dunia ini, tapi ini iklan
yang nyaris sempurnaaa!!The Follow for BMW
The Follow adalah salah satu dari sejumlah film pendek BMW dalam serial The Hire yang diperankan Clive Owen, dan merupakan yang paling unik dibanding episode2 yg lain. Secara sinematografi, biasa saja tidak terlalu menonjol warna keWKWannya tapi walau skenarionya tidak ditulis oleh WKW, ceritanya lebih bermakna dibanding episode-episode serial The Hire yg lain, dan dengan variasi alur dan twist cerita, WKW bisa menempatkan berbagai hal yang khas karya2nya: narasi monolog, adegan dan musik yang pas sehingga tetap berhasil membuatnya puitis disertai adegan ngalamun, dan tokoh wanita yang memakai kaca mata hitam tak lepas-lepas.
Harus itu, harus..... gak afdol kalau gak ada adegan ngalamun
Di episode-episode yang lain, walaupun seru khas masing2 sutradara, dan pemerannya juga all-star, semuanya mengedepankan tentang kebut2an dengan si BMW. Apakah itu mengejar, dikejar, ataupun balapan. Bahkan versinya Ang Lee malah mengecewakan, karena jadi terlalu Hollywood, tentang kejar2an juga tanpa memunculkan keistimewaannya yang ada di film2 lain, plus “cameo” The Hulk yang gak penting.
The Follow bercerita tentang membuntuti orang, yang justru perlu teknik bagaimana menjaga jarak.... jangan terlalu dekat, dan juga jangan sampai kehilangan yang sangat membutuhkan kesabaran dan pengendalian diri. Bagaimana menunggu, dan bagaimana harus bersikap dan bereaksi terhadap “target”.
Bener deh sodara2, penggemar BMW atau bukan, stalker atau bukan, liat deh yang satu ini.
Monday, April 15, 2013
Matahari di Tengah Malam
Los Amantes del Círculo Polar (Lovers of the Arctic Circle)
Spain, 1998
Director: Julio Medem
Writer: Julio Medem
Stars: Najwa Nimri, Fele Martínez, Nancho Novo
Judulnya agak cheesy. Ceritanya pun, mengandung tema yang kurang lebih sudah familiar karena sampai sekarang masih banyak dipakai mulai dari drama hollywood sampai sinetron korea. Ya, tentang cinta, sepasang manusia yang terpisahkan dan keinginan untuk bersatu kembali, diromantisasi dengan tempat perjanjian pertemuan spesial. Dengan tema yang familiar tersebut, tapi dengan pemilihan bahan dan cara pengolahan yang berbeda menjadikan film "Lovers of the Arctic Circle" suatu produk yang istimewa dan unik. Film yang indah, romantis, mengharukan, dan mungkin tidak mudah dilupakan.
Otto dan Ana bertemu sejak kecil di sekolah dasar saat sama-sama sedang menghadapi kesedihan mendalam: Ayah Ana baru meninggal, sementara Otto baru mengalami perpisahan orang tuanya. Dalam proses menghadapi masalah mereka, tanpa sengaja mereka justru menyebabkan ortu masing-masing berkenalan. Selanjutnya ayah Otto dan Ibu Ana menikah, memberi kesempatan Otto dan Ana remaja berhubungan diam-diam.
Lewat beberapa tahun kemudian, mereka berpisah dikarenakan Otto yang merasa bersalah dan sangat sedih setelah ibunya meninggal mendadak, memilih pergi menjalani hidup sendiri meninggalkan ayahnya dan juga meninggalkan Ana.
“Kebetulan” dipercayai Anna selalu terjadi pada hidupnya. Seperti kebetulan nama Ana dan Otto sama-sama merupakan palyndrom, yang bila dibaca dari belakang bunyinya tetap sama. Hanya saja, yang namanya “kebetulan” semestinya bukanlah hal yang sedang diharapkan. Ketika mengharapkan mengalami kebetulan bertemu kembali dengan Otto, Ana malah bertemu dengan Martin, guru di sekolahnya, dan mereka tinggal bersama sementara Otto baru menjalani karir yang membuatnya semakin menjauh dari Ana.
Setelah lewat beberapa tahun, Ana memutuskan berpisah dari Martin dan mengharapkan bertemu kembali dengan Otto. “Kebetulan” memberi kesempatan Ana untuk pergi ketempat impiannya di Finlandia, wilayah Laponia di Finlandia yang masuk dalam radius lingkar arktik, tempat kita dapat melihat “midnight sun”, yaitu ketika pada musim panas matahari tak pernah menghilang di balik cakrawala. Dalam perjalanannya, Ana menemukan suatu “kebetulan” lain, peririsan takdirnya dengan Otto yang ternyata sudah tergaris sejak puluhan tahun. Sementara itu, Otto pun semakin menyadari hidupnya tak lengkap tanpa Ana.
Walaupun inti cerita adalah hubungan Ana dan Otto yang seolah begitu sejati dan tidak seharusnya terpisah, kita juga disuguhi bentuk2 cinta yang lain, yang bisa juga memudar sehingga terasa lebih dekat dengan kenyataan, dan cinta yang lebih sejati antara anak dan orang tua.
Perpisahan Otto dan Ana disebabkan kelabilan mereka sendiri, khususnya dari pihak Otto, bukan karena pihak lain yang ingin memisahkan, tapi juga bukan berdasarkan alasan-alasan yang tampak konyol yang akan membuat penonton berpendapat: : “ya udah lah jangan nyusah2in diri, tinggal jadian lagi aja, saling kontak lagi aja”.
Dari apa yang mereka alami, penonton yang cukup terlibat akan bisa memaklumi dan menerima proses dalam diri mereka. Otto memang harus pergi, Ana memang harus mencoba berhubungan dengan pria lain. Bila belum saatnya mereka bersatu, berarti memang belum bisa. Dan kemudian, untuk bisa bertemu pun mereka harus pergi ke tempat yang bagi mereka merupakan "dunia lain", yaitu negeri "midnight sun". Karena itu lah ketika nyaris tiba waktu pertemuan, penonton pun bisa lebih menghargai dan meningkatkan harapan bersama para tokohnya.
Menonton film ini sebetulnya cukup mudah karena penonton punya kecenderungan ekspektasi sederhana: agar pasangan Ana dan Otto bisa bersatu kembali. Beberapa clue di awal sudah memberi isyarat agar kita menyiapkan mental untuk sesuatu yang bukan happy ending. Dengan antisipasi itu pun, twist cerita di bagian akhir tetap cukup mengejutkan. Penyelesaian yang ambigu memberi pemaknaan dan harapan yang berbeda bagi penonton .
Film ini sukses berbicara dengan narasi dan bahasa gambar yang saling menguatkan. Alur cerita dinarasikan secara kilas balik dan bergantian antara sudut pandang kedua tokoh. Perbedaan persepsi dari Otto dan Ana akan berbagai kejadian membawa penonton terlibat dalam proses perkembangan karakter seiring bertumbuh dewasanya kedua tokoh.
Jalan takdir dalam "kebetulan-kebetulan" yang terjadi terasa cukup natural dan divisualisasikan dengan baik dalam keterkaitan antara adegan sepanjang film. Adegan-adegan tertentu dengan detail-detail gambar atau dialog-dialog tertentu akan mengarahkan ke hal-hal lain, seperti berita di TV, kemunculan rusa, bis merah, pesawat kertas dan banyak lagi, semua punya makna yang menjawab atau menguatkan kejadian2 selanjutnya.
Tiga paket pemeran tokoh inti Otto dan Ana chemistrynya kuat, enak dipandang dan aktingnya bagus terutama paket pemeran dewasa: Fele Martinez & Najwa Nimri yang paling terlihat olahan emosinya. Perkembangan hubungan keduanya juga terasa dan divisualisasikan dengan sangat baik. Bertahun2 Ana dan Otto lewatkan berangkat sekolah bersama dalam diam, tapi koneksi antara keduanya tetap terasa, berkomunikasi lewat ekspresi dan lirikan mata, dalam hal ini paket pemeran anak dan remaja menampilkannya dengan sangat baik. Yang agak menganggu hanyalah Otto remaja yang terlalu seperti perempuan. Tokoh-tokoh orang tua mereka juga tampil baik dan natural dengan permasalahan mereka.
Yang semakin membuat film ini terasa indah, romantis dan istimewa, justru minimalnya pernyataan2 cinta dan kata-kata motivasi. Semua gejolak emosi dan perasaan tergambar dan tersampaikan dengan sangat baik melalui bahasa gambar, ekspresi para aktor, bahkan monolog dan dialog yang terasa normal. Sayangnya ada hal dibahas berulang-ulang dan secara verbal, seperti masalah nama palindrom dan "kebetulan" yang dipercayai Ana, Sepertinya pembuat film ini begitu ingin menekankan topik tersebut dan khawatir penonton tidak memahami.
Memahami atau tidak, mendukung atau tidak keusksesan pasangan Ana & Otto, film ini cukup menghibur dan mudah dinikmati sebagai suatu karya sinema yang kaya.
Rasanya mendapatkan jackpot ketika menemukan satu lagi film yang masuk daftar referensinya film Mr. Nobody. Sementara sepertinya memang saya belum akan berhasil menulis tentang Mr. Nobody sampai ketemu lagi semua film referensinya (?) atau emang gak sanggup aja. Film satu ini cukup spesifik, bahkan di imdb pun tertulis bahwa bagian2 tertentu Mr.Nobody merefer ke sini.
!!! **SPOILER ALERT**!!!
Beberapa adegan kunci yang agak mengganggu:(yang belum nonton dan berminat nonton mending jangan baca yaaa )
Pesawat kertas yang disebar Otto tidak pernah disebut dengan jelas isinya. Tapi pada saat Otto melempar2nya dari toilet gedung sekolahnya, ada kertas yang belum dilipat jadi pesawat dan terlihat sekilas tulisannya, Tapi tetap tidak terbaca hanya terlihat dua baris dan ada tanda tanya di belakangnya. Kalau dengan resolusi lebih tinggi dan mengerti bahasa spanyol, mungkin bisa mendeteksinya.
Waktu Ana dan Otto nyaris berpapasan dan duduk berdekatan tapi tidak saling melihat satu sama lain rasanya agak mengganjal. Apa mungkin ya, dengan jarak segitu tidak saling "ngeuh"? Saya pikir walaupun tidak saling melihat, kalau ada orang yang kita kenal akan ada semacam aura yang terasa. Teman lama yang sudah lama sekali tidak bertemu saja kadang kita bisa melihat dari jauh, apalagi ini keluarga yang sudah tinggal bersama bertahun-tahun. Kalau mereka muter2in kepala sedikit saja kan pasti saling melihat, Atau mungkin memang saya pun tidak akan tahu ya kalau yang seperti ini pernah saya alami.
Mengenai ending. Oke ada dua versi penyelesaian. Tapi secara logika, yang paling mungkin terjadi adalah yang kedua. Yang versi satu kurang sesuai dengan plot sebelumnya, Kenapa bisa Otto sudah duluan menunggu di rumah Otto tua? lalu, juga ada kejangalan dengan koran di tangan Ana.
Model penyelesaian semacam film Love me if You Dare, bikin ambigu & penonton jadi ada yang berharap happy ending, tapi kalau kata saya sih Love me If You Dare juga jelas mana yang lebih kuat adegannya.
Sub-judul Otto dan Ana yang muncul berganti bulak balik setiap film berganti sudut pandang, awalnya terasa tidak terlalu perlu. Kita seharusnya bisa dengan mudah mengerti ketika narasi berganti, adegan berulang dari sudut pandang yang berbeda. Tapi belakangan sub judul itu berubah bukan sekedar Otto/ Ana lagi. Pasti ada maksud dari Julio Medem mengenai hail ini, mungkin berkaitan dengan endingnya juga. Sayangnya saya kurang paham, tapi cukup lah menikmati perubahan itu sebagai variasi permainan sutradara dalam teknik story telling.
Paling suka sama ekspresi mba2 toko pernak pernik., Priceless! diulang berapa kali bikin ketawa terus
Tambahan setelah KineMala: Ternyata ada yg berpendapat bahwa Otto pun tewas bersama jatuhnya pesawat, jadi adegan dia nyangkut & bertemu si orang Finlan yg nyelamatin dia itu pun termasuk khayalan karena di mobil Otto nanya apa dia bisa "ski upward" dan orang itu mengangguk.
Kalau kata saya sih bisa juga, tapi logikanya agak jauh pesawatnya kan jatuh di utara banget,di luar trayek dia jadi rada aneh kenapa bisa nyasar ke sana. Tadinya saya kira sesuai adegan pembuka dan omongan Otto kecil dia akan mati kalau kehabisan bensin. Jadid kalaupun pesawatnya jatuh krena kehabisan bensin, harusnya masih di dalam trayek.
Spain, 1998
Director: Julio Medem
Writer: Julio Medem
Stars: Najwa Nimri, Fele Martínez, Nancho Novo
Judulnya agak cheesy. Ceritanya pun, mengandung tema yang kurang lebih sudah familiar karena sampai sekarang masih banyak dipakai mulai dari drama hollywood sampai sinetron korea. Ya, tentang cinta, sepasang manusia yang terpisahkan dan keinginan untuk bersatu kembali, diromantisasi dengan tempat perjanjian pertemuan spesial. Dengan tema yang familiar tersebut, tapi dengan pemilihan bahan dan cara pengolahan yang berbeda menjadikan film "Lovers of the Arctic Circle" suatu produk yang istimewa dan unik. Film yang indah, romantis, mengharukan, dan mungkin tidak mudah dilupakan.
Otto dan Ana bertemu sejak kecil di sekolah dasar saat sama-sama sedang menghadapi kesedihan mendalam: Ayah Ana baru meninggal, sementara Otto baru mengalami perpisahan orang tuanya. Dalam proses menghadapi masalah mereka, tanpa sengaja mereka justru menyebabkan ortu masing-masing berkenalan. Selanjutnya ayah Otto dan Ibu Ana menikah, memberi kesempatan Otto dan Ana remaja berhubungan diam-diam.
Lewat beberapa tahun kemudian, mereka berpisah dikarenakan Otto yang merasa bersalah dan sangat sedih setelah ibunya meninggal mendadak, memilih pergi menjalani hidup sendiri meninggalkan ayahnya dan juga meninggalkan Ana.
“Kebetulan” dipercayai Anna selalu terjadi pada hidupnya. Seperti kebetulan nama Ana dan Otto sama-sama merupakan palyndrom, yang bila dibaca dari belakang bunyinya tetap sama. Hanya saja, yang namanya “kebetulan” semestinya bukanlah hal yang sedang diharapkan. Ketika mengharapkan mengalami kebetulan bertemu kembali dengan Otto, Ana malah bertemu dengan Martin, guru di sekolahnya, dan mereka tinggal bersama sementara Otto baru menjalani karir yang membuatnya semakin menjauh dari Ana.
Setelah lewat beberapa tahun, Ana memutuskan berpisah dari Martin dan mengharapkan bertemu kembali dengan Otto. “Kebetulan” memberi kesempatan Ana untuk pergi ketempat impiannya di Finlandia, wilayah Laponia di Finlandia yang masuk dalam radius lingkar arktik, tempat kita dapat melihat “midnight sun”, yaitu ketika pada musim panas matahari tak pernah menghilang di balik cakrawala. Dalam perjalanannya, Ana menemukan suatu “kebetulan” lain, peririsan takdirnya dengan Otto yang ternyata sudah tergaris sejak puluhan tahun. Sementara itu, Otto pun semakin menyadari hidupnya tak lengkap tanpa Ana.
Walaupun inti cerita adalah hubungan Ana dan Otto yang seolah begitu sejati dan tidak seharusnya terpisah, kita juga disuguhi bentuk2 cinta yang lain, yang bisa juga memudar sehingga terasa lebih dekat dengan kenyataan, dan cinta yang lebih sejati antara anak dan orang tua.
Perpisahan Otto dan Ana disebabkan kelabilan mereka sendiri, khususnya dari pihak Otto, bukan karena pihak lain yang ingin memisahkan, tapi juga bukan berdasarkan alasan-alasan yang tampak konyol yang akan membuat penonton berpendapat: : “ya udah lah jangan nyusah2in diri, tinggal jadian lagi aja, saling kontak lagi aja”.
Dari apa yang mereka alami, penonton yang cukup terlibat akan bisa memaklumi dan menerima proses dalam diri mereka. Otto memang harus pergi, Ana memang harus mencoba berhubungan dengan pria lain. Bila belum saatnya mereka bersatu, berarti memang belum bisa. Dan kemudian, untuk bisa bertemu pun mereka harus pergi ke tempat yang bagi mereka merupakan "dunia lain", yaitu negeri "midnight sun". Karena itu lah ketika nyaris tiba waktu pertemuan, penonton pun bisa lebih menghargai dan meningkatkan harapan bersama para tokohnya.
Menonton film ini sebetulnya cukup mudah karena penonton punya kecenderungan ekspektasi sederhana: agar pasangan Ana dan Otto bisa bersatu kembali. Beberapa clue di awal sudah memberi isyarat agar kita menyiapkan mental untuk sesuatu yang bukan happy ending. Dengan antisipasi itu pun, twist cerita di bagian akhir tetap cukup mengejutkan. Penyelesaian yang ambigu memberi pemaknaan dan harapan yang berbeda bagi penonton .
Film ini sukses berbicara dengan narasi dan bahasa gambar yang saling menguatkan. Alur cerita dinarasikan secara kilas balik dan bergantian antara sudut pandang kedua tokoh. Perbedaan persepsi dari Otto dan Ana akan berbagai kejadian membawa penonton terlibat dalam proses perkembangan karakter seiring bertumbuh dewasanya kedua tokoh.
Jalan takdir dalam "kebetulan-kebetulan" yang terjadi terasa cukup natural dan divisualisasikan dengan baik dalam keterkaitan antara adegan sepanjang film. Adegan-adegan tertentu dengan detail-detail gambar atau dialog-dialog tertentu akan mengarahkan ke hal-hal lain, seperti berita di TV, kemunculan rusa, bis merah, pesawat kertas dan banyak lagi, semua punya makna yang menjawab atau menguatkan kejadian2 selanjutnya.
Tiga paket pemeran tokoh inti Otto dan Ana chemistrynya kuat, enak dipandang dan aktingnya bagus terutama paket pemeran dewasa: Fele Martinez & Najwa Nimri yang paling terlihat olahan emosinya. Perkembangan hubungan keduanya juga terasa dan divisualisasikan dengan sangat baik. Bertahun2 Ana dan Otto lewatkan berangkat sekolah bersama dalam diam, tapi koneksi antara keduanya tetap terasa, berkomunikasi lewat ekspresi dan lirikan mata, dalam hal ini paket pemeran anak dan remaja menampilkannya dengan sangat baik. Yang agak menganggu hanyalah Otto remaja yang terlalu seperti perempuan. Tokoh-tokoh orang tua mereka juga tampil baik dan natural dengan permasalahan mereka.
Yang semakin membuat film ini terasa indah, romantis dan istimewa, justru minimalnya pernyataan2 cinta dan kata-kata motivasi. Semua gejolak emosi dan perasaan tergambar dan tersampaikan dengan sangat baik melalui bahasa gambar, ekspresi para aktor, bahkan monolog dan dialog yang terasa normal. Sayangnya ada hal dibahas berulang-ulang dan secara verbal, seperti masalah nama palindrom dan "kebetulan" yang dipercayai Ana, Sepertinya pembuat film ini begitu ingin menekankan topik tersebut dan khawatir penonton tidak memahami.
Memahami atau tidak, mendukung atau tidak keusksesan pasangan Ana & Otto, film ini cukup menghibur dan mudah dinikmati sebagai suatu karya sinema yang kaya.
Rasanya mendapatkan jackpot ketika menemukan satu lagi film yang masuk daftar referensinya film Mr. Nobody. Sementara sepertinya memang saya belum akan berhasil menulis tentang Mr. Nobody sampai ketemu lagi semua film referensinya (?) atau emang gak sanggup aja. Film satu ini cukup spesifik, bahkan di imdb pun tertulis bahwa bagian2 tertentu Mr.Nobody merefer ke sini.
!!! **SPOILER ALERT**!!!
Beberapa adegan kunci yang agak mengganggu:(yang belum nonton dan berminat nonton mending jangan baca yaaa )
Pesawat kertas yang disebar Otto tidak pernah disebut dengan jelas isinya. Tapi pada saat Otto melempar2nya dari toilet gedung sekolahnya, ada kertas yang belum dilipat jadi pesawat dan terlihat sekilas tulisannya, Tapi tetap tidak terbaca hanya terlihat dua baris dan ada tanda tanya di belakangnya. Kalau dengan resolusi lebih tinggi dan mengerti bahasa spanyol, mungkin bisa mendeteksinya.
Waktu Ana dan Otto nyaris berpapasan dan duduk berdekatan tapi tidak saling melihat satu sama lain rasanya agak mengganjal. Apa mungkin ya, dengan jarak segitu tidak saling "ngeuh"? Saya pikir walaupun tidak saling melihat, kalau ada orang yang kita kenal akan ada semacam aura yang terasa. Teman lama yang sudah lama sekali tidak bertemu saja kadang kita bisa melihat dari jauh, apalagi ini keluarga yang sudah tinggal bersama bertahun-tahun. Kalau mereka muter2in kepala sedikit saja kan pasti saling melihat, Atau mungkin memang saya pun tidak akan tahu ya kalau yang seperti ini pernah saya alami.
Mengenai ending. Oke ada dua versi penyelesaian. Tapi secara logika, yang paling mungkin terjadi adalah yang kedua. Yang versi satu kurang sesuai dengan plot sebelumnya, Kenapa bisa Otto sudah duluan menunggu di rumah Otto tua? lalu, juga ada kejangalan dengan koran di tangan Ana.
Model penyelesaian semacam film Love me if You Dare, bikin ambigu & penonton jadi ada yang berharap happy ending, tapi kalau kata saya sih Love me If You Dare juga jelas mana yang lebih kuat adegannya.
Sub-judul Otto dan Ana yang muncul berganti bulak balik setiap film berganti sudut pandang, awalnya terasa tidak terlalu perlu. Kita seharusnya bisa dengan mudah mengerti ketika narasi berganti, adegan berulang dari sudut pandang yang berbeda. Tapi belakangan sub judul itu berubah bukan sekedar Otto/ Ana lagi. Pasti ada maksud dari Julio Medem mengenai hail ini, mungkin berkaitan dengan endingnya juga. Sayangnya saya kurang paham, tapi cukup lah menikmati perubahan itu sebagai variasi permainan sutradara dalam teknik story telling.
Paling suka sama ekspresi mba2 toko pernak pernik., Priceless! diulang berapa kali bikin ketawa terus
Tambahan setelah KineMala: Ternyata ada yg berpendapat bahwa Otto pun tewas bersama jatuhnya pesawat, jadi adegan dia nyangkut & bertemu si orang Finlan yg nyelamatin dia itu pun termasuk khayalan karena di mobil Otto nanya apa dia bisa "ski upward" dan orang itu mengangguk.
Kalau kata saya sih bisa juga, tapi logikanya agak jauh pesawatnya kan jatuh di utara banget,di luar trayek dia jadi rada aneh kenapa bisa nyasar ke sana. Tadinya saya kira sesuai adegan pembuka dan omongan Otto kecil dia akan mati kalau kehabisan bensin. Jadid kalaupun pesawatnya jatuh krena kehabisan bensin, harusnya masih di dalam trayek.
Subscribe to:
Comments (Atom)




