Sekilas info buat para wanita (atau bisa berlaku untuk para pria juga). Mungkin ini adalah pengalaman yang pernah anda alami, sedang, atau belum.
Ada tiga tipe pria yang berbahaya karena bisa membuat anda merasa sangat spesial ketika bisa "menaklukkan" tipe-tipe ini;
1. Playboy.
Karena ketika dia begitu banyak ngelabai cewek2 lain, selalu
dikelilingi cewek2 tapi dia memilih anda, tentu anda merasa sangat
sepesial bisa mengalahkan banyak saingan.
2. Cool/ pemalu
Sebaliknya dari tipe 1, tipe 2 ini adalah yang tidak gampang dekat
dengan cewek. Apakah dia sebetulnya memang "cool" pembawaannya, memang
menjaga jarak dalam bergaul, ataupun hanya tipe pemalu yang tidak
gampang bergaul, intinya ketika anda bisa dekat dengan dia dan cewek2
lain tidak, tentu anda merasa spesial
3. Pemikir rumit sok unik
Tipe ini suka banyak berpikir dan membahas hal-hal yang berat atau
terkesan berat seperti tentang filosofi, teologi, bahasan dari buku-buku
yang susah-susah, film-film memusingkan, suka membuat pemikiran2nya
sendiri tentang kehidupan. Tentunya anda merasa spesial ketika bisa
memahaminya, merasa "selevel" ketika bisa menanggapi pemikiran2
"berat"nya.
Nah sodara2, bila memang selanjutnya terbukti anda lah yang spesial
buat orang-orang itu, selamat! Tapi bila tidak, siapkan saja mental anda
ketika:
Untuk tipe 1: Ternyata anda bukan yang spesial, melainkan hanya salah
satu diantara "labaan"nya, dan anda tidak sadar itu. Ato mungkin anda
memang disepesialkan dibanding banyak yang lain, tapi bersamaan dengan
itu, ada juga yang lain2 yang dia sepesialkan.
Untuk tipe 2: Walaupun anda berhasil dekat dengannya dan tidak ada
cewek lain yg dekat dgn dia, tetap saja bukan anda yang dia suka,
mungkin dia punya kecengan lain.
Untuk tipe 3: Disaat anda merasa yang terbaik karena bisa
memahaminya, sebenarnya banyak yang lain yang merasa telah berhasil
memahami orang itu juga.
Dari ketiga tipe itu, yang paling harus diwaspadai adalah
kombinasinya yaitu orang yang tampak cool dan pendiam, ternyata suka
berpikir rumit2, dan ternyata adalah seorang playboy
Setema dengan postingan ini:
Kisah cinta a la Serial Cantik
Tipuan Kisah Cinta a la Serial Cantik
Dor!
Apa yah?
Adu-Aduu
XCUSE
Monday, January 07, 2013
Tuesday, January 01, 2013
5 cm dalam sehelai mi instan berMSG

(Semi Spoiler Alerts!)
Mungkin tidak salah kalau ada yang percaya bahwa pembodohan warga Indonesia itu memang disengaja dan dilakukan dengan sistematis. Bagi saya, film 5 cm adalah salah satu buktinya. Maaf kalau terbaca lebay, tapi percayalah, opini ini muncul karena film tersebut yang sangat super duper lebay.
Saya tidak baca bukunya jadi sama sekali tidak akan ada perbandingan antara novel dan buku di tulisan ini.
Lebay, tidak logis dan penuh pembodohan memang bukan berarti tidak menghibur. Film yang diangkat dari novel yang katanya best seller (?) ini jelas sekali dibuat dengan suatu idealisme film sebagai objek komersialisasi dan konsumerisme. Pemerannya cakep-cakep, bajunya keren-keren, musiknya enak dan selipan humor2 kecil ditambah dengan pemandangan alam yang indah merupakan hiburan yang dicari dan dinikmati banyak orang (terutama) anak muda, terbukti dari penuhnya bioskop-bioskop, sampai beberapa bioskop memutarnya di dua studio per hari. Waktu releasenya yang menjelang musim liburan pun merupakan strategi marketing yang jitu.
Para pemeran dipilih dengan tepat untuk memikat banyak penggemar. Akting mereka lumayan sinetron, dengan Herjunot Ali yang tampil lumayan sedikit rada menarik, dan Saykoji yang cocok dengan karakter komikalnya sebagai orang dengan fisik gendut yang selalu di sinetron Indonesia yang selalu dijadikan lelucon konyol. Fedi Nuril super garing, Denny Sumargono emang nampang doang, kekakuannya sih sedikit lucu. Kalau pemeran ceweknya kaku semua, tapi pastinya termaafkan karena cantik
Film 5 cm seharusnya bisa tenang-tenang saja dengan identitasnya sebagai film hiburan ringan kalau tidak berusaha terlalu menggurui dengan berbagai informasi yang menyesatkan. Jadi maaf saja kalau banyak celaan di tulisan ini.
Pertanyaan utamanya adalah, kenapa dengan modal yang (entah berapa) pastinya sangat sangat tidak kecil, waktu dan energi yang banyak dihabiskan, produser film ini tidak bisa menggunakan modalnya dan berpikir sedikit, sedikiiiiiiiiiiiit saja dan berusaha agar film ini jadi sedikit logis yang sebanding dengan sifat mengguruinya? Dengan gembar gembornya yang berhasil menarik penonton sekian banyak, kenapa tidak dimanfaatkan untuk wawasan yang rada bermutu?
Tema film ini adalah persahabatan yang disertai kisah cinta, dalam perjuangan meraih mimpi untuk (duh!) sampai ke puncak Mahameru yang membangkitkan semangat nasionalisme. Semua itu sayang sekali tidak tertuang ke dalam film ini dalam suatu hubungan yang logis sebagai kesatuan cerita.
Tentang persahabatan:
Entah apakah suatu kutukan atau anugrah kalau bisa punya sahabat yang setiap wiken selalu nongkrong bareng selama...what... hampir 10 tahun? tanpa absen? Gak punya pacar selama itu masih mungkin lah tapi tidakkah mereka yang kuliah, kerja, pastinya punya teman2 lain dan keluarga yang sekali2 juga punya acara? Darimana persahabatan mereka dimulai? Sempat disebut umur salah satunya 24 tahun, berarti mereka mulai nongkrong bareng tiap wiken dari SMP/ SMA? apakah kegiatan mereka benar2 cuma nongkrong atau karena punya suatu kegiatan spesifik bersama? dalam ketidak jelasan itu lah dnarasikan bagaimana 5 orang ini: Genta, Jafran, Riani, Ian dan Arial menjalani kehidupan masa mudanya.
Semua itu malah semakin terasa janggal ketika salah satu dari mereka, tiba-tiba menyatakan merasa bosan, seperti dipaksakan dengan pernyataannya yang tidak terasa natural apalagi dilanjutkan dengan ide untuk tidak bertemu dan tidak saling kontak untuk jangka waktu tertentu.
Tentang karir: Dari latar belakang masing-masing tokoh yang dinarasikan oleh tokoh Jafran, dan juga yang digambarkan di film, tidak jelas apa pekerjaan masing2. Genta mungkin semacam EO yang kadang mroyek bareng Riani. Riani cewek kantoran entah apa. Ian jelas karena masih kuliah, Arial urusannya cuma fitness, apakah dia atlit? tidak jelas. Si Jafran sendiri yang kerjanya cuma berpuisi2 buat lagu dan album narisis. Hmmm okeh, anggaplah mereka memang baru 1-2 tahun lulus kuliah jadi masih belum jelas pekerjaannya. Beruntung sepertinya keluarga mereka mampu mensupport.
Tentang percintaan: Diantara mereka, ada yang tumbuh perasaan suka (antara cowok-cewek, alhamdulillah) yang tidak terungkapkan karena merasa terlalu nyaman berteman, bla bla ya standard lah, sudah banyak kita temukan di komik, serial cantik, sitcom, romcom. Ngecengin dan ngejar2 adik sahabat, cowok pemalu yang gak berani kenalan sama cewek, cewek yang galau2 gara2 merasa tidak boleh nembak cowok, yaaaa standard juga. Eksekusinya cukup mensinetron tapi dibanding banyak hal2 lainnya di film ini, topik ini justru masih bisa saya terima sebagai sekedar faktor komedi dan sedikit twist cerita.
Tentang Sponsor:
Sepertinya sudah jadi ini fenomena film2 layar lebar komersil Indonesia belakangan ini (yang pasti saya lihat di film2 produksi Punjabis dan Sorayas), produser nambah modal dengan memasukkan iklan sponsor dengan sangat mencolok. Hasilnya biasanya sangat mengganggu karena tidak divisualisasikan dengan halus. Sebegitu harus eksisnya produk2 tersebut. Untuk film 5 cm: Pertamax, oke lah sekalian menunjukkan tokoh2 di film ini adalah kalangan "mampu". Selanjutnya: Indomie. Produk mi instan berMSG bisa tampil dengan sangat terang-terangan di film ini sama sekali mengabaikan edukasi mengenai pola makan. Di satu sisi mungkin membuat banyak orang merasa relate karena dengan teknik pemasaran Indomie (yang salah satunya dengan iklan di film ini) tempat-tempat anak muda nongkrong sambil makan Indomie masih saja eksis. Tapi tidakkah ini salah satu bukti pembodohan di film ini?
Tentang Pendakian:
Setelah memutuskan berpisah selama tiga bulan, Genta mengatur pertemuan mereka di stasiun kereta, tanpa memberi tahu mereka akan ke mana. Sampai di Malang, lanjut ke Tumpang lalu naik jip dan di tengah perjalanan dengan jip barulah dia menunjukkan tujuan mereka, Dan tiba-tiba, semua sepakat itulah mimpi mereka dan mereka bertekad agar bersama berdiri di puncak Mahameru yang baru ditunjukkan Genta. Selanjutnya, di setengah (?) bagian film, gunung Semeru tidak sekedar jadi latar cerita, tidak sekedar tempat indah untuk variasi tempat bermain sekelompok anak muda. Proses perjalanan mereka di Semeru itu menjadi inti cerita yang esensial karena berulang2 mereka, terutama Genta, membahas dan menyebut gunung ini berkaitan dengan tekad, tujuan, mimpi mencapai puncak .
Kalau tidak sanggup (atau tidak mau) menunjukkan bagaimana melakukan suatu hal dengan benar, maka tidak usah menggurui. Kalau tidak bisa menjelaskan bagaimana persiapan perjalanan mendaki gunung api tertinggi di pulau Jawa, tidak usah menyebut daftar perlengkapan yang tidak lengkap dan sangat jauh dari standard bawaan minimal. Kalau tidak tahu bagaimana seharusnya melakukan summit attack dari ketinggian 2900an sampai ketinggian 3676 mdpl, tidak usah menyebutkan prosedur yang salah. Terlalu berisiko membawa 5 orang yang belum pernah naik gunung, tidak telatih dan, tanpa persiapan fisik dan mental, tanpa koordinasi sebelum berangkat, dan tanpa guide dan porter.
Genta tiba2 muncul sebagai orang yang berpengalaman dan memimpin teman2nya. Padahal di awal film tidak ada petunjuk sama sekali bahwa dia orang yang hobi naik gunung. ya kalau tiap minggu nongkrong di warung indomi, kapan dia ke gunungnya? Kalaupun iya pernah, masak dia tidak pernah cerita ke teman2nya bahwa kalau ke kota Malang lalu ke Tumpang itu adalah langkah awal buat naik Semeru?
Dan sekali lagi, sejak kapan sih mencapai puncak Mahameru menjadi impian bersama mereka semua??
Persinetronan Indonesia memang tidak dikenal dari kemampuannya menampilkan suatu profesi ataupun hobi dengan baik. Mulai dari pembantu rumah tangga, polisi, sampai direktur, coba dibandingkan, berapa persen yang memang mendekati kondisi sesuai kenyataan? Bahkan permain sinetron yang kira2 baru masuk kuliah saja bisa berperan jadi dokter sepsialis, dengan rambut gondring sasak dan muka super baby face, asal berjas putih dandan parlente.
Maka, di film yang mensinetron ini jangan harap mendaki gunung yang termasuk hobby dan juga profesi bagi sebagian orang akan diperlihatkan dengan benar. Padahal sebagai topik utama yang banyak dielu-elukan oleh penggemarnya dan media, setidaknya, harusnya jangan mencontohkan hal yang salah juga kali ye!!!
Mengenai Nasionalisme:
Nasionalisme di film 5 cm, lagi-lagi merupakan hal yang muncul mendadak tanpa nyambung. Tiba-tiba mereka bangga dengan Indonesia setelah menjalani pendakian ini, dengan berbagai macam deklarasi kegombalan dan kebanggan. Padahal topik nasionalisme belum pernah muncul sebelumnya. Gampang sekali ya mencintai Indonesia ketika berada di tengah keindahan alam. Jadi selama ini waktu tinggal di Jakarta, isi bensin pake Pertamax, makan mi instan berMSG, enak2 di rumah orang tua tidak ada yang merasakan nasionalisme?
Jadi apa sebetulnya pencapaian dari film ini? membangkitkan nasionalisme dengan sekedar meneriak2kan cinta Indonesia? Tidak jelas bagaimana sebetulnya kadar nasionalisme mereka dalam aplikasi kehidupannya, sebelum dan sesudah naik gunung, apa ada yang penting?
Tentang persahabatan dan cinta? banyak film lain yang menampilkannya dengan lebih baik.
Mempromosikan gunung Semeru? percaya lah sebelum ada film ini, sebelum ada bukunya, gunung itu sudah populer dan ramai. Memotivasi penonton, terutama para pemuda untuk naik gunung di Indonesia? Atau justru membodohi mereka dengan menampilkan kesannya naik gunung itu gampang dan enteng? Tentang mengejar mimpi? mimpi apa buat apa sih?
Pencapaiaannya untuk sekedar memberi variasi pemandangan di layar selain suasana standard persinetronan ya boleh lah. Atau mungkin memang berhasil mereka memberi harapan buat yang memang sudah ingin mencapai puncak Mahameru, dan memberi ide buat yang tadinya tidak berniat, atau mungkin nostalgia untuk yang sudah pernah. Memberi harapan buat yang sedang berfriendzone juga. Selebihnya tidak ada yang penting bisa didapat dari film ini.
Buat yang belum tau arti 5 cm, bagi saya itulah jarak minimal dari kening saya yang diperlukan untuk JIDAT PALM!
Nah kayaknya gue udah banyak nyela film 5 cm nih, Siapa yang mau ribut ama gue?
PS: Annoying details will be released with Full spoiler alert in the next posting. Maybe.
Tuesday, December 18, 2012
Dan Kembali
(Catatan sebelumnya: Ke Sana Lagi)
Perjalanan ke puncak saya tempuh selama 4, 5 jam. Tidak terlalu jelek karena tidak jauh dari perkiraan sesuai kemampuan. Tadinya Ojo memperkirakan perjalanan 3 jam, berdasarkan pengalaman dia taun 2005 dan merencanakan berangkat jam 2 pagi untuk mulai summit attack. Tapi saya minta berangkat lebih cepat karena 11 tahun yang lalu saja kami berangkat jam 1, dan berjalan sekitar 4 jam lebih, ketemu matahari terbitnya sebelum sampai puncak. Kali ini tidak jauh berbeda ternyata. Padahal kondisi fisik jauh lebih tidak terlatih. Mungkin waktu itu perjalanan cukup ramai sehingga banyak mengantri sementara kali ini rute ke puncak lega, tapi melangkahnya yang lebih santai (bukan santai ding, cuma lambat aja heheh). Matahari sudah terbit sekitar jam 04.40.
Di tengah2 perjalanan, kami disusul oleh Tobi dan porternya yang berangkat dari Kali Mati juga jam 1 pagi, Tak berapa lama kemudian disusul Ludwig. Duh..
Sekitar jam 05.30 kami sampai di puncak yang belum terlalu ramai. Melirik ke batas vegetasi, masih terlihat ramai kelip2 senter dari rombongan yang 40 orang.
Istirahat, poto-poto, minum, makan buah dan buah kalengan, tak lupa berbagi dengan tim Tobi.
Ternyata rombongan yang 40 orang sebagian besar batal meneruskan ke puncak. Mungkin karena terlalu banyak orang bergerak serentak jadi pergerakan mereka lambat. Sebagian yang sebetulnya masih sanggup, bersikap solider untuk ikut tidak meneruskan sementara sebagian lagi masih meneruskan. Karena itulah, suasana di puncak cukup nyaman, padahal sudah khawatir bakal ramai seperti pasar .
Jam setengah 8 kami sudah bersiap2 turun, dan sampai di Arcopodo sudah agak siang. Tidak sempat makan pagi bikin mood tidak bagus, saya sempet buat acara pundung. Ya maklum lah mungkin karena sudah berumur.
Kami sampai di Kali Mati sekitar jam 13 untuk masak dan makan siang.
Sekitar jam 14, 30 perjalanan dilanjutkan, sampai di Cemoro Kandang jam 15.30 dan Ranu Kumbolo sekitar jam 16.20.
Rombongan 40 orang terlihat pasang pose ngecamp lagi di Kali Mati, sehingga Ranu Kumbolo sepi, hanya ada 3-4 tenda. Nikmatnyaaa!!
Malam itu kami tidur cukup pulas,
Pagi tanggal 26 sep kami melembam sampai siang baru bergerak lagi sekitar 13:45. Ranu Kumbolo sudah kosong mungkin hanya tinggal satu tenda.
Sampai di Ranu Pani pas magrib. Agak meragukan apakah bermalam di sana lagi, tapi rasanya ingin lebih cepat kembai ke kota, karena Ranu Pani itu nanggung. Untung kami bertemu dengan dua orang yang akan turun juga sehingga bisa menyewa jip turun bertujuh
Dua orang itu dari surabaya, papasan dengan kami kemarinnya saat kami kembali antara Jambangan dan Cemoro kandang, mereka ke arah kalimati untuk lanjut ke puncak dan hari itu mereka sudah sampai di Ranu Pani bahkan lebih cepat daripada kami. WOW banget.
Malam itu kami tidur di rumah pemilik jip, esok paginya berangkat ke Malang, nongkrong dan sorenya kembali ke bandung dengan kereta Malabar.
Keseluruhan dari perjalanan ini sangat menyenangkan, suatu penyegaran yang sangat bermanfaat. Tidak ada insiden yang berbahaya dan mengkhawatirkan. Sejak hari pertama (atau kedua) di gunung Ojo ada sedikit masalah dengan kakinya, ada yang kepelitek atau uratnya ketarik tapi tetap bisa berjalan dengan kecepatan konsisten, dengan bantuan salep Voltaren.
Walaupun tidak dipungkiri secara fisik pasti melelahkan dan secara mental kami selalu saling "mendemotivasi", perjalanan kami lakukan dengan santai. Santai, tapi semua jadwal yang direncanakan terpenuhi, seperti bagaimana kami menghindari jalan malam kecuali waktu summit attack. Kami bisa sampai pada jam yang pas di tiap lokasi ngecamp. Tidak cepat ala tim atlit, tapi juga tidak lambat ala tim mehek.
Selama di gunung, Alhamdulillah kami bisa makanan enak terus yang cukup mendukung mood, dengan berbagai variasi lauk, sambel dan sayuran, nasi juga tidak pernah gagal dimasak. Selain itu, pembicaraan2 juga cukup bermutu dan banyak tertawa.
Yang sangat menyedihkan adalah betapa banyaknya sampah di gunung ini (yang ingin saya tuangkan ke satu tulisan khusus, lain kali mungkin)
Perjalanan ke puncak saya tempuh selama 4, 5 jam. Tidak terlalu jelek karena tidak jauh dari perkiraan sesuai kemampuan. Tadinya Ojo memperkirakan perjalanan 3 jam, berdasarkan pengalaman dia taun 2005 dan merencanakan berangkat jam 2 pagi untuk mulai summit attack. Tapi saya minta berangkat lebih cepat karena 11 tahun yang lalu saja kami berangkat jam 1, dan berjalan sekitar 4 jam lebih, ketemu matahari terbitnya sebelum sampai puncak. Kali ini tidak jauh berbeda ternyata. Padahal kondisi fisik jauh lebih tidak terlatih. Mungkin waktu itu perjalanan cukup ramai sehingga banyak mengantri sementara kali ini rute ke puncak lega, tapi melangkahnya yang lebih santai (bukan santai ding, cuma lambat aja heheh). Matahari sudah terbit sekitar jam 04.40.
Di tengah2 perjalanan, kami disusul oleh Tobi dan porternya yang berangkat dari Kali Mati juga jam 1 pagi, Tak berapa lama kemudian disusul Ludwig. Duh..
Sekitar jam 05.30 kami sampai di puncak yang belum terlalu ramai. Melirik ke batas vegetasi, masih terlihat ramai kelip2 senter dari rombongan yang 40 orang.
Istirahat, poto-poto, minum, makan buah dan buah kalengan, tak lupa berbagi dengan tim Tobi.
Ternyata rombongan yang 40 orang sebagian besar batal meneruskan ke puncak. Mungkin karena terlalu banyak orang bergerak serentak jadi pergerakan mereka lambat. Sebagian yang sebetulnya masih sanggup, bersikap solider untuk ikut tidak meneruskan sementara sebagian lagi masih meneruskan. Karena itulah, suasana di puncak cukup nyaman, padahal sudah khawatir bakal ramai seperti pasar .
![]() |
Setelah berbagi jeruk, berbagi id facebook. |
Jam setengah 8 kami sudah bersiap2 turun, dan sampai di Arcopodo sudah agak siang. Tidak sempat makan pagi bikin mood tidak bagus, saya sempet buat acara pundung. Ya maklum lah mungkin karena sudah berumur.
Kami sampai di Kali Mati sekitar jam 13 untuk masak dan makan siang.
Sekitar jam 14, 30 perjalanan dilanjutkan, sampai di Cemoro Kandang jam 15.30 dan Ranu Kumbolo sekitar jam 16.20.
Rombongan 40 orang terlihat pasang pose ngecamp lagi di Kali Mati, sehingga Ranu Kumbolo sepi, hanya ada 3-4 tenda. Nikmatnyaaa!!
Malam itu kami tidur cukup pulas,
Pagi tanggal 26 sep kami melembam sampai siang baru bergerak lagi sekitar 13:45. Ranu Kumbolo sudah kosong mungkin hanya tinggal satu tenda.
Sampai di Ranu Pani pas magrib. Agak meragukan apakah bermalam di sana lagi, tapi rasanya ingin lebih cepat kembai ke kota, karena Ranu Pani itu nanggung. Untung kami bertemu dengan dua orang yang akan turun juga sehingga bisa menyewa jip turun bertujuh
Dua orang itu dari surabaya, papasan dengan kami kemarinnya saat kami kembali antara Jambangan dan Cemoro kandang, mereka ke arah kalimati untuk lanjut ke puncak dan hari itu mereka sudah sampai di Ranu Pani bahkan lebih cepat daripada kami. WOW banget.
Malam itu kami tidur di rumah pemilik jip, esok paginya berangkat ke Malang, nongkrong dan sorenya kembali ke bandung dengan kereta Malabar.
Keseluruhan dari perjalanan ini sangat menyenangkan, suatu penyegaran yang sangat bermanfaat. Tidak ada insiden yang berbahaya dan mengkhawatirkan. Sejak hari pertama (atau kedua) di gunung Ojo ada sedikit masalah dengan kakinya, ada yang kepelitek atau uratnya ketarik tapi tetap bisa berjalan dengan kecepatan konsisten, dengan bantuan salep Voltaren.
Walaupun tidak dipungkiri secara fisik pasti melelahkan dan secara mental kami selalu saling "mendemotivasi", perjalanan kami lakukan dengan santai. Santai, tapi semua jadwal yang direncanakan terpenuhi, seperti bagaimana kami menghindari jalan malam kecuali waktu summit attack. Kami bisa sampai pada jam yang pas di tiap lokasi ngecamp. Tidak cepat ala tim atlit, tapi juga tidak lambat ala tim mehek.
Selama di gunung, Alhamdulillah kami bisa makanan enak terus yang cukup mendukung mood, dengan berbagai variasi lauk, sambel dan sayuran, nasi juga tidak pernah gagal dimasak. Selain itu, pembicaraan2 juga cukup bermutu dan banyak tertawa.
Yang sangat menyedihkan adalah betapa banyaknya sampah di gunung ini (yang ingin saya tuangkan ke satu tulisan khusus, lain kali mungkin)
Thursday, October 25, 2012
Ke sana lagi
Mungkin betul kata Ojo sewaktu kami nongkrong2 di puncak gunung kemarin itu.
"Dengan begini gw tau Mal, gw ga akan naik gunung yang sama dua kali"
Tentu maksudnya adalah gunung-gunung yang besar/ tinggi/ populer, sementara gunung-gunung kecil sekitar bandung sudah puluhan kali dia naik-turun, dan gunung-gunung besar sudah ada belasan mungkin yang dia daki..
Logikanya buat saya, untuk suatu usaha mengeluarkan tenaga, waktu dan uang yang begitu besar, mending kita mendatangi tempat-tempat baru daripada ke tempat yang sama..
'Emang kenapa Jo?"
"Pas nyampe di puncak gini, udah nggak WOW lagi"
Tapi bagi saya sih suatu perjalanan itu "jodoh2an" juga, kalau jalan nasib mengarahkan ke situ-situ lagi, ya ikuti saja. Kesempatan ke Semeru lagi setelah 11 tahun ini datang lagi karena ada si Dwi yang lagi niat banget ke sana dan saya yang lagi pengen banget liburan ke manapun. Jadilah kami memaksa tiga orang lagi buat jadi peserta, yaitu si Ojo, Mahfud dan Gilang. Di antara kami berlima, cuma Dwi dan Gilang yang belum pernah ke Semeru.
Inti dari perjalanan ini buat saya adalah:
H0 : Jumat, 21 September 2012
Hari keberangkatan, kami menggunakan kereta Malabar express dari Bandung jam 15.30. Makan malam dari bekal nasi bungkus buatan ibunya Dwi.
H1 : Sabtu, 22 September 2012
Sampai di Malang jam 7 pagi. Sarapan rawon di warung dekat stasiun. Saya sempet naik becak mencari RS Saiful Anwar demi berfoto dengan patungnya.
Sekitar jam 9 kurang, kami mencarter angkot ke tumpang, dengan harga Rp. 10.000 per orang. Sampai di Tumpangjam 9.30 sempat belanja sayuran di pasar dan makanan instan di mini market.
Sementara menunggu teman yang belanja, ada yang mengajak bareng mencarter truk ke atas. Mereka menunggu kami beres belanja dan packing, lalu dengan harga 30 ribu per orang kami ber-10 berangkat jam (10.50an). Jalan ke atas cukup lancar, jalannya bagus dan sudah dilebarkan tidak seekstrim yang dulu saya ingat.
Sampai di Ranu Pani sekitar jam 12.20 lapor dan mendaftar ke pos pemberangkatan. Berkas yang harus disetor adalah fotocopy KTP dan surat sehat. Ada biaya administrasi dll, juga biaya untuk setiap kamera yang dibawa. Lupa saya tepatnya berapa tapi kalau tidak salah kami berlima hanya ditagih 35 ribu, karena dapat diskon.
Barak pendakian (pondok pendaki, entah apa namanya) kosong melompong jadi kami gelar dan golerkan barang-barang di dipan yang tersedia. Di Ranu Pani ada dua warung tapi yang satu tutup, dan satu lapak bakso malang. Ada juga masjid dan kamar mandi yang cukup bersih. Makan siang dengan Rawon lagi, karena hanya itu yang sudah siap.
Sore itu muncul dua orang pria bule yang cukup mencolok, karena ada kejadian lucu waktusalah satu sempat kejatuhan matras dari ranselnya, entah karena salah cantel.
Menjelang magrib semua warung sudah tutup maka kami memutuskan memasak. Menu malam adalah nasi putih dan tumis tempe kecap teri.
Malam tidur di barak, suhu cukup terasa dingin walaupun sudah berbalut sleeping bag. Kostum penghangat tidur memang baru setengah set yang saya pakai. Versi lengkap akan dikeluarkan di Ranu Kumbolo yang dicurigai bakalan lebih dingin
H2 Minggu, 23 September 2012.
Pagi kami bangun sekitar jam 5 dan di luar sudah terang. Menu pagi nasi liwet dan goreng asin. Setelah packing kami sempatkan menambah bekal gula dan minyak goreng karena khawatrir bawaan kami kurang setelah dua kali masak yang ternyata cukup menghabiskan minyak.
Rencana berangkat jam 7 pagi jadi molor karena pergerakan yang santai. Sekitar jam 8 baru benar-benar siap berangkat.
Perjalanan awal terasa cukup berat karena panas dan belum terbiasa dengan beban. Sebagaimana yang tercantum pada plang-plang informasi, Ranu Kumbolo dan Ranu Pani hanya berbeda elevasi 200 m, tapi siap-siap saja untuk perjalanan yang cukup jauh dan banyak naik-turun karena melalui jalur yang mengelilingi gunung-gunung kecil. Baru awal perjalanan kami sudah disalip oleh si dua bule dan dua porternya. Jam 08.53 sampai di plang Landengan Dowo, perjalanan dilanjutkan, melewati sebuah shelter yang katanya adalah pos I. Menurut info dari orang yang kami temui di pos II, antara Ranu pani dan Ranu Kumbolo sekarang telah dibangun empat pos, berupa shelter dengan tembok rendah beratap seng.
Kami tidak menjadwalkan setiap jalan berapa menit istirahat berapa menit. Secapeknya saja, rata-rata mungkin setiap setengah jam, istirahat sekitar 5 menit atau lebih. Kadang bisa lebih sering istirahatnya. Maklum, bukan atlit. Selama perjalanan, kami salip-salipan dengan sebagian tim dari satu rombongan yang terdiri dari 40 orang, kabarnya mereka dari Jakarta dan sebagian dari mereka cukup rajin juga beristirahat.
Jam 11.45 sampai di plang Watu Rejeng.
Sekitar jam 13.00 kami istirahat makan siang di pos III yang bangunannya runtuh sehingga harus mencari lapak di dekatnya. Cukup sulit karena posisi pos di lereng menjelang jalur tanjakan yang cukup ektsrim. Lapak yang ada sangat sempit sementara rombongan yang 40 orang sebagian juga beristirahat di sana. Tapi kami tetap bisa mengatur untuk masak. Menu makan siang: mi telor diaduk telor dan kornet. Menu ini dipilih karena lebih cepat daripada masak nasi.
Sepanjang jalan banyak burung yang cantik, terbang bebas dari ranting ke ranting. Kalau sedang berada di jalur yang cukup sepi, burung penunjuk jalan muncul dan berjalan di depan kami, dengan jarak yang cukup dekat. Tapi Saya selalu telat mengeluarkan kamera. Kami juga berpapasan dengan cukup banyak rombongan yang ke arah Ranu Pani. Diantaranya banyak juga orang asing, bahkan ada yang membawa anjing.
Jam 16.00 kami sudah sampai di Ranu Kumbolo. si dua bule yang terlihat di Ranu pani sedang bersantai memandangi danau sambil minum coca cola, tenda mereka sudah terpasang. Sebagian rombongan yang 40 orang juga sudah memasang beberapa tenda.
Dwi mendengar si dua bule mengobrol berbahasa Jerman. Setelah didorong2 atau tepatnya dipaksa, Dwi menyapa mereka dengan bahasa jerman. Tak lama setelah itu salah satu menghampiri Ui, berbicara yang diterjemahkan menjadi: "Kenapa banyak orang lokal buang sampah di sini? padahal danau seindah ini?"
Euhh... malu deh. Kenapa coba? Sejak adanya pertanyaan ini, saya jadi berpikir banyak. yang akan dilanjutkan di blog post selanjutnya. Mungkin....
Makan malam kami memasak nasi dan goreng ikan asin serta sayur sawi lagi tapi dibuat agak berkuah dan sedikit pedas agar terasa hangat walaupun agak mengancam kondisi perut.
H3 Senin, 24 September 2012.
Bangun sekitar jam 5 pagi, matahari sudah cukup terang. Kami memasak dan sarapan bubur kacang hijau, dilanjut nasi goreng cikur dengan lauk dendeng manis goreng.
Dwi menawarkan kopi dan bubur kacang ke dua bule tadi dan kami pun berkenalan, mereka bernama Tobi dan Ludwig. Tobi adalah konsultan IT dan Ludwig adalah Konsultan Pajak (atau ketuker ya?). Sempat juga mereka ditawarkan nasgornya. Tapi sepertinya tidak tahan pedas dan bumbunya.
Jam 12.10 kami makan siang di sekitar Jambangan. Menunya spaghetti bersayur bertomat. Jam 14.30 masuk area Kalimati, Tobi dan Ludwig sudah pasang tenda di situ dan ada juga beberapa tenda lain termasuk rombongan 40 orang. Rute sampai Kali Mati relatif landai tapi naik turun jadi cukup melelahkan juga. Tidak banyak progres secara elevasi antara Ranu Kumbolo ke Kali Mati. Hanya naik sekitar 300 m.
Kami lanjut ke arah Arcopodo. Sempat istirahat agak lama di kaki tanjakan. Mulai dari sini baru tanjakan semakin ekstrim, dan jalannya berlapis abu. Jam 16.10 sampai arcopodo, ketinggian 2999 mdpl.
Sepertinya hanya kami yang akan bermalam di arcopodo. Maka dilaksanakanlah rutinitas biasa untuk ngecamp, plus persiapan camilan malam dan bekal untuk summit attack. Jam 8 malam kami mulai tidur.
H4 Selasa, 25 September 2012.
Jam 00.00 weker berbunyi. Setelah saling membangunkan, jam 00.15 kami mulai bersiap. Makan roti, minum yang hangat packing perbekalan air, snack, dan buah2an baik yang segar maupun kalengan dan kotakan. Sudah terdengar rombongan-rombongan lain yang naik dari Kalimati. Jam 01..00 lewat sedikit, kami mulai berjalan ke atas.
Lanjutan ceritanya di sini
"Dengan begini gw tau Mal, gw ga akan naik gunung yang sama dua kali"
Tentu maksudnya adalah gunung-gunung yang besar/ tinggi/ populer, sementara gunung-gunung kecil sekitar bandung sudah puluhan kali dia naik-turun, dan gunung-gunung besar sudah ada belasan mungkin yang dia daki..
Logikanya buat saya, untuk suatu usaha mengeluarkan tenaga, waktu dan uang yang begitu besar, mending kita mendatangi tempat-tempat baru daripada ke tempat yang sama..
'Emang kenapa Jo?"
"Pas nyampe di puncak gini, udah nggak WOW lagi"
Tapi bagi saya sih suatu perjalanan itu "jodoh2an" juga, kalau jalan nasib mengarahkan ke situ-situ lagi, ya ikuti saja. Kesempatan ke Semeru lagi setelah 11 tahun ini datang lagi karena ada si Dwi yang lagi niat banget ke sana dan saya yang lagi pengen banget liburan ke manapun. Jadilah kami memaksa tiga orang lagi buat jadi peserta, yaitu si Ojo, Mahfud dan Gilang. Di antara kami berlima, cuma Dwi dan Gilang yang belum pernah ke Semeru.
Inti dari perjalanan ini buat saya adalah:
Ngapdet poto dan ngetes pisik.
Di setasion Bandung.
Ini pertama kali saya membuat cerita perjalanan di blog sambalado, yang biasanya diisi sekitaran tulisan omel2an , madu2, resep pencok leunca, dan review film. Bagus juga ya karena acara jalan-jalan ini jadi terdokumentasikan dengan lebih baik.
Baiklah, berikut mungkin jurnal singkat perjalanan kami. Mungkin ini bagian pertama karena ceritanya akan dilanjutkan di postingan selanjutnya, atau mungkin dilanjutkannya di posting ini lagi, atau mungkin tidak akan dilanjutkan atau entah kapan baru dilanjutkan.
H0 : Jumat, 21 September 2012
Hari keberangkatan, kami menggunakan kereta Malabar express dari Bandung jam 15.30. Makan malam dari bekal nasi bungkus buatan ibunya Dwi.
H1 : Sabtu, 22 September 2012
Sampai di Malang jam 7 pagi. Sarapan rawon di warung dekat stasiun. Saya sempet naik becak mencari RS Saiful Anwar demi berfoto dengan patungnya.
Sekitar jam 9 kurang, kami mencarter angkot ke tumpang, dengan harga Rp. 10.000 per orang. Sampai di Tumpangjam 9.30 sempat belanja sayuran di pasar dan makanan instan di mini market.
Packing di mini market sesuatu, Tumpang
Di Truk
Sampai di Ranu Pani sekitar jam 12.20 lapor dan mendaftar ke pos pemberangkatan. Berkas yang harus disetor adalah fotocopy KTP dan surat sehat. Ada biaya administrasi dll, juga biaya untuk setiap kamera yang dibawa. Lupa saya tepatnya berapa tapi kalau tidak salah kami berlima hanya ditagih 35 ribu, karena dapat diskon.
Barak pendakian (pondok pendaki, entah apa namanya) kosong melompong jadi kami gelar dan golerkan barang-barang di dipan yang tersedia. Di Ranu Pani ada dua warung tapi yang satu tutup, dan satu lapak bakso malang. Ada juga masjid dan kamar mandi yang cukup bersih. Makan siang dengan Rawon lagi, karena hanya itu yang sudah siap.
Lapak di Pondok Ranu Pani
Sore itu muncul dua orang pria bule yang cukup mencolok, karena ada kejadian lucu waktusalah satu sempat kejatuhan matras dari ranselnya, entah karena salah cantel.
Menjelang magrib semua warung sudah tutup maka kami memutuskan memasak. Menu malam adalah nasi putih dan tumis tempe kecap teri.
Malam tidur di barak, suhu cukup terasa dingin walaupun sudah berbalut sleeping bag. Kostum penghangat tidur memang baru setengah set yang saya pakai. Versi lengkap akan dikeluarkan di Ranu Kumbolo yang dicurigai bakalan lebih dingin
H2 Minggu, 23 September 2012.
Pagi kami bangun sekitar jam 5 dan di luar sudah terang. Menu pagi nasi liwet dan goreng asin. Setelah packing kami sempatkan menambah bekal gula dan minyak goreng karena khawatrir bawaan kami kurang setelah dua kali masak yang ternyata cukup menghabiskan minyak.
Rencana berangkat jam 7 pagi jadi molor karena pergerakan yang santai. Sekitar jam 8 baru benar-benar siap berangkat.
Pose di Depan pondok pendaki Ranu Pani
Selamat Datang
Perjalanan awal terasa cukup berat karena panas dan belum terbiasa dengan beban. Sebagaimana yang tercantum pada plang-plang informasi, Ranu Kumbolo dan Ranu Pani hanya berbeda elevasi 200 m, tapi siap-siap saja untuk perjalanan yang cukup jauh dan banyak naik-turun karena melalui jalur yang mengelilingi gunung-gunung kecil. Baru awal perjalanan kami sudah disalip oleh si dua bule dan dua porternya. Jam 08.53 sampai di plang Landengan Dowo, perjalanan dilanjutkan, melewati sebuah shelter yang katanya adalah pos I. Menurut info dari orang yang kami temui di pos II, antara Ranu pani dan Ranu Kumbolo sekarang telah dibangun empat pos, berupa shelter dengan tembok rendah beratap seng.
Pos 2, istirahat ngemil coklat sekitar jam 11
Kami tidak menjadwalkan setiap jalan berapa menit istirahat berapa menit. Secapeknya saja, rata-rata mungkin setiap setengah jam, istirahat sekitar 5 menit atau lebih. Kadang bisa lebih sering istirahatnya. Maklum, bukan atlit. Selama perjalanan, kami salip-salipan dengan sebagian tim dari satu rombongan yang terdiri dari 40 orang, kabarnya mereka dari Jakarta dan sebagian dari mereka cukup rajin juga beristirahat.
Jam 11.45 sampai di plang Watu Rejeng.
Sekitar jam 13.00 kami istirahat makan siang di pos III yang bangunannya runtuh sehingga harus mencari lapak di dekatnya. Cukup sulit karena posisi pos di lereng menjelang jalur tanjakan yang cukup ektsrim. Lapak yang ada sangat sempit sementara rombongan yang 40 orang sebagian juga beristirahat di sana. Tapi kami tetap bisa mengatur untuk masak. Menu makan siang: mi telor diaduk telor dan kornet. Menu ini dipilih karena lebih cepat daripada masak nasi.
Sepanjang jalan banyak burung yang cantik, terbang bebas dari ranting ke ranting. Kalau sedang berada di jalur yang cukup sepi, burung penunjuk jalan muncul dan berjalan di depan kami, dengan jarak yang cukup dekat. Tapi Saya selalu telat mengeluarkan kamera. Kami juga berpapasan dengan cukup banyak rombongan yang ke arah Ranu Pani. Diantaranya banyak juga orang asing, bahkan ada yang membawa anjing.
Setelah Pos 4
Jam 16.00 kami sudah sampai di Ranu Kumbolo. si dua bule yang terlihat di Ranu pani sedang bersantai memandangi danau sambil minum coca cola, tenda mereka sudah terpasang. Sebagian rombongan yang 40 orang juga sudah memasang beberapa tenda.
Dwi mendengar si dua bule mengobrol berbahasa Jerman. Setelah didorong2 atau tepatnya dipaksa, Dwi menyapa mereka dengan bahasa jerman. Tak lama setelah itu salah satu menghampiri Ui, berbicara yang diterjemahkan menjadi: "Kenapa banyak orang lokal buang sampah di sini? padahal danau seindah ini?"
Euhh... malu deh. Kenapa coba? Sejak adanya pertanyaan ini, saya jadi berpikir banyak. yang akan dilanjutkan di blog post selanjutnya. Mungkin....
Makan malam kami memasak nasi dan goreng ikan asin serta sayur sawi lagi tapi dibuat agak berkuah dan sedikit pedas agar terasa hangat walaupun agak mengancam kondisi perut.
H3 Senin, 24 September 2012.
Bangun sekitar jam 5 pagi, matahari sudah cukup terang. Kami memasak dan sarapan bubur kacang hijau, dilanjut nasi goreng cikur dengan lauk dendeng manis goreng.
Dwi menawarkan kopi dan bubur kacang ke dua bule tadi dan kami pun berkenalan, mereka bernama Tobi dan Ludwig. Tobi adalah konsultan IT dan Ludwig adalah Konsultan Pajak (atau ketuker ya?). Sempat juga mereka ditawarkan nasgornya. Tapi sepertinya tidak tahan pedas dan bumbunya.
Masak nasgorcikur, Tobi ikut nongkrong. Ludwig belum gabung
Pukul 9 kami Berangkat dari Ranu Kumbolo. Tobi dan Ludwig sudah mendahului, rombongan yang 40 orang mulai berangkat juga di belakang kami, tapi selanjutnya kembali susul-susulan dengan sebagian dari mereka. Jam 9.45 istirahat di Cemoro Kandang.
Oro-Oro Ombo
Lewat Cemoro Kandang
Sebelum makan siang
Jam 12.10 kami makan siang di sekitar Jambangan. Menunya spaghetti bersayur bertomat. Jam 14.30 masuk area Kalimati, Tobi dan Ludwig sudah pasang tenda di situ dan ada juga beberapa tenda lain termasuk rombongan 40 orang. Rute sampai Kali Mati relatif landai tapi naik turun jadi cukup melelahkan juga. Tidak banyak progres secara elevasi antara Ranu Kumbolo ke Kali Mati. Hanya naik sekitar 300 m.
Kami lanjut ke arah Arcopodo. Sempat istirahat agak lama di kaki tanjakan. Mulai dari sini baru tanjakan semakin ekstrim, dan jalannya berlapis abu. Jam 16.10 sampai arcopodo, ketinggian 2999 mdpl.
Sepertinya hanya kami yang akan bermalam di arcopodo. Maka dilaksanakanlah rutinitas biasa untuk ngecamp, plus persiapan camilan malam dan bekal untuk summit attack. Jam 8 malam kami mulai tidur.
H4 Selasa, 25 September 2012.
Jam 00.00 weker berbunyi. Setelah saling membangunkan, jam 00.15 kami mulai bersiap. Makan roti, minum yang hangat packing perbekalan air, snack, dan buah2an baik yang segar maupun kalengan dan kotakan. Sudah terdengar rombongan-rombongan lain yang naik dari Kalimati. Jam 01..00 lewat sedikit, kami mulai berjalan ke atas.
Lanjutan ceritanya di sini
Monday, July 30, 2012
Catatan singkat film-5
Flowers of War:
Sutradara: Zhang Yimou
Berlatar belakang tragedi sejarah pembantaian di Nanjing oleh pasukan jepang, film ini bercerita tentang interaksi antara sekelompok gadis remaja siswa sekolah katolik dan sekelompok wanita pekerja rumah bordil (ya, pelacur) dalam bertahan hidup. Sebagai film Flowers of War cukup menarik dan memikat, sinematografi suasana perang terasa sangat mencekam, akting para siswa dan para wanita bordil cukup kuat dan chemistry antara mereka sangat dinamis. Sayangnya, di film ini ada tokoh menyebalkan, walaupun eksistensinya adalah sebagai pahlawan penyelamat di film ini: seorang pengusaha pemakaman yang diperankan oleh Christian Bale, bukan sekedar menyebalkan sabagai tokoh tapi juga menyebalkan secara akting. Mungkin Zhang Yimou tidak bisa menangani aktor Hollywood atau memang menyesuaikan karakter Christian Bale agar konsisten dengan kehollywoodan
Red Shorgum.
Sutradara: Zhang Yimou
Debut Zhang Yimou sebagai sutradara, dengan tipe cerita yang menjadi ciri khas film-film selanjutnya yang menampilkan kepolosan dan kesederhanaan masyarakat di pelosok negeri Cina dengan latar belakang budaya, sejarah dan politik. Red Shorgum bersetting di daerah padang pasir menampilkan cara hidup masyarakat usaha pembuatan anggur . Film ini dituturkan dengan narasi seorang cucu tentang kisah kakek dan neneknya. Gong Li berperan sebagai “My Grandma” yang didatangkan dari desa lain untuk menikah dengan pengusaha minuman anggur yang berpenyakit lepra. Suaminya meninggal tidak lama setelah itu sementara dia jatuh cinta pada salah satu pegawainya.
Night and Fog
Sutradara: Ann Hui
Film yang menarik dan gamblang tentang KDRT, diceritakan dalam rangkaian kilas balik, menampilkan kehidupan satu keluarga miskin di suatu wilayah di Hongkong, bagaimana kehidupan mereka berujung tragedi. Film ini berangkat dari beberapa kejadian nyata yang terjadi di wilayah tersebut, yang seolah merupakan fenomena psikologi masyarakatnya. Walaupun kita sudah tahu apa yang terjadi di akhir kisah yang merupakan awal film, menjalani tahap demi tahap prosesnya tetap mengandung berbagai kejutan dan tidak membosankan.. didukung pula dengan akting para pemeran utama maupun pendukung yang menguatkan karakter masing-masing. Bagimana pemerintah di sana membantu para korban cukup memberi harapan, walau mungkin tidak menyelesaikan masalah.
Election 1& 2
Sutradara: Johnnie To
Kedua film ini berkisah mengenai suatu proses pemilihan ketua di satu kelompok mafia hongkong dalam dua periode, berturut-turut di masing2 film. Walaupun protokol suksesi sudah jelas dan disepakati, tetap saja perebutan kekuasaan dan adu antar kubu terjadi. Film penuh kekerasan yang akan membuat kita merasa getir, tapi juga penuh dialog yang tidak bisa langsung kita pahami, membuat tidak semua orang bisa langsung merasa terhubung dengan film ini. Tapi bagaimana penyutradaraan dan cerita yang bisa menarik kita sampai memahami apa yang sebenarnya terjadi sehingga bisa mengenal dan mendalami para karakternya merupakan salah satu kehebatan film ini. Tidak perlu memaklumi kejahatan mereka, tapi mungkin kita bisa memahami suatu sisi lain mengenai manusia. Election 1 & 2 merupakan dwilogi yang penting dan saling melengkapi .
Isabella
Sutradara: Pang Ho Cheung
Shing, seorang polisi yang payah, pemabuk dan hobi main perempuan, pulang dari klub malam bersama seorang wanita. Setelah beberapa pertemuan yang membingungkan di beberapa tempat lain, wanita muda bernama Yan tersebut mengaku kalau dia adalah anak perempuan yang tidak pernah dibesarkan Shing (hmmm....). Cerita selanjutnya berkembang bagaimana dua orang ini membina kehidupan sebagai keluarga sementara karir Shing terancam seiring dengan proses dikembalikannya Macau ke RRC. Bagaimana suatu hubungan emosional terbina tanpa ekspos yang berlebihan diselingi humor-humor kecil dan beberpa kejutan merupakan daya tarik alur cerita. Bukan sekedar hubungan antara manusia saja yang ditampilkan di sini, tapi hubungan emosional Yan dengan seekor anjing yang bernama Isabella.
Love in a Puff
Sutradara: Pang Ho Cheung
Nuansa yang mirip dengan Isabella mewarnai Love In a Puff, tentang berkembangnya hubungan emosional antara dua orang melalui kejadian biasa-biasa dengan semangat humor. Suatu kemampuan tersendiri bagi pembuat film dalam memvisualisasikan humor-humor tersebut dengan begitu ringan tapi menggemaskan, pada hal-hal yang sepertinya sangat mungkin terjadi pada orang-orang biasa, setidaknya di Hongkong.
Dengan digalakkannya peraturan dilarang merokok di lokasi umum, sekelompok karyawan dari berbagai bidang menemukan tempat untuk merokok dan terbentuklah suatu komunitas, pada jam-jam tertentu mereka berkumpul , mengisi waktu berbagi cerita horor maupun gosip. Cherie dan Jimmy merupakan pasangan yang terbentuk dari pergaulan trersebut. Tidak banyak kejadian maupun konflik yang penting dan spektakuler. Hubungan mereka mengalir dengan ringan, tidak tampak mendalam, tapi ada dan wajar terjadi. Walaupun penuih dengan adegan merokok yang perlu disensor, film ini juga mengangkat bagaimana mereka sebetulnya juga ingin berhenti merokok.
Life Without Principle
Sutradara: Johnnie To
Prinsip apa yang masih bisa kita pegang ketika hidup berpatokan pada uang? mengejar angka-angka demi kebendaan dan gaya hidup, sampai terikat pada hutang seumur-umur?. Film ini menampilkan gaya hidup masyarakat Hongkong yang terobsesi dengan uang, dan bagaimana bank menguasai kehidupan demi keuntungan sebesar2nya. Seperti apa kehidupan seorang pensiunan, seorang polisi dan istrinya, sekelompok mafia dan seorang pegawai bank dalam bertahan di krisis moneter ketika segala sesuatu sampai nyawa pun begitu bergantung pada permainan angka-angka? Ya, sebutir permen tidak membantu apapun.
Subscribe to:
Posts (Atom)










