Monday, July 30, 2012

Catatan singkat film-5

Flowers of War:
Sutradara: Zhang Yimou

Berlatar belakang tragedi sejarah pembantaian di Nanjing oleh pasukan jepang, film ini bercerita tentang interaksi antara sekelompok gadis remaja siswa sekolah katolik dan sekelompok wanita pekerja rumah bordil (ya, pelacur) dalam bertahan hidup. Sebagai film Flowers of War cukup menarik dan memikat, sinematografi suasana perang terasa sangat mencekam, akting para siswa  dan para wanita bordil cukup kuat dan chemistry antara mereka sangat dinamis. Sayangnya, di film ini ada tokoh menyebalkan, walaupun eksistensinya adalah sebagai pahlawan penyelamat di film ini: seorang pengusaha pemakaman yang diperankan oleh Christian Bale, bukan sekedar menyebalkan sabagai tokoh tapi juga menyebalkan secara akting.   Mungkin Zhang Yimou tidak bisa menangani aktor Hollywood atau memang menyesuaikan karakter  Christian Bale agar konsisten dengan kehollywoodan

Red Shorgum.
Sutradara: Zhang Yimou

Debut Zhang Yimou sebagai sutradara, dengan tipe cerita yang menjadi ciri khas film-film selanjutnya yang menampilkan kepolosan dan kesederhanaan masyarakat di pelosok negeri Cina dengan latar belakang budaya, sejarah dan politik. Red Shorgum bersetting di daerah padang pasir menampilkan cara hidup masyarakat usaha pembuatan anggur . Film ini dituturkan dengan narasi seorang cucu tentang kisah kakek dan neneknya.  Gong Li berperan sebagai “My Grandma” yang didatangkan dari desa lain untuk menikah dengan pengusaha minuman anggur yang berpenyakit lepra. Suaminya meninggal tidak lama setelah itu sementara dia jatuh cinta pada salah satu pegawainya.

Night and Fog
Sutradara: Ann Hui

Film yang menarik dan gamblang tentang KDRT, diceritakan dalam rangkaian kilas balik,  menampilkan kehidupan satu keluarga miskin di suatu wilayah di Hongkong, bagaimana kehidupan mereka berujung tragedi.  Film ini berangkat dari beberapa kejadian nyata yang terjadi di wilayah tersebut, yang seolah merupakan fenomena psikologi masyarakatnya. Walaupun kita sudah tahu apa yang terjadi di akhir kisah yang merupakan awal film, menjalani tahap demi tahap prosesnya tetap mengandung berbagai kejutan dan tidak membosankan.. didukung pula dengan akting para pemeran utama maupun pendukung yang menguatkan karakter masing-masing. Bagimana pemerintah di sana membantu para korban cukup memberi harapan, walau mungkin tidak menyelesaikan masalah.

Election 1& 2
Sutradara: Johnnie To

Kedua film ini berkisah mengenai suatu proses pemilihan ketua di satu kelompok mafia hongkong dalam dua periode, berturut-turut di masing2 film.  Walaupun protokol suksesi sudah jelas dan disepakati, tetap saja perebutan kekuasaan  dan adu antar kubu terjadi. Film penuh kekerasan yang akan membuat kita merasa getir, tapi juga penuh dialog yang tidak bisa langsung kita pahami, membuat tidak semua orang bisa langsung merasa terhubung dengan film ini. Tapi bagaimana penyutradaraan dan cerita yang bisa menarik kita sampai memahami apa yang sebenarnya terjadi  sehingga bisa mengenal dan mendalami para karakternya merupakan salah satu kehebatan film ini. Tidak perlu memaklumi kejahatan mereka, tapi mungkin kita bisa memahami suatu sisi lain mengenai manusia.  Election 1 & 2 merupakan dwilogi yang penting dan saling melengkapi .

Isabella
Sutradara: Pang Ho Cheung
Shing, seorang polisi yang payah, pemabuk dan hobi main perempuan, pulang dari klub malam bersama seorang wanita. Setelah beberapa pertemuan yang membingungkan di beberapa tempat lain, wanita muda bernama Yan tersebut mengaku kalau dia adalah anak perempuan yang tidak pernah dibesarkan Shing (hmmm....). Cerita selanjutnya berkembang  bagaimana dua orang ini membina kehidupan sebagai keluarga sementara karir Shing terancam seiring dengan proses dikembalikannya Macau ke RRC. Bagaimana suatu hubungan emosional terbina tanpa ekspos yang berlebihan diselingi humor-humor kecil dan beberpa kejutan merupakan  daya tarik alur cerita. Bukan sekedar hubungan antara manusia saja yang ditampilkan di sini, tapi hubungan emosional Yan dengan seekor anjing yang bernama Isabella.

Love in a Puff
Sutradara: Pang Ho Cheung

Nuansa yang mirip dengan  Isabella mewarnai Love In a Puff, tentang berkembangnya hubungan emosional antara dua orang melalui kejadian biasa-biasa dengan semangat humor. Suatu kemampuan tersendiri bagi pembuat film dalam memvisualisasikan humor-humor tersebut dengan begitu ringan tapi menggemaskan, pada hal-hal yang sepertinya sangat mungkin terjadi pada orang-orang biasa, setidaknya di Hongkong.
Dengan digalakkannya peraturan dilarang merokok di lokasi umum, sekelompok karyawan dari berbagai bidang menemukan tempat untuk merokok dan terbentuklah suatu komunitas, pada jam-jam tertentu mereka berkumpul , mengisi waktu berbagi cerita horor maupun gosip. Cherie dan Jimmy merupakan pasangan yang terbentuk dari pergaulan trersebut. Tidak banyak kejadian maupun konflik yang penting dan spektakuler. Hubungan mereka  mengalir dengan ringan, tidak tampak mendalam, tapi ada dan wajar terjadi. Walaupun penuih dengan adegan merokok yang perlu disensor, film ini juga mengangkat bagaimana mereka sebetulnya juga ingin  berhenti merokok.

Life Without Principle
Sutradara: Johnnie To

Prinsip apa yang masih bisa kita pegang ketika hidup berpatokan pada uang? mengejar angka-angka demi kebendaan dan gaya hidup, sampai terikat pada hutang seumur-umur?. Film ini menampilkan gaya hidup masyarakat Hongkong yang terobsesi dengan uang, dan  bagaimana bank menguasai kehidupan demi keuntungan sebesar2nya. Seperti apa kehidupan seorang pensiunan, seorang polisi dan istrinya, sekelompok mafia dan seorang pegawai bank dalam bertahan di krisis moneter ketika segala sesuatu sampai nyawa pun begitu bergantung pada permainan angka-angka? Ya, sebutir permen tidak membantu apapun.

Friday, June 01, 2012

Vraiment, Vincent





This is Vincent Cassel, as Max in the French movie L'appartement by Gilles Mimouni, 1996. The subtitle displayed above is not his dialogue, but came from the female character in front of him. It's good that the text displayed under his face, so I can capture it and gaze upon this image over and over.  Beautiful, isn't he? 

What's written there is an interesting quote concerning the movie's plot and the context of the conversation that occurred. 
Trying to extract the real sentence in french, I replay this scene for about thousands of times, mostly in slow motion. I also use google to compare the words I can recognize. Yes, it's so difficult with my very very limited french  vocabulaire (not to mention grammaire) when they speak so quickly, and even slow-audio didn't help much.

 After the what feels like the 10th thousands replay, I think this is probably what she said in the original tongue:

"Quand on est vraiment amoureux ce sont par contre du mal ce qu'on fait"

Or maybe I still don't make it right. 
After all, I want to proclaim that this guy has a voice as sweet and melodious as nightingale's..... ..though I am not really sure I know how nightingales sound

Thursday, April 26, 2012

Analisa Film-film Takeshi Kaneshiro

Setahun telah berlalu sejak tercetusnya Bulan Film Takeshi Kaneshiro di Kine-Mala . Antara hambatan kreatifitas, sekedar kemalasan dan berbagai hal yang mendistraksi konsentrasi, diantaranya yang melibatkan beberapa nama seperti Minakata Jin, Barney Stinson dan Dr. Sheldon Cooper, maka baru sekarang bisa dirilis hasil dari program yang memiliki maksud dan tujuan sangat ideal bagi kedamaian dunia ini.

Dari 36 judul film yang terdata dibintangi Takeshi Kaneshiro, hanya 23 judul  yang kami rencanakan tonton pada program ini. Dari 23 judul itu, sebagian judul sudah pernah ditonton dan diperlukan tonton ulang untuk menyegarkan ingatan. Sementara. sisanya  dikarenakan memiliki beberapa referensi yang terlalu jelek yang mampu mengalahkan semangat dan loyalitas, atau walaupun tidak terlalu negatif  kami rasa tidak terlalu signifikan untuk diperjuangkan, atau Kaneshiro perannya terlalu kecil, termasuk beberapa judul yang sudah pernah ditonton juga, seperti yang melibatkan Bo Bo Ho, Jimmy Lin dan Mira Sorvino tidak meninggalkan kesan bagus untuk pantas ditonton ulang.

Pada prakteknya hanya 14 judul yang benar-benar berhasil ditayangkan dalam program tersebut. Dari 9 judul yang tidak jadi ditayangkan, 4 judul kriteria tonton ulang yg batal tapi masih masuk dalam objek analisa, sementara tiga judul lagi belum bisa diikutkan dalam analisa karena sudah terlalu lama dan ada hambatan dalam mengingatnya, dan dua judul lagi yang belum pernah ditonton. Jadi total objek analisa kali ini terdiri dari 18 judul film.  Statistik dari program ini memang bukan intinya, tapi bahwasanya kru Kinemala telah menonton lebih dari 50% film yang dibintangi TK dengan hampir semuanya dia sebagai peran utama dianggap bisa dijadikan dasar analisa sesuai maksud dan tujuan dari program ini.

Adapun produk yang diharapkan dihasilkan dari program ini adalah sinopsis dan resensi dari film-film yang terdaftar dilengkapi analisa mengenai tipe karakter, kualitas akting, model rambut dan kelopak mata Kaneshiro.
Berhubung kemalasan dan ketumpulan otak,  tulisan ini tidak akan membuat analisa setiap film, hanya memberikan hasil kesimpulan singkat secara umum, sementara rangkuman dari tiap judul yang mencakup karakter yang diperankan Kaneshiro dan rekomendasi mengenai filmnya kemungkinan akan menyusul.
Sesuai maksud dan tujuan dari program ini yang tercantum di tulisan sebelumnya, secara keseluruhan kami mensarikan beberapa hal sebagai berikut:

Kebanyakan peran TK yang mempopulerkannya adalah karakter pemuda yang galau dalam hal asmara, dan sedikit mengenai karir. Peran semacam ini lah yang telah membuatnya melejit dan dicintai para penggemarnya sekaligus dipuji kritikus.  Wajahnya yang tampan cocok memerankan pemuda baik-baik  yang  polos dan pemimpi, dan ekspresi komiknya juga cocok untuk memberi nilai komedi. Untuk peran-peran yang lebih serius, TK juga bisa mengeksplorasi dirinya sesuai kematangan usianya. TK hampir selalu tampil baik di film2nya, keunggulannya sebagai tokoh enak dipandang memberi nilai plus pada hampir setiap karakternya walaupun tidak selalu sukses mengeksplorasi kedalaman karakter, kecuali dalam perannya sebagai Zu Ge Liang di Red Cliff yang termasuk karakter picabokeun dari segi tampang. Beberapa film yang memang sudah jelek dari filmnya adalah suatu kegiatan yang telah menyia-nyiakan potensi yang dimiliki TK. Dengan kata lain, di film yang bagus, TK tak mungkin tampil jelek atau jadi pamaeh kecuali.. ya sekali lagi tampang picabokeunnya di Red Cliff

Salah satu potensi yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya berbahasa karena dibesarkan oleh orang tua lintas suku bangsa. Sebagian besar film TK adalah produksi Hongkong dan Taiwan, lalu Jepang termasuk beberapa serial TV. TK fasih berbahasa kanton, mandarin, taiwan, jepang dan inggris. Di film Chungking Express pada beberapa adegan  TK mempraktekkan kemampuannya untuk beberapa bahasa tersebut walau masing-masing hanya beberapa kalimat. Di film Sleepless Town dia memerankan peranakan Taiwan-Jepang, sesuai dengan dirinya sendiri. Dan film Too tired to Die merupakan film berbahasa inggris (karena tidak ditonton ulang, kru tidak ingat seperti apa ceritanya tapi sepertinya TK berbahasa inggris di film ini) . Sejauh ini diketahui TK belum berperan di film Korea, atau harus berbahasa Korea. Yah lagipula, siapa perduli dengan Korea-koreaan?

Sebelum program ini berjalan, kru Kine Mala sempat mensurvey beberapa responden, yang bila ditanya apakah mengenal TK biasanya tidak tahu tapi ketika diperlihatkan gambarnya, reaksinya adalah: “Oh ini yang main dengan Bo Bo Ho?” sangat mengecewakan mengingat filmografinya yang melibatkan banyak aktor-aktris dan sutradara kelas A lintas Pan-Asia, dia dikenal oleh sebagian masyarakat Indonesia untuk perannya di satu film, ya hanya di satu film Takeshi Kaneshiro berperan dengan Bo Bo Ho, sebuah film hiburan yang tidak terlalu signifikan di sejarah dunia sinema.
Hanya saja karena televisi Indonesia menayangkannya berkali-kali sehingga begitu melekat di otak para penontonnya, Bukti kesekian betapa jeleknya pengaruh televisi bagi dunia pendidikan.

Diantara mereka yang kami survey, pada umumnya menenal wajah TK tapi jarang yang tahu namanya, bahkan ada yang menamainya dengan simpel: “Si Kasep”. Mungkin karena darah campurannya menghasilkan kombinasi yang sedap dipandang dan diakui oleh wanita maupun pria (pria normal sekalipun ya)  dengan rambut pendek berjambul, maupun gondring digerai ataupun dikuncir, tetap cocok. Hanya belum ditemukan sejauh ini perannya dengan kepala botak. Yang awalnya tidak disadari adalah di beberapa tahun terakhir ini TK semakin tua semakin ganteng. Dan ternyata penyebabnya adalah matanya yang semakin bersinar berkat operasi kelopak mata. Hal yang bisa disepakati diantara para penggemar setianya sebagai hal yang tidak perlu karena tanpa operasi kelopak mata pun dia sudah tampan sempurna. Berdasarkan hasil pengamatan sejauh ini, dideteksi kelopak matanya mulai menunjukkan lipatan sekitar tahun 2003 di film Turn Left Turn Right, atau mungkin sejak tahun 2000 di film Lavender, atau mungkin juga dilakukan bertahap. Masih perlu dilakukan tonton ulang dan analisa dengan resolusi tinggi.

TK terhitung sebagai aktor yang sangat produktif. Sejak debutnya tahun 1993, hampir setiap tahun dia main film bahkan kadang bisa beberapa film dalam setahun, belum terhitung drama televisi. Beberapa tahun terakhir di masa krisis film Hongkong-Cina yang tertindas Korean Wave, TK justru selalu mendapat peran di film-film blockbuster pilihan karya sutradara-sutradara kelas A, seperti House of Flying Daggers (Zhang Yimou), Red Cliff (John Woo), Warlords, dan Wu Xia (Peter Chan).  Film-film tersebut bukan sekedar film hiburan yang mengandalkan wajah tampannya, tapi juga film yang dengan kualitas cerita dan yang bisa diandalkan dan bisa mengeksplorasi kemampuan dan potensinya TK. Walaupun trade marknya yang paling kuat adalah karakter semacam Cop 223 dan Mr Lost & Found, dan dia tampil (sekali lagi) picabokeun di red Cliff, TK bisa tampil prima sebagai dewa kematian di Accuracy of Death dan detektif yg agak-agak schizophrenia di Wu Xia.  TK merupakan pekerja keras karena dia mampu mengangkat imagenya dari sekedar “hearththrob” menjadi aktor yang semakin matang sebagai pesona layar lebar, layar TV, layar monitor dan penghias mimpi.

Galau di Anna Magdalena, 1998

Kangen Papah, di Fallen Angels, 1995

Lagi flu di Turn Left Turn Right, 2003

 
Ngunyah nanas kalengan di Chungking Express, 1994



Mari kita tunggu penampilannya di film selanjutnya, semoga merupakan karya berharga yang tidak terlupakan lagi.

Saturday, February 11, 2012

Which type is your favourite?

Complications of love triangle, love quadruple(?) etc. happen in movies. In this case, there are two main questions that one character might need to ask the other.

1. Who is it that you really love? (is it me?)

2. Did you ever really love me?

By different movies, there are different types on the way those questions were asked and the way they were answered. Here I make some analysis, based on movies I have watched:

  1. The questions were asked, and the characters answered it directly, with some explanations, definitions, and some "inspirational sweet talk" that will definitely capture the other character's heart. Most of it were done in public. (You’ve seen those speeches in too many Hollywood movies.)
  2. The questions were asked and answered with words. Though the conclusions can still be tragic and disturbing. (most Korean dramas.)
  3. The questions never pronounced, written nor it is answered by words. Sometimes the characters don’t get the answers but the viewers got it implicitly, or have to make their own answers or leave it unanswered. (This applies to most Chinese-HK film, while “Don’t Go breaking My Heart” is a maaaajor exclusion).
  4. We don’t even know who needs to ask the questions, what to ask, and who to ask. This is the ultimate complications. (For some movies that need 2nd or 3rd viewing to get us to number 3, or to get us nowhere).

*Sorry for any grammatical mistakes, I use English because to write “pernahkah kamu benar2 mencintai saya?” & “Siapakah yang sebenarnya paling kamu cintai” feels so cheesy for me, but hey! I just did

Wednesday, February 01, 2012

My "How to Watch a WongKarWai Film"

1. Alone:
Admiring the wonderful cinematography with dynamic cameras and unusual angles, tasting the bold attractive colors that define each movie uniquely with such a clear signature of the filmakers; Enjoying the catchy tunes and songs that will stuck in your head for years; Silently rephrasing the quotes that you realize are not that genuine because they're just things you already know or heard and have been there somewhere in your subconsciousness. You just didn't know how to put them in words while they say it all with such a convincing way that's so damn cool and touching; Recalling any memories of similar psychological experiences, or just wondering what you'd do if one day you'll get through anything close; Getting annoyed by the disturbing parts that you just want to forget and you might need years before gathering strength to watch the movie again.. (and yeah, you want to watch the movie again); Screaming over the gorgeous talented actors and/ or you might need to pinch or squeeze anything or anybody within your reach.

2. With fellow fans & movie appreciator or critics:
To share the experience we get from the movie, seriously discuss every aspects, like that normal "kine klub" thing, or just having that faithful fans endless babble on praising the director, the cinematographer, the composer, the actors, etc.

3. With fans of the actors who actually can't get into the story though enjoying their appearance and performances

4. With movie appreciators who know good movies but don't give a damn about who Takeshi Kaneshiro, Leslie Cheung or the two Tony Leung are