Wednesday, August 10, 2016

Caged Bird


Related Poem Content Details

A free bird leaps 
on the back of the wind   
and floats downstream   
till the current ends 
and dips his wing 
in the orange sun rays 
and dares to claim the sky. 

But a bird that stalks 
down his narrow cage 
can seldom see through 
his bars of rage 
his wings are clipped and   
his feet are tied 
so he opens his throat to sing. 

The caged bird sings   
with a fearful trill   
of things unknown   
but longed for still   
and his tune is heard   
on the distant hill   
for the caged bird   
sings of freedom. 

The free bird thinks of another breeze 
and the trade winds soft through the sighing trees 
and the fat worms waiting on a dawn bright lawn 
and he names the sky his own 

But a caged bird stands on the grave of dreams   
his shadow shouts on a nightmare scream   
his wings are clipped and his feet are tied   
so he opens his throat to sing. 

The caged bird sings   
with a fearful trill   
of things unknown   
but longed for still   
and his tune is heard   
on the distant hill   
for the caged bird   
sings of freedom.

Wednesday, May 04, 2016

Mana yang Paling Ganteng?

 
 
Sejak semakin mudahnya akses "mendapatkan" film dan informasi film dalam beberapa tahun terakhir ini, daftar koleksi dan pengalaman tontonan saya terasa cukup pesat bertambah dengan lebih banyak variasi dari beberapa negara/ bangsa selain film Amerika. 
 
Di antara daftar tersebut, makin lama terasa seolah ada benang merah yang menghubungkan masing-masing asal produksi atau asal sineas dalam bentuk suatu ciri atau pengalaman tontonan bagi saya, dan hal ini berlaku lintas genre film. Yang paling kuat perbedaan-perbedaan terhadap film mainstream Hollywood yang masih menjadi pembanding utama, karena secara statistik tetap mendominasi tontonan saya. 
 
Sebetulnya tidak mudah juga membuat perbandingannya menjadi sederhana ketika harus melibatkan banyak unsur untuk dianalisa dan membuat kriteria pengelompokannya, ditambah kapasitas serta keterbatasan judul yang sudah ditonton serta pengaruh subjektifitas yang berlaku dari sejak pemilihan film yang ditonton. Tapi saya coba sederhanakan saja poin-poinnya maupun pengelompokannya.
 
1. Film berbahasa Spanyol:
Berkat obsesi akan film-filmnya Gael Garcia beberapa waktu lalu, saya jadi terpapar film Spanyol & Mexico. Dua negara ini terikat kesamaan bahasa dan kaitan sejarah dan sering tukar menukar aktor dan sineas. Bila digeneralisasi, karakter keduanya memiliki beberapa kemiripan dan juga perbedaan. Film berbahasa Spanyol sangat kental akan kepekaan permasalahan sosial, dengan kekuatan pada dialog-dialognya. Kita bisa mendapatkan gambaran tentang hal-hal lain di luar alur cerita utama, berupa kondisi external yang memepengaruhi alur utama film atau sekedar informasi/ wawasan tambahan. Spesifik film Mexico, lebih banyak yang menampilkan kesenjangan sosial dengan gambaran kemiskinan yang juga sering kita lihat di telenovela produksi mereka. 
 
2. Film berbahasa Perancis (Perancis - Belgia): Dari beberapa film francophone yang saya temukan, dominasi karakter tokoh yang cenderung galau dan banyak mengkhayal cukup terasa, atau setidaknya cerita dan visualisasi lebih terfokus ke pribadi tokohnya, porsi untuk latar sosial lingkungannya tidak sebanyak bila dibandingkan dengan film Spanyol. Adegan montage cukup sering saya temukan termasuk unsur yang memperkuat kegalauan atau lamunan tokoh-tokohnya tersebut.
 
3. Jepang: Yang mencolok dan khas film jepang, adalah cerita tentang ketekunan dan dedikasi akan pekerjaan selalu merupakan topik utama. Kesungguhan dan motivasi, loyalitas akan profesi juga idealisme tokohnya merupakan nilai-nilai yang selalu menyertai di genre dan topik apapun. 
 
4. Pan-Chinese : Yang termasuk di sini film produksi PRC atau Mainland China alias "Cina Daratan", Hong Kong dan Taiwan, dengan bahasa Mandarin & Kanton. Masing-masingnya memiliki ciri khas yang cukup spesifik, terutama untuk produksi Hong Kong sebelum kembali ke PRC.
Di antara ketiganya, satu ciri khas yang dimiliki semuanya adalah bahasa ekspresi yang kadang lebih kuat dibanding dialog atau narasi. Momen-momen yang mengulik rasa kadang hanya singkat tapi punya kekuatan bisa terselip baik di film drama, komedi, film aksi, thriller dll. Adegan2 cirambay yang menguras air mata sebetulnya lebih banyak di drama seri, bukan di film lepas.
"Sad ending" dengan kondisi "Penjahat yang menang" dan "Yang romantis itu tragis/ sedih" sering menjadi trade mark film HK dalam perbandingan dengan film Hollywood, ketika aliran distribusi film HK ke Indonesia memang cukup banyak, dibanding Mainland dan Taiwan. Namun sebetulnya tidak seperti itu juga, lebih cocok dikatakan akhir film sering cenderung terbuka, meninggalkan pertanyaan yang bisa dijawab oleh penonton dan justru membuka alternatif penyelesaian yang bisa dipilih, memberi kesempatan untuk move on setragis apapun kondisi yang dihadapi/ dilalui sepanjang film.
 
5. Korea: Yang khas dari film Korea adalah kisah-kisah tragisnya. Untuk genre drama dan thriller, seringkali akhir cerita dengan tokoh utama yang gila atau meninggal karena bunuh diri, dibunuh, atau kecelakaan yang tak terduga. ...........ups......... *spoiler alert!
 
6. India: Film India mayoritasnya secara fisik jelas terdeskripiskan dengan keberadaan adegan-adegan tarian dan nyanyian, satu hal lagi, rasanya hampir semua film India yang saya tonton memiliki adegan yang melibatkan kereta api. Tapi dari segi kekhasan alur cerita, umumnya di dalam satu film India, mood dan suasana bisa berubah-ubah dengan sangat drastis. Dari yang tadinya lucu ngakak menjadi sedih bergelimang air mata, lalu menjadi menyeramkan dan menegangkan. Perubahannya terjadi dengan sangat ekstrim.
 
10. Rusia: Terggoda dengan film Rusia sejak menonton film Mongol karya Sergei Bodrov. Dari beberapa karya Bodrov & beberapa film yang berhasil saya akses, film Rusia cukup kaya akan gambaran budaya dalam detail drama, nilai-nilai patriotik, dan sosial kemanusiaan. Kita mengenal manusia-manusia yang berbeda dari para teroris yang sering digambarkan sebagai antagonis oleh produksi Hollywood jaman perang dingin.
Yang pasti annoying ketika menonton film Rusia adalah dialog bahasa asing tidak didubbing , tidak pake subtitle, tapi ditimpa narasi seperti jaman Flora-Fauna dulu ...
 
7. Film Amerika Hollywood
Secara statistik, film produksi Hollywood adalah yang paling banyak saya (dan dunia) tonton. Film Amerika sendiri tidak semuanya produksi Holywood, dan di antara film Hollywood sendiri sebetulnya pun ada banyak variasi, sehingga ada yang sering disebut "Hollywood banget" dan ada yang dianggap “gak terlalu Hollywood”. Antara film Hollywood lintas dekade pun banyak perbedaannya dan perubahannya.
"Boga lakon never dies" adalah salah satu slogan andalan yang sering diucapkan (orang Bandung?) dalam ekspektasinya terhadap film Hollywood. Happy ending merupakan akhir yang bisa diharapkan untuk mayoritas film Hollywood. Baik film action, darama romance, thriller dll. Seberapa parahnya pun perjuangan dan cobaan sepanjang film, tokoh utama biasanya akan menemukan solusi.
Yang mengganggu buat saya di banyak film formula Hollywood beberapa tahun terakhir ini adalah bagaimana pembenaran bagi si tokoh utama untuk menuju happy ending, kadang ketika si boga lakon berbuat salah, akan tertutup oleh kesalahan tokoh antagonisnya, atau walaupun tokoh antagonis itu menjadi terbentuk disebabkan oleh si boga lakon di masa lalu, si antagonis akan tetap dibuat sejahat-jahatnya sehingga tetap saja sampai akhir kita membenarkan tindakan si boga lakon untuk mengalahkan si antagonis, justru sebagai penebusan kesalahannya.
Juga seringkali menunjukkan bahwa dengan kata-kata yang tak jarang berupa pidato di depan umum, bahwa si tokoh akan bisa menyelamatkan dunia, meyakinkan orang, menyatakan cinta, dll untuk mencapai tujuannya. Ini salah satu perbedaan kontras terutama dengan film pan-chinese yang lebih banyak diam, tapi mungkin itu juga yang membuat ending mereka sering tidak jelas, tebak menebak yang ujungnya gagal ini itu karena ga ngomong...
 
8. Film Inggris:
Dibandingkan dengan film Hollywood dan film Inggris lintas Hollywood, film yang mungkin termasuk British banget yang saya temukan tipenya memiliki penokohan yang lebih kuat dalam karakter, dan alur ceritanya yang lebih mendalam untuk topik yang digunakan, bisa lebih dramatis tapi juga lebih real, atau sekalian yang dinamis dan artistik dari visualisasi, tetap dengan kekuatan tokoh dan cerita. Banyak juga yang lebih menjunjung tinggi kesastraan, kebangsawananan dan kesenimanan. 
 
9. Indonesia: Kalau istilah puitisnya: "Film Indonesia tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri".
Demikian juga yang berlaku pada saya yang memang lebih menikmati film luar dari pada film Indonesia. Mungkin karena keterbatsan produksi dan distribusinya, atau secara psikologis saya justru membuat jarak karena tokoh-tokoh dan settingnya yang justru sebetulnya dekat secara fisik.
Sejauh pemahaman saya, kebanyakan film Indonesia masih banyak menjunjung nilai-nilai kebaikan, religius, setidaknya nilai pancasila. Baik-jahat masih harus terdefinisi, sehingga banyak cerita berada dalam dalam kerangka ini. Walau makin banyak variasinya, tapi mungkin masih mencari jati diri, karakter film luar sering terlihat dalam eksperimenn film baru.
 
10. Italia: Sepertinya urang banyak sampel spesifik produksi Italia yang bisa membuat saya menemukan karakter khusus, tapi dari beberapa produksi atau karya sineas Italia yang saya tonton, terasa kekuatannya di narasi film dan tipe adegan-adegan yang sedikit cenderung teatrikal, ditemukan pada film horor maupun film latar sejarah.
 
11. Honorable mention: Film Swedia & Islandia: berkaitan dengn iklimnya yang dingin, tapi bisa hangat di hati....

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>PS<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Pembagian di atas cenderung kuat pada kriteria peran sutradara, bukan dari asal negara produksi, karena bisa dirasakan ketika film produksi Hollywood disutradarai oleh seseorang yang bukan asal Amerika dan besar di Hollywood, ada perbedaan dan karakter yang dibawa. Sedangkan film berbahasa asing pun ketika merupakan produksi atau karya Hollywood, kemungkinan besar kita juga bisa mengidentifikasi.
Semua yang saya bahas ini hanyalah generalisasi dari mayoritas yang saya tonton, Hasil kesimpulan sementara saya di atas tidak lepas dari ketersediaan sampel dan mood menonton yang kemungkinan akan ada variabel-variabel lain seiring perubahan jaman dan trend produksi film, juga pertambahan umur.
List referensi acuan: perlu dibuat gak ya..

Ket foto: Ang Lee - Tsui Hark - Chen Kaige - Zhang Yimou - John Woo - Peter Chan - Johnnie To - Hou Hsiao Hsien - Wong Kar Wai - Andrew Lau

Yang paling ganteng ya tetep Takeshi Kaneshiro


Sunday, September 27, 2015

Perbedaan-perbedaan

SPOILER ALERT!!!
:
Film yg dibahas: The Count of Monte Cristo (2002) & What Price Survival (1994)



Saya terinspirasi mengenai perbedaan karakter film berdasarkan suku bangsa sineasnya, dalam hal ini mungkin faktor yang paling kuat adalah sutradara, dan tentunya perlu pendefinisian lebih jauh untuk dibahas lain kali.

Salah satu yang mentrigger adalah ketika bertahun-tahun lalu menonton film The Count of Monte Cristo versi 2002. Saya tidak ingat apa saya menontonnya setelah membaca bukunya. Dan kalau setelah membaca, saya tidak ingat versi seperti apa, apakah terjemahan yang dipersingkat untuk anak-anak dari salah satu koleksi buku di rumah saya.
Yang teringat, adegan akhir film tersebut membuat saya kurang enak hati.

Kira-kira seperti berikut:

Di akhir film, tokoh utamanya, Dantes berduel dengan teman lama yang telah menjelma menjadi musuhnya, Mondego, yang menjebloskan dia dipenjara belasan tahun dan merebut tunangannya.
Belakangan pun diketahui bahwa tunangan Dantes dulu mau menikahi Mondego karena saat itu dia menyangka Dantes telah meninggal dan dia sedang hamil. Anak mereka yg telah remaja itu pun mengetahui siapa ayah aslinya di adegan klimaks di akhir film dan mengetahui kejahatan ayah angkatnya.

Singkat cerita dalam duel tsb Mondego pun kalah dan terbunuh, Dantes berhasil membalaskan dendamnya, sebgaaimana boga lakon pada umumnya. Yang membuat saya sedikit berkerut, pada saat adegan akhir, kematian Mondego, si anak sempat terlihat bersedih sebentar tapi setelah itu akhir fimm sudah berfokus pada kembalinya kebersamaan mereka.

Hey... bagaimanapun, dia telah membesarkan anak angkatnya yang walaupun dia dapat dengan cara curang, tapi dengan baik sehat dan sejahtera? Dan setidaknya, walaupun didasari ketidak-tahuan, ibunya sendiri yang dengan sukarela menerima lamaran dan mengambil manfaat juga dari si Mondego? Tidakkah ada sedikit keperdulian dari si anak?

Pemikiran tersebut muncul karena beberapa waktu sebelumnya menonton What Price Survival yang meninggalkan kesna tajam dan mendalam. Film produksi HK dengan cerita utama tipikal persaingan antar perguruan, intrik-intrik, balas dendam. Tokoh Utama film itu waktu bayi diambil oleh musuh ayah kandungnya akibat taruhan persaingan antar perguruan. Setelah dewasa, dalam ketidaktahuan, dia membunuh ayah kandungnya atas suruhan ayah angkatnya. Belakangan setelah dia mengetahui sejarah masa lalunya, terjadi pertarungan dengan sang ayah angkat. Inilah saatnya membalaskan dendam penderitaan orang tua kandungnya.

Tapi, apa yg terjadi? si tokoh utama tidak bisa membunuh ayah angkatnya, Dia hanya membutakan matanya. Dan adegan menyayat hati pada klimaks tersbeut, adalah cipratan darah di atas foto yg tersimpan di dompet di ayah angkat, yaitu foto mereka berdua, foto hitam putih, si tokoh utama  saat masih kecil, dengan baju rapih, duduk manis berdampingan dengan ayah angkatnya.

Setelah itu, si tokoh utama  menghukum dirinya sendiri dengan karma potong tangan.

Mungkin hanya satu-dua detik adegan yg memperlihatkan foto tsb, tapi kita jadi tahu, bagaimanapun latar belakangnya, si ayah angkat telah membesarkan si tokoh utama dengan baik dan banyak kenangan masa kecilnya yg berharga. Tidak semudah itu membalas dendam, perasaan itu tidak bisa tedefinisi dalam hitam-putih,
Saat itulah saya menyimpulkan, bahwa ada treatment yang berbeda dengan kasus yg mirip? malah tidakkah lebih baik di kasus Monte Cristo, si anaknya tidak dibuat harus membunuh ayah kandungnya, tap iia menyaksikan ayah kandungnya membunuh ayah angkatnya.

Hanya dengan satu adegan saja bisa memberikan perbedaan pemaknaan dan mungkin pengembangan cerita di kepala masing-masing penonton. Sejak itu saya semakin memperhatikan pola semacam ini,  dalam kasus cerita hubungan ayah-anak laki-laikinya dan beberapa topik lain.

Dalam beberapa bahasan dan ulasan film versi saya di tulisan-tulisan sebelumnya, kadang sudah saya bahas, seperti ketika saat memngkhayalkan perbedaan versi untuk  ending suatu film, kalau dibuat oleh produksi hollywood, bollywood, korea dll.
Rasanya perlu juga merangkumnya karena selentingan pikiran-pikiran ini sudah lama berseliweran di kepala saya. Mungkin bentuknya semacam membuat perbandingan secara umum, walaupun katakanlah data yang didapat belum cukup relevan dan masih dalam proses penambahan, karena hunting dan  pendonlodan film masih akan jalan teruss!!!!




Bersambung kapan-kapan .



Sunday, April 13, 2014

Ketika "Almost a Love Story" merupakan "The Best Love Movie"

Comrades, Almost a Love Story ( 甜蜜蜜), 1996

Director: Peter Chan Ho-Sun
Writer: Ivy Ho
Cast: Maggie Cheung Man-Yuk, Leon Lai Ming, Eric Tsang Chi-Wai, Kristy Yeung Kung-Yu, Joe Cheung Tung-Cho, Christopher Doyle


Contoh tipe manusia yg biasanya menjadi “musuh bersama” kita di dunia nyata: Suami yg selingkuh dan wanita selingkuhan yang suka memanfaatkan orang (apalagi kalau kita adalah korban mereka). Namun, ketika sebuah film menjadikan tokoh seperti mereka ini sebagai pemeran utamanya, kita akan melihat dari sudut pandang lain, yang mungkin akan membuat kita memaklumi kesalahan kedua tokoh ini.

Film "Comrades, Almost a Love Story" a.k.a. "Tian Mi Mi" adalah salah satunya. Dengan menampilkan alur cerita dalam rentang masa kehidupan hampir satu dekade dengan karakterisasi kuat tokoh-tokohnya, penonton dapat mengeksplorasi dinamika perasaan yang begitu kaya, kompleks, yang seringkali terlalu disederhanakan dalam film-film jenis drama Hollywood. Latar belakang lokasi dan budaya membantu memberikan gambaran dan pemahaman yang memperkaya film ini dari sekedar kisah cinta tanpa akar.

Xiao Jun (Leon Lai), seperti kebanyakan warga Mainland China merantau dari kampungnya ke Hong Kong untuk bekerja. Dalam kegagapannya menghadapi dunia baru disertai hambatan bahasa, dia berteman dengan Li Chiao (Maggie Cheung) yang membantu sekaligus memanfatakannya untuk banyak proyek. Keduanya adalah pekerja keras yang berjuang untuk mewujudkan cita-citanya masing-masing demi penghidupan yang lebih baik. Pertemanan fungsional ini pun berkembang menjadi “friends with benefit”. Setelah berlangsung beberapa bulan, perbedaan antara mereka dalam menyikapi hubungan tersebut, Xiao Jun yang memiliki tunangan di kampungnya, ditambah situasi ekonomi di Hong Kong saat itu membuat mereka harus berpisah dan memilih jalan yg berbeda.

Setelah beberapa tahun mereka bertemu lagi dengan kondisi impian masing-masing yang telah terwujud: Xiao Jun sudah memboyong dan menikahi tunangannya (ya, yang sudah diselingkuhinya itu), sementara Li Chiao sudah menjadi pengusaha sukses, dan hidup bersama Pao (Eric Tsang), bos mafia yang membantu Li Chiao saat sedang bangkrut-bangkrutnya korban krisis moneter di HK tahun 1987.

Ketika interaksi antara mereka berlanjut, "CLBK" pun terjadi, dan justru saat itulah mereka memutuskan bahwa mereka sebenarnya ingin untuk terus bersama. Xiao Jun dan Li Chiao mulai memikirkan bagaimana mereka menyampaikan pengakuan kepada pasangan masing-masing, ketika kondisi hubungan masing-masing sebetulnya dalam keadaan tanpa masalah.

Bagaimana selanjutnya mereka menyikapi kondisi ini dan keputusan yang harus mereka buat, mengalir dalam jalan takdir yang berlaku dalam hidup mereka, dan menunjukkan bahwa tidak mudah menyederhanakan perasaan dan pilihan hidup, apalagi ketika melibatkan orang-orang lain.

Sebagai sebuah film, "Comrades" sangatlah efektif menyampaikan semua emosi dalam komplikasinya, dan menjadi salah satu film paling romantis yang pernah diproduksi di dunia ini dalam prinsip bahwa hidup harus terus berlanjut. Salah satu kekuatannya ada pada akting Maggie Cheung yang hanya dengan merubah ekspresinya, tanpa banyak berkata-kata, semua emosi dan perasaan Li Chiao dapat tersampaikan. Akting Maggie Cheung diimbangi dengan akting Eric Tsang yang matang walau tidak banyak porsi kemunculannya, sementara kekakuan Leon Lai dimanfaatkan dengan tepat untuk karakternya. Didukung musik latar yang sangat kuat untuk membentuk suasana, serta musik pop Teresa Teng yang sangat terkenal pada masa itu dan cukup melegenda, membuat film ini secara umum pun cukup mudah untuk disukai.

Film "Comrades" bukanlah tipe tearjerker, bahkan tanpa unsur-unsur klise mengenai ide-ide romantisme di film, juga tanpa hal-hal spektakuler seperti heroisme atau pengorbanan yang berlebihan, tanpa tempat pertemuan spesial di ujung dunia atau puncak menara. Kejadian2 di film ini seperti hal-hal casual, dalam keseharian tokoh-tokohnya yang mungkin bisa terjadi pada siapa saja: Bagaimana pertemuan dan perpisahan, persahabatan dan percintaan digariskan dalam nasib setiap orang.

Seperti apa kisah di film ini akan berakhir? Apakah penonton berharap Li Chiao & Xiao Jun akhirnya bersatu? itukah yang kita sebut Happy ending?

Ada beberapa kemungkinan penyelesaian untuk situasi di film ini:

Versi Hollywood: Pao terlibat kasus yang membuatnya dipenjara sementara Xiao Ting ternyata punya selingkuhan. Akhirnya masing2 punya alasan berpisah dengan pasangannya dan saling mengakui bahwa saling mencintai dan mereka pun akhirnya jadian.

Versi Korea: salah satu yg diselingkuhi kecelakaan dan cacat, dan salah satu dari Li Chiao/ Xiao Jun akan pergi dengan kegalauan lalu bunuh diri atau mati kecelakaan gara-gara suatu tindakan konyol, meninggalkan yg satu lagi jadi gila.

Tapi ini adalah film Hong Kong, keegoisan mungkin akan mendapat karma, maka kesedihan ditempuh untuk mengembalikan suatu kehidupan, ketika akhir menjadi awal.



**************************************************