Sunday, February 24, 2013

Adu hewan atau adu manusia?

Salah satu yang mengganggu saya dalam menonton film Hable con Ella (Talk to Her) adalah ditampilkannya pertunjukan corrida de toros/ toreo/ bullfighting. Dalam bahasa Indonesia, toreo diartikan sebagai “perkelahian manusia melawan banteng”. Singkatnya mungkin dikenal sebagai adu banteng atau pertunjukan matador. Matador sendiri artinya pembunuh/ orangnya, bintang utama dalam pertandingan itu. Toreo adalah pertarungan hidup-mati  antara banteng dan dan manusia. Lengkapnya lihat saja di wikipedia

Intinya, pertunjukan matador adalah suatu kegiatan brutal penyiksaan terhadap hewan yang ditonton untuk sekedar kesenangan manusia, dipraktekkan di Spanyol dan beberapa negara bekas jajahannya, dengan beberapa variasi.  Pertunjukan adu hewan sendiri ada di berbagai balahan dunia, dan sepertinya merupakan penyaluran naluri brutalisme manusia yang dipraktekkan sampai sekarang. Di Indonesia sendiri berbagai tipe adu hewan dilaksanakan mulai dari adu jangkrik, sabung ayam, adu domba, adu anjing dan lain2. Selain masalah penderitaan hewan yang di adu, kegiatan semacam ini kerap diiringi perjudian.  Kegiatan adu hewan bertentangan dengan agama, peri kemanusiaan, dan peri kehewanan dan mungkin peri perekonomian.

Di antara peradu-aduan hewan yang ada, pertunjukan matador secara sistem adalah yang paling tidak adil karena si Banteng melawan manusia dengan cara dikeroyok. Walaupun sang Matador merupakan bintang utama dan menjadi umpan buat si Banteng,  si Banteng sudah dilemahkan dengan ditusuk2 oleh beberapa orang banderillero .
Kalau dalam kondisi normal kemungkinan besar manusianya yang akan kalah. Tanpa peran banderillero, pertarungan satu manusia lawan satu banteng itu dianggap tidak seimbang dengan banteng yang lebih kuat. Ya kalau begitu, ngapain nantang2 bantengnya ya?  Dengan alasan itu, para manusia merasa berhak menerapkan “slow and painfull death” untuk si banteng demi gerakan-gerakan indah antara matador dan si banteng.

Walaupun sudah diprotes banyak kalangan dan di beberapa negara sudah dilarang, pemerintah Spanyol sendiri tetap menganggapnya sebagai budaya yang perlu dilestarikan bahkan mensubsidinya. Pertunjukan ini masih dianggap aset wisata yang digemari warganya sendiri, turis dan sponsor. Para matador hidup bagaikan selebriti, sebagaimana yang ditampilkan di film Hable con Ella.  

Selain Hable con Ella, film Amores Perros yang produksi Meksiko termasuk salah satu film yang mengekspos kekerasan dalam adu hewan, dalam hal ini anjing. Apa yang dimunculkan di kedua film tersebut merupakan cerminan dari kenyataan di negara asalnya. Bedanya, adu anjing di Amores Perros diperlihatkan sebagai kegiatan ilegal yang dilakukan preman-preman dalam rangka perjudian, sementara pertunjukan matador di Hable con Ella, merupakan hal yang diterima dengan wajar seperti penerimaan orang terhadap pertunjukan tari. Uniknya matador dalam film ini adalah seorang  wanita yang meneruskan cita-cita ayahnya, seorang Banderilleros yang ingin menjadi matador tapi gagal.  Di kenyataan memang ada beberapa matador wanita yang sukses. Tokoh Lidya di film ini sendiri diperlihatkan bahwa di balik keberaniannya (dan kekejaman) menghadapi banteng di arena, adalah seorang wanita biasa yang bisa jatuh cinta, patah hati, bahkan punya phobia tertentu.

Pertunjukan toreo memang merupakan bagian yang tidak bisa dipidahkan dari film ini. Bahwa para tokoh film merupakan orang2 yang menerima kegiatan brutal tersebut sebagai bagian hidup mereka, adalah hal yang perlu kita pahami mengenai karakter manusia.
Sebagai orang yang ngaku-ngaku penyanyang binatang (kecuali tikus, nyamuk, lalat, kecoa), saya sempat berpikir seharusnya memboikot film macam begini. Tapi sementara itu, ada berapa film yang memperlihatkan pembunuhan terhadap manusia dan saya merasa terhibur menontonnya? Bahkan kadang kita bersorak dan tertawa ketika korbannya itu adalah tokoh2 penjahat, dan si boga lakon melakukan adegan pembunuhan dengan lucu.

Dalam hal pembuatan film,  adegan manusia mati di film cukup dipercayai merupakan akting dan manipulasi, sementara adegan yang menggunakan hewan dikhawatirkan membahayakan/ menyakiti hewan tsb, walaupun bukan di adegan yang berbahaya. Maka itu di akhir film biasanya ada pernyataan semacam “No animals were harmed during filming”, samacam label halal dari lembaga American Humane Association (AHA).  Film Talk to Her lolos sensor AHA berdasarkan beberapa pertimbangan mengenai teknis pembuatan film dan lingkup hukum Toreo yang legal di Spanyol.

Film Hable con Ella sama sekali tidak mengkampanyekan perlindungan terhadap banteng, apalagi anti  pertunjukan adu banteng sebagaimana biasanya film-film yang  politically correct  produksi Hollywood atau film2 yang lebih "bermoral". Walau menonton dengan mengagumi pembuatan adegan matador yang begitu mengena sebagai komponen penting bagi keseluruhan cerita film, saya dengan sadar sama sekali tidak punya niat untuk menonton pembantaian Banteng itu di kenyataan. Kalau kapan-kapan saya bisa berkunjung ke spanyol, haram menonton matador.

Maka dengan ini, bisakah para manusia walaupun sanggup menonton film yang mengandung hal-hal tidak baik seperti kekejaman terhadap hewan dan manusia,  tidak menerapkannya dalam kehidupan nyata?
Membuat film tentang perang, tanpa harus menyelenggarakan perang betulan?
Hmm gimana noh Amerika Serikat dan Hollywood?



No comments: