Tuesday, February 12, 2013

Bulan Film Gael García

Melaksanakan “bulan film Gael García ”   tidak kalah menariknya dibanding dengan
“Bulan Film Takeshi Kaneshiro”.  Ketika ketertarikan pada seorang aktor menimbulkan obsesi untuk mencari film-film yang dibintanginya dan menghasilkan suatu sesi hiburan yang menyenangkan, rasanya waktu yang dihabiskan tidaklah sia-sia. Semoga para aktor dan pembuat filmnya mendapatkan rejeki yang cukup walaupun saya mendapat film2 mereka dari produk b*jakan.

Bisa dikatakan saya tertarik melakukan “Bulan Film Gael García”  awalnya karena beberapa bulan yang lalu melihat poster film A little Bit of Heaven. Karakter wajahnya berdampingan dengan Kate Hudson memberikan nuansa yang berbeda untuk suatu film Rom Com Hollywood. Tapi kata Rani filmnya jelek dan setelah melihat trailer serta membaca beberapa review yang terlalu negatif memang menunjukkan betapa tidak pentingnya film tsb.  Terlintas rasa simpati. Gael García Bernal (GGB) termasuk aktor langganan filmmaker Meksiko dan Spanyol kelas atas, tapi di Hollywood koq dipasang di film tidak jelas begitu. Beberapa waktu kemudian, di akhir tahun kemarin, saya tanpa sengaja menemukan link ke artikel yang mengulas singkat film "The Loneliest Planet" yang tampak unik dan menarik. Dimulai dari film tersebut, saya terhubung ke berbagai judul lain. Dan sejauh ini sudah menambah 6 judul baru dari sebelumnya baru 3 judul film yang sudah ditonton beberapa tahun lalu (tidak termasuk The Bourne Ultimatum,  walaupun sudah menonton, saya sangat tidak ingat apa perannya di sana). Jumlah ini memang belum signifikan dibanding sekitar 29 judul film panjang non TV, tapi sejauh ini Kinemala sudah bisa membuat beberapa analisa karena di film2 tersebut GGB berperan sebagai peran utama.

Hasil yang saya simpulkan sejauh ini, Agak berbeda dengan hasil dari "Bulan Film Takeshi Kaneshiro". Acara menonton film-film GGB ternyata mengarah ke film-filmnya, bukan mengenai si aktor Gael García Bernal atau karakter-karakter yg dia perankan. Maksudnya, GGB banyak berperan di film-film bagus, namun film-film tersebut  tidak menampilkan dia sebagai tokoh yang spektakuler/ menonjol walaupun sebagai pemeran utama. Tidak membuat penonton  (setidaknya saya) tergila-gila dan merasa gemeesss deeeh terhadap karakternya seperti terhadap Takeshi Kaneshiro. Hal ini bukan didasari subjektifitas akan kegantengan, karena saya menganggap GGB  juga memiliki wajah yang ganteng dan sangat khas dan enak dipandang, apalagi kalau senyum (kalau tidak, gak bakal saya jadikan topik film KineMala), tapi berdasarkan tipe film dan tipe peran yang biasanya dia mainkan.

GGB lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga berlatar belakang teater. Dari kecil/ ABG dia sudah berperan di telenovela, dan berlanjut ke film-film layar lebar. Kuliahnya pun di jurusan drama. Maka karir GGB memang berawal dari seni peran, sebagai aktor, bukan sebagai idola. GGB adalah aktor yang cukup produktif, tercatat sejak tahun 2000, setiap tahun dia muncul di lebih dari satu film.

Sejauh ini ada benang merah dari karakter-karakter GGB khususnya di film-film Meksiko/ film berbahasa Spanyol yang sudah saya tonton. Trademarknya GGB adalah sebagai karakter pemuda berandal, bukan karakter untuk diteladani apalagi diidolakan, bahkan belum tentu pantas mendapat simpati. Mayoritas peran GGB adalah  jadi pemuda labil, baik pemuda labil trouble maker atau pemuda labil kekanakan atau pemuda labil kampungan, atau sekedar pemuda yang nasibnya kurang beruntung.  Film-filmnya yang termasuk produksi Amerika Latin banyak menampilkan tema realitas sosial dan kesenjangan ekonomi masarakat. Seperti yang sering kita lihat tergambar di telenovela lah, tapi dari sisi yang lebih nyata, tanpa fairy tale.

Sayangnya, karakter yang diperankan GGB walaupun tidak pernah tampil buruk, tapi juga tidak pernah tampil outstanding. Kadang malah partner/ pemeran pendukungnya tampil lebih menonjol. Contohnya, di Amores Perros dan Babel, yang merupakan jenis film dengan beberapa alur cerita paralel, tokoh utamanya ada banyak, dan GGB hanya sebagai salah satunya.

Di film Rudo Y Cursi, Diego Luna lawan mainnya, tampil lebih berkarakter padahal dari peran2nya yang lain yang sudah saya tonton: Di Y Tu Mama Tambien,  saya bahkan tidak ingat wajahnya, artinya tidak ada yang spektakuler dari karakternya. di Dirty Dancing 2, Diego tampil sebagai cowok manis imut baik hati, aktingnya tampak cempreng dan garing. Ternyata sebagai Rudo dia sangat berbeda, karakternya kuat, komikal, terlihat dewasa dan matang, menyebalkan sekaligus juga menggugah simpati walaupun banyak melakukan ketololan. Sedangkan Gael sebagai Cursi, walaupun karakternya juga menarik dan komikal, tapi rasanya masih ada saja aura bawaan dari film-film lainnya.  Apa mungkin karena pengaruh model rambut GGB yang sepertinya tidak banyak berubah di berbagai filmnya; sebagai reman maupun pendeta, wajahnya begitu-begitu saja, sementara di sini Diego berkumis? Walau perlu analisa lebih jauh mengenai Diego Luna sebagai perbandingan, bisa dianggap mungkin di Dirty Dancing 2 memang perannya cuma begitu saja sesuai filmnya yang garing, sementara dia aktor berbakat, maka di film Rudo y Cursi, Diego  tampil dengan karakter lebih kuat daripada Gael.

Satu film lagi yang cukup signifikan dalam karir GGB adalah The Motorcycle Diaries, tapi sejauh ini saya belum berminat menontonnya, hanya pernah lihat sekilas tanpa menyimak. Tapi dari salah satu review yang pernah saya baca, disebutkan bahwa teman mainnya, Rodrigo de la Serna tampil lebih kuat karakternya. Mungkin belakangan akan saya buktikan.

Referensi sejauh ini berdasarkan pada hasil hunting yang masih tergantung aksesibilitas dan bandwidth internet. Bukan tidak mungkin akan ada nuansa lain yang merevisi opini di tulisan ini kalau judul film yang ditonton bertambah. Yang pasti, kegiatan Bulan Film Gael García kali ini adalah refreshing dari mainstreamnya KineMala.

Berikut beberapa judul yang saya tonton. Untuk nomer 1, 2 dan 6, terakhir kali menontonnya sudah bertahun-tahun yang lalu, jadi sebagian agak lupa maka sinopsisnya di sini rada nyontek. Sementara yang 6 lagi saya tonton sejak akhir Des sampai akhir Januari kemarin.


1. Amores Peros (by Alejandro González Iñárritu, 2000)
Film ini memiliki tiga plot cerita paralel, dengan tokoh-tokoh utama dari masing-masing cerita yang tidak saling mengenal tapi jalan hidupnya beririsan dalam suatu kecelakaan tabrakan mobil. Sebagaimana judulnya yang bisa diartikan sebagai "Cinta itu Anjing", cinta dan anjing merupakan tema film ini, dan bagaimana manusia-manusia menjalani hidup bersama cinta dan anjing-anjing mereka. Suatu judul dan tema yang sangat unik dan buat saya cukup membuka wawasan tentang kehidupan. GGB berperan menjadi anak muda dari keluarga miskin di (Mexico City?) yang ngecengin istri abangnya. Dia mengikutkan anjing abangnya dalam kompetisi adu anjing untuk mendapatkan uang dan berharap akan minggat dengan istri abangnya itu. Di film ini karakter yang diperankan GGB seolah menjadi trademarknya. Pemuda berandal dari keluarga miskin, mungkun perlu mendapat simpati, tapi kelakuannya payah juga. Seperti yang disebutkan di atas, banyaknya tokoh utama lain tidak membuat perannya GGB menonjol. Yang lebih kuat kemunculannya menyisakan jejak mendalam di otak dan hati adalah tokoh El Chivo.


2. Y Tu Mama Tambien (by Alfonso Cuarón, 2001)
Gael Garcia dan Diego Luna berperan menjadi dua sahabat pemuda labil yang sedang labil karena ditinggal pacar-pacar mereka, melakukan road trip dengan seorang wanita yang usianya lebih tua dari mereka dan baru mereka kenal, dan sedang labil juga karena suaminya selingkuh. Gael dan Diego tampak natural dalam perannya karena sesuai dengan persahabat mereka di luar film dan tampangnya juga cocok jadi pemuda2 bandel. Di antara film2nya GGB, film ini mungkin yang paling banyak perlu disensor, baik dialog maupun adegannya banyak yang vulgar. Tapi dari segi script yang masuk nominasi OSCAR, film ini berhasil dengan baik menampilkan gaya hidup dan situasi politik dan sosial Meksiko saat itu, dengan berbagai kejadian yang divisualisaikan maupun dinarasikan, dan mengalir seiring petualangan tokoh-tokohnya.


3. El Crimen del Padre Amaro. (by Carlos Carrera, 2002)
Film yang kontroversial di negara asalnya, Meksiko, karena menceritakan skandal-skandal pendeta katolik di suatu kota kecil miskin. Aslinya diangkat dari novel tahun 1875 karya penulis asal portugal. GGB berperan sebagai Padre Amaro, pendeta muda dengan prospek karir dan pendidikan yang cerah setelah harus mengabdi di suatu kota terpencil. Sayangnya Padre Amaro terjebak dalam dosa karena  jadi selingkuhan pemudi labil aktifis gereja. Permasalahan yang muncul bukan hanya mengenai Padre Amaro, tapi juga pendeta2 lain di kota itu, dengan gambaran kondisi sosial dan ekonomi kota pinggiran Meksiko.

GGB sebagai tokoh yang menjadi judul film tsb sayangnya tidak tampil kuat. Karakternya tidak jelas berdiri di mana, kalaupun maksudnya misterius, tidak cocok juga rasanya. Apakah dia itu sebetulnya ada di antara baik dan nyebelin, apakah dia itu awalnya polos, atau ternyata sudah biasa ngalaba, apakah dia bimbang, tidak terlihat bedanya di ekspresi GGB. Karakter yang menarik di film memang yang “abu-abu” atau misterius, tokoh baik yang menyebalkan, atau tokoh jahat yang menimpulkan simpati. Padre Amaro ini sebetulnya jelas posisinya di mana, jelas2 dia pendeta, jelas-jelas dia bersalah. Tapi ekspresi GGB kebanyakan tampak blank, belum bisa memperlihatkan kedalaman karakternya dibalik yang sudah terpaparkan, atau membuat Padre Amaro menjadi lebih menarik, walaupun tidak perlu juga diberi simpati.


4. Dot The I (2003)
Film ini kalau di Rotten Tomatoes peringkat terjelek kedua setelah A little bit of heaven. Untuk perbandingan, perlu juga melihat film yang dikritik jelek. Di imdb ratingnya 6.7 dan ada juga yang mereview positif. Saya agak penasaran dengan yang disebut2 sebagai plot twist.

Mungkin maksudnya film ini bercerita tentang permainan perasaan manusia yang terlihat dalam perselingkuhan dan permainan kehidupan, atau sekedar film misteri tapi nanggung, dengan plot twistnya antara bisa ditebak dan tidak, sok-sok misterius.
Tokoh2nya gak ada yang perlu mendapat simpati, apalagi si tokoh ceweknya. GGB tampil biasa. Senyumnya sih tetap manis. Tapi ya semua itu gak penting.


5. La Mala Educacion (by Pedro Almodovar, 2004)
Gael jadi banciiiiiii!!!! nuff said.............gak ding,
Film ini sangat berani menceritakan keburukan pendidikan di sekolah katolik dengan pendeta yang brengsek dan akibatnya sampai siswanya dewasa. Plot film ini cukup unik . Walaupun agak bikin frustasi, film ini mengalir dengan mudah diikuti. Twist cerita terungkap secara bertahap dengan teknik penceritaan plot maju-mundur dan film di dalam film.
GGB berakting cukup ekstrim di sini. Karakternya berubah-ubah. Tapi yang lebih menarik justru karakter Enrique yang diperankan Fele Martinez. Memang GGB mengeluarkan segala aksi di sini, dan bisa dikatakan ini filmnya yang paling mengeksplor kemampuan aktingnya. Tapi justru Fele yang banyak diam dan berbicara dengan matanya penampilannya lebih kuat.

Hanya direkomendasikan untuk yang siap dengan film "ekstrim" dan kuat mental. *(lebih parah daripada Brokeback Mountain)


6. Babel (by Alejandro González Iñárritu, 2006)
Karakter filmnya mirip dengan Amores Perros, dengan kisah kehidupan berbagai tokohnya yang  tidak saling mengenal tapi saling bersinggungan. Seolah perkembangan dari Amores Perros, Babel skalanya lebih mendunia. Efek dari satu kejadian  mempengaruhi kehidupan berbagai tokohnya di berbagai belahan dunia.
GGB berperan sebagai Santiago, pemuda Meksiko yang mengantar bibinya, seorang baby sitter di amerika yang memaksakan diri mendatangi pernikahan anaknya walaupun orang tua anak yang diasuhnya terhalang untuk pulang akibat tertembak di dalam bis pada perjalanan di Maroko.
Kehebohan yang terjadi selanjutnya didasari keparnoan dan kerasisan orang Amrik akan serangan teroris dan ancaman kriminalitas yang diiringi tindakan lebay setelah itu. Saya lupa bagaimana penokohan yang diperankan GGB di sini. Kalau tidak salah, cukup mengasihankan..? Tapi ternyata rada payah juga karena pemabuk. (serius ternyata saya bener2 lupa.. cuman inget dia ada. Perlu tonton ulang)


7. The Science of Sleep (by Michael Gondry, 2006)
GGB berperan sebagai pemuda yang kekanakan, ngecengin seorang wanita tetangga apartemennya, dan sedang tidak puas dengan pekerjaan barunya. Hidupnya bercampur baur bersaling silang antara mimpi dan kenyataan, sebagaimana penonton yang terbingung-bingung mana adegan yang mimpi mana yang kenyataan. Dan saya pun tertidur… Sebetulnya film ini lucu, dan komikal. Banyak variasi gambar dan animasi yang dinamis. Tapi, mengikutinya jadi membuat ngantuk. Saya menikmati per bagian-bagiannya tapi juga tidak terlalu perduli mau dibawa ke mana dan nantinya bagimana, Seperti: “ya su lah mimpi terus saja kamu…zzzzz....” dan sepertinya film ini juga tidak memaksakan suatu konklusi yang nyata. Enjoy saja keabsurdannya, dan GGB masih seperti biasa, plus rada kekanakan, cukup menggemaskan sih.


8. Rudo Y Cursi (by Carlos Cuarón, 2008)
Salah satu genre hollywood yang paling membosankan adalah film olahraga.
Tapi, di tangan geng filmmaker Meksiko, tema ini  bisa menjadi sangat menarik dan unik sekaligus juga menyentuh. Selain tentang sepak bola, Rudo Y Cursi mengangkat tema keluarga khususnya yang terwujud dalam hubungan antara kakak adik Beto “Rudo” dan Tatto “Cursi”.

Seperti yang sudah disebut di atas, GGB bermain lagi bersama sahabatnya Diego Luna, sebagai adik kakak. Walau wajah mereka sangat sama sekali sungguhlah tidak ada mirip-miripnya acan, namun di film ini menjadi logis karena mereka lain ayah. Bahkan, di film ini, adik-adiknya yang lain juga lahir dari ayah-ayah yang berbeda. Mereka sekeluarga tinggal bersama ibunya yang mereka sanjung dan sayangi. Beto yang sudah berkeluarga sepertinya sudah berumah sendiri tapi masih berdekatan. Rumah mereka tergolong rumah gubuk, maka salah satu cita-cita mereka adalah mendirikan rumah untuk Ibu mereka. Anak-anak yang manis ya.

Tatto dan Beto bekerja sebagai buruh perkebunan pisang di daerah terpencil Meksiko, sampai seorang pencari bakat menemukan mereka dan mengajak bergabung dengan klub sepak bola di ibu kota.
Selanjutnya perjalanan karir dan kehidupan keluarga, hubungan persaudaraan mereka disajikan dengan kocak, tapi juga natural dan wajar dengan segala dinamikanya.

Bisa dikatakan ini filmnya GGB yang paling menyenangkan buat saya, karena nuansanya jauh berbeda dari film-film lainnya yang cenderung suram. Karakternya sebagai pemuda norak tapi polos, bisa lebih melekat dibanding yang serius-serius, tapi yang paling menyenangkan adalah chemistry antara Rudo dan Cursi sebagai saudara sekaligus juga saingan. Film Rudo Y Cursi, walaupun tanpa hollywood ending, juga tanpa menyuapi idealisme, meninggalkan jejak ceria walaupun sebetulnya tragis juga. "Pesan moral" yang terkandung cukup bisa dinikmati tak perlu diverbalisasi.


9. Even The Rain / Tambien la Iluvia (by Icíar Bollaín, 2010)
Menggambarkan penindasan oleh pendatang kulit putih terhadap penduduk Indian di amerika latin dengan plot film di dalam film.  Penonton disuguhi suasana sejak jaman Colombus baru tiba  dan penindasan di jaman modern lewat privatisasi air. GGB berperan sebagai sutradara yang sedang membuat film tentang kedatangan Colombus di benua Amerika. Bersama krunya mereka melakukan syuting di kota terpencil di Bolivia, dan mengcasting banyak warga asli indian setempat sebagai figuran. Sayangnya mereka berada di saat yang salah sehingga terjebak dalam demonstrasi menentang berdirinya perusahaan air swasta di daerah tersebut.

Akting GGB seperti biasa, lagi-lagi karakternya tergeser oleh karakter lainnya, salah satunya adalah tokoh Daniel, warga indian yang pemerannya baru main film pertama kali. Karakter Daniel justru menarik karena aktingnya jadi sangat natural, bisa menyentuh dan menumbuhkan simpati, sementara tokoh penentu di klimax film adalah karakter Costa, produser film yang disutradarai tokoh GGB di film ini.


10. The Loneliest Planet (by Julia Loktev, 2011)
Bukan film untuk banyak orang. Alurnya sangat lambat, super lambat. Tentang sepasang kekasih  yang bertualang ke daerah pegunungan Kaukasus di wilayah negara Georgia dengan seroang pemandu warga lokal kampung sekitar.
Dialognya sedikit, dan settingnya menampilkan banyak pemandangan alam yang indah, tapi terlalu banyak frame yang statis. Mungkin dengan resolusi yang lebih bagus latar belakang keindahan alam terlihat lebih menyegarkan, tapi tetap saja ketika semuanya berjalan terlalu lambat ya bosen juga. Tambah lagi tidak ada subtitle (sudah digugel). Tapi subtitle sepertinya tidak terlalu perlu juga dengan dialog yg sangat sedikit itu: sebagian berbahasa inggris sebagian berbahasa Georgia. Yang bahasa Georgia kita tidak perlu mengerti karena si pasangan dalam film juga tidak mengerti. Dialog yg bahasa inggris, harus kita usahakan saja mendengarkan dan mengerti. Sepertinya ada juga bahasa Spanyol sedikit karena mungkin Karakter GGB berasal dari negeri berbahasa spanyol, si ceweknya berbahasa Inggris (memang bener-bener kurang jelas nih). Tapi sementara ini dengan dialog yang hanya sedikit yang bisa tertangkap itu, saya bisa menikmati film ini dari ekspresi2 para aktornya.

Saya mungkin tidak akan berjuang menontonnya sampai selesai kalau belum mendapat highlight bahwa “you blink, you’ll miss it”. Si pasangan yang awalnya happy-happy ini setelah sepersekian film moodnya berubah drastis. Hubungan mereka terguncang dan patut dipertanyakan. Apa yang terjadi sebaiknya jangan diintip di wikipedia maupun di komen2 yutub, dan hati-hati dengan artikel spoiler (kalau berminat menonton film ini). Tanpa banyak dialog, penonton dibawa ikut memikirikan apa yg dipikirkan mereka. Kenapa bisa begitu? Segitunya? Lalu gimana selanjutnya?

Ekspresi GGB dan pemeran wanitanya sangat menarik. Bagaimana mereka berubah, apa yang kira2 dipikirkan, tergambar di semua gerak tubuh dan tarikan wajah. Mungkin bisa dikatakan ini adalah eksplorais akting GGB yang terbaik karena minimnya dialog tsb.

Film The Loneliest Planet adalah salah satu film yang meninggalkan jejak mendalam, walau untuk menyelesaikannya, saya pause berkali2 sambil facebookan dan berkegiatan lain karena bosan. Yang penting, jangan sampai terlewatkan satu adeganpun. Dan hasilnya, menonton film ini mengobati kebetean habis nonton 5 cm, seriusss!!!



Beberapa poin dari kesimpulan:

  • Sejauh ini dari yang saya tonton, penampilan GGB yang paling saya suka adalah di The Loneliest Planet dan   Rudo y Cursi.
  • Film yang paling saya suka: Amores Perros, The Loneliest Planet, Rudo y Cursi, Tambien la Iluvia
  • Film yang direkomendasikan buat mayarakat :  Amores Perros, Babel, Tambien La Iluvia, Rudo Y Cursi
  • Film yang saya ingin miliki versi produk originalnya: Amores Perros (setelah kecewa sama vcd release  Indonesia yang sensornya berlebihan menghilangkan esensi film), The Loneliest Planet, Rudo Y Cursi. Semoga ada rezeki dan jodohnya















Monday, January 07, 2013

Tipe-tipe yang bisa membuat kamu merasa spesial, tapi....

Sekilas info buat para wanita (atau bisa berlaku untuk para pria juga). Mungkin ini adalah pengalaman yang pernah anda alami, sedang, atau belum. 



Ada tiga tipe pria yang berbahaya karena bisa membuat anda merasa sangat spesial ketika bisa "menaklukkan" tipe-tipe ini;

1. Playboy.
Karena ketika dia begitu banyak ngelabai cewek2 lain, selalu dikelilingi cewek2 tapi dia memilih anda, tentu anda merasa sangat sepesial bisa mengalahkan banyak saingan.

2. Cool/ pemalu
Sebaliknya dari tipe 1, tipe 2 ini adalah yang tidak gampang dekat dengan cewek. Apakah dia sebetulnya memang "cool" pembawaannya, memang menjaga jarak dalam bergaul, ataupun hanya tipe pemalu yang tidak gampang bergaul, intinya ketika anda bisa dekat dengan dia dan cewek2 lain tidak, tentu anda merasa spesial

3. Pemikir rumit sok unik
Tipe ini suka banyak berpikir dan membahas hal-hal yang berat atau terkesan berat seperti tentang filosofi, teologi, bahasan dari buku-buku yang susah-susah, film-film memusingkan, suka membuat pemikiran2nya sendiri tentang kehidupan. Tentunya anda merasa spesial ketika bisa memahaminya, merasa "selevel" ketika bisa menanggapi pemikiran2 "berat"nya.


Nah sodara2, bila memang selanjutnya terbukti anda lah yang spesial buat orang-orang itu, selamat! Tapi bila tidak, siapkan saja mental anda ketika:

Untuk tipe 1: Ternyata anda bukan yang spesial, melainkan hanya salah satu diantara "labaan"nya, dan anda tidak sadar itu. Ato mungkin anda memang disepesialkan dibanding banyak yang lain, tapi bersamaan dengan itu, ada juga yang lain2 yang dia sepesialkan.

Untuk tipe 2: Walaupun anda berhasil dekat dengannya dan tidak ada cewek lain yg dekat dgn dia, tetap saja bukan anda yang dia suka, mungkin dia punya kecengan lain.

Untuk tipe 3: Disaat anda merasa yang terbaik karena bisa memahaminya, sebenarnya banyak yang lain yang merasa telah berhasil memahami orang itu juga.

Dari ketiga tipe itu, yang paling harus diwaspadai adalah kombinasinya yaitu orang yang tampak cool dan pendiam, ternyata suka berpikir rumit2, dan ternyata adalah seorang playboy


Setema dengan postingan ini:
Kisah cinta a la Serial Cantik 
Tipuan Kisah Cinta a la Serial Cantik
Dor!
Apa yah?
Adu-Aduu
XCUSE

Tuesday, January 01, 2013

5 cm dalam sehelai mi instan berMSG




(Semi Spoiler Alerts!)



Mungkin tidak salah kalau ada yang percaya bahwa pembodohan warga Indonesia itu memang disengaja dan dilakukan dengan sistematis. Bagi saya, film 5 cm adalah salah satu buktinya. Maaf kalau terbaca lebay, tapi percayalah, opini ini muncul karena film tersebut yang sangat super duper lebay.
Saya tidak baca bukunya jadi sama sekali tidak akan ada perbandingan antara novel dan buku di tulisan ini.

Lebay,  tidak logis dan penuh pembodohan memang bukan berarti tidak menghibur. Film yang diangkat dari novel yang katanya best seller (?) ini jelas sekali dibuat dengan suatu idealisme film sebagai objek komersialisasi dan konsumerisme. Pemerannya cakep-cakep, bajunya keren-keren, musiknya enak dan selipan humor2 kecil ditambah dengan pemandangan alam yang indah merupakan hiburan yang dicari dan dinikmati banyak orang (terutama) anak muda, terbukti dari penuhnya bioskop-bioskop, sampai beberapa bioskop memutarnya di dua studio per hari. Waktu releasenya yang menjelang musim liburan pun merupakan strategi marketing yang jitu.

Para pemeran dipilih dengan tepat  untuk memikat banyak penggemar. Akting mereka lumayan sinetron, dengan Herjunot Ali yang tampil lumayan sedikit rada menarik, dan Saykoji yang cocok dengan karakter komikalnya sebagai orang dengan fisik gendut yang selalu di sinetron Indonesia yang selalu dijadikan lelucon konyol. Fedi Nuril super garing, Denny Sumargono emang nampang doang, kekakuannya sih sedikit lucu. Kalau pemeran ceweknya kaku semua, tapi pastinya termaafkan karena cantik


Film 5 cm seharusnya bisa tenang-tenang saja dengan identitasnya sebagai film hiburan ringan kalau tidak berusaha terlalu menggurui dengan berbagai informasi yang menyesatkan. Jadi maaf saja kalau banyak celaan di tulisan ini.
Pertanyaan utamanya adalah, kenapa dengan modal yang (entah berapa) pastinya sangat sangat tidak kecil, waktu dan energi yang banyak dihabiskan, produser film ini tidak bisa menggunakan modalnya dan berpikir sedikit, sedikiiiiiiiiiiiit saja dan berusaha agar film ini jadi sedikit logis yang sebanding dengan sifat mengguruinya? Dengan gembar gembornya yang berhasil menarik penonton sekian banyak, kenapa tidak dimanfaatkan untuk wawasan yang rada bermutu?

Tema film ini adalah persahabatan yang disertai kisah cinta, dalam perjuangan meraih mimpi  untuk (duh!) sampai ke puncak Mahameru yang membangkitkan semangat nasionalisme. Semua itu sayang sekali tidak tertuang ke dalam film ini dalam suatu hubungan yang logis sebagai kesatuan cerita.

Tentang persahabatan:
Entah apakah suatu kutukan atau anugrah kalau bisa punya sahabat yang setiap wiken selalu nongkrong bareng selama...what... hampir 10 tahun? tanpa absen? Gak punya pacar selama itu masih mungkin lah tapi tidakkah mereka yang kuliah, kerja, pastinya punya teman2 lain dan keluarga yang sekali2 juga punya acara? Darimana persahabatan mereka dimulai? Sempat disebut umur salah satunya 24 tahun, berarti mereka mulai nongkrong bareng tiap wiken dari SMP/ SMA? apakah kegiatan mereka benar2 cuma nongkrong atau karena punya suatu kegiatan spesifik bersama? dalam ketidak jelasan itu lah dnarasikan bagaimana  5 orang ini: Genta, Jafran, Riani, Ian dan Arial menjalani kehidupan masa mudanya.

Semua itu malah semakin terasa janggal ketika salah satu dari mereka, tiba-tiba menyatakan merasa bosan, seperti dipaksakan dengan pernyataannya yang tidak terasa natural apalagi dilanjutkan dengan ide untuk tidak bertemu dan tidak saling kontak untuk jangka waktu tertentu.

Tentang karir: Dari latar belakang masing-masing tokoh yang dinarasikan oleh tokoh Jafran, dan juga yang digambarkan di film, tidak jelas apa pekerjaan masing2. Genta mungkin semacam EO yang kadang mroyek bareng Riani. Riani cewek kantoran entah apa. Ian jelas karena masih kuliah, Arial urusannya cuma fitness, apakah dia atlit? tidak jelas. Si Jafran sendiri yang kerjanya cuma berpuisi2 buat lagu dan album narisis. Hmmm okeh, anggaplah mereka memang baru 1-2 tahun lulus kuliah jadi masih belum jelas pekerjaannya. Beruntung sepertinya keluarga mereka mampu mensupport.

Tentang percintaan: Diantara mereka, ada yang tumbuh perasaan suka (antara cowok-cewek, alhamdulillah) yang tidak terungkapkan karena merasa terlalu nyaman berteman, bla bla ya standard lah, sudah banyak kita temukan di komik, serial cantik, sitcom, romcom. Ngecengin dan ngejar2 adik sahabat, cowok pemalu yang gak berani kenalan sama cewek, cewek yang galau2 gara2 merasa tidak boleh nembak cowok, yaaaa standard juga. Eksekusinya cukup mensinetron tapi dibanding banyak hal2 lainnya di film ini, topik ini justru masih bisa saya terima sebagai sekedar faktor komedi dan sedikit twist cerita.


Tentang Sponsor:
Sepertinya sudah jadi ini fenomena film2 layar lebar komersil Indonesia belakangan ini (yang pasti saya lihat di film2 produksi Punjabis dan Sorayas), produser nambah modal dengan memasukkan iklan sponsor dengan sangat mencolok. Hasilnya biasanya sangat  mengganggu karena tidak divisualisasikan dengan halus. Sebegitu harus eksisnya produk2 tersebut. Untuk film 5 cm:  Pertamax, oke lah sekalian menunjukkan tokoh2 di film ini adalah kalangan "mampu". Selanjutnya: Indomie. Produk mi instan berMSG bisa tampil dengan sangat terang-terangan di film ini sama sekali mengabaikan edukasi mengenai pola makan.  Di satu sisi mungkin membuat banyak orang merasa relate karena dengan teknik pemasaran Indomie (yang salah satunya dengan iklan di film ini) tempat-tempat anak muda nongkrong sambil makan Indomie masih saja eksis. Tapi tidakkah ini salah satu bukti pembodohan di film ini?

Tentang Pendakian:

Setelah memutuskan berpisah selama tiga bulan, Genta mengatur pertemuan mereka di stasiun kereta, tanpa memberi tahu mereka akan ke mana. Sampai di Malang, lanjut ke Tumpang lalu naik jip dan di tengah perjalanan dengan jip barulah dia menunjukkan tujuan mereka, Dan tiba-tiba, semua sepakat itulah mimpi mereka dan mereka bertekad agar bersama berdiri di puncak Mahameru yang baru ditunjukkan Genta. Selanjutnya, di setengah (?) bagian film, gunung Semeru tidak sekedar jadi latar cerita, tidak sekedar tempat indah untuk variasi tempat bermain sekelompok anak muda. Proses perjalanan mereka di Semeru itu menjadi inti cerita yang esensial karena berulang2 mereka, terutama Genta, membahas dan menyebut gunung ini berkaitan dengan tekad, tujuan, mimpi mencapai puncak .

Kalau tidak sanggup (atau tidak mau) menunjukkan bagaimana melakukan suatu hal dengan benar, maka tidak usah menggurui. Kalau tidak bisa menjelaskan bagaimana persiapan perjalanan mendaki gunung api tertinggi di pulau Jawa, tidak usah menyebut daftar perlengkapan yang tidak lengkap dan sangat jauh dari standard bawaan minimal. Kalau tidak tahu bagaimana seharusnya melakukan summit attack dari ketinggian 2900an sampai ketinggian 3676 mdpl, tidak usah menyebutkan prosedur yang salah. Terlalu berisiko membawa 5 orang yang belum pernah naik gunung, tidak telatih dan, tanpa persiapan fisik dan mental, tanpa koordinasi sebelum berangkat, dan tanpa guide dan porter.
Genta tiba2 muncul sebagai orang yang berpengalaman dan memimpin teman2nya. Padahal di awal film tidak ada petunjuk sama sekali bahwa dia orang yang hobi naik gunung. ya kalau tiap minggu nongkrong di warung indomi, kapan dia ke gunungnya? Kalaupun iya pernah, masak dia tidak pernah cerita ke teman2nya bahwa kalau ke kota Malang lalu ke Tumpang itu adalah langkah awal buat naik Semeru?
Dan sekali lagi, sejak kapan sih mencapai puncak Mahameru menjadi impian bersama mereka semua??

Persinetronan Indonesia memang tidak dikenal dari kemampuannya menampilkan suatu profesi ataupun hobi dengan baik. Mulai dari pembantu rumah tangga, polisi, sampai direktur, coba dibandingkan, berapa persen yang memang mendekati kondisi sesuai kenyataan? Bahkan permain sinetron yang kira2 baru masuk kuliah saja bisa berperan jadi dokter sepsialis, dengan rambut gondring sasak dan muka super baby face, asal berjas putih dandan parlente.
Maka, di film yang mensinetron ini jangan harap mendaki gunung yang termasuk hobby dan juga profesi bagi sebagian orang akan diperlihatkan dengan benar.  Padahal sebagai topik utama yang banyak dielu-elukan oleh penggemarnya dan media, setidaknya, harusnya jangan mencontohkan hal yang salah juga kali ye!!!


Mengenai Nasionalisme:
Nasionalisme di film 5 cm, lagi-lagi merupakan hal yang muncul mendadak tanpa nyambung. Tiba-tiba mereka bangga dengan Indonesia setelah menjalani pendakian ini, dengan berbagai macam deklarasi kegombalan dan kebanggan. Padahal topik nasionalisme belum pernah muncul sebelumnya. Gampang sekali ya mencintai Indonesia ketika berada di tengah keindahan alam. Jadi selama ini waktu tinggal di Jakarta, isi bensin pake Pertamax, makan mi instan berMSG, enak2 di rumah orang tua tidak ada yang merasakan nasionalisme?

Jadi apa sebetulnya pencapaian dari film ini?  membangkitkan nasionalisme dengan sekedar meneriak2kan cinta Indonesia? Tidak jelas bagaimana sebetulnya kadar nasionalisme mereka dalam aplikasi kehidupannya, sebelum dan sesudah naik gunung, apa ada yang penting?
Tentang persahabatan dan cinta? banyak film lain yang menampilkannya dengan lebih baik.
Mempromosikan gunung Semeru? percaya lah sebelum ada film ini, sebelum ada bukunya, gunung itu sudah populer dan ramai. Memotivasi penonton, terutama para pemuda untuk naik gunung di Indonesia? Atau justru membodohi mereka dengan menampilkan kesannya naik gunung itu gampang dan enteng? Tentang mengejar mimpi? mimpi apa buat apa sih?

Pencapaiaannya untuk sekedar memberi variasi pemandangan di layar selain suasana standard persinetronan ya boleh lah. Atau mungkin memang berhasil mereka memberi harapan buat yang memang sudah ingin mencapai puncak Mahameru, dan memberi ide buat yang tadinya tidak berniat, atau mungkin nostalgia untuk yang sudah pernah. Memberi harapan buat yang sedang berfriendzone juga. Selebihnya tidak ada yang penting bisa didapat dari film ini.


Buat yang belum tau arti 5 cm, bagi saya itulah jarak minimal dari kening saya yang diperlukan untuk JIDAT PALM!




Nah kayaknya gue udah banyak nyela film 5 cm nih, Siapa yang mau ribut ama gue?

PS: Annoying details will be released with  Full spoiler alert in the next posting. Maybe.




Tuesday, December 18, 2012

Dan Kembali

(Catatan sebelumnya: Ke Sana Lagi)

Perjalanan ke puncak saya tempuh selama 4, 5 jam. Tidak terlalu jelek karena tidak jauh dari perkiraan sesuai kemampuan. Tadinya Ojo memperkirakan perjalanan 3 jam, berdasarkan pengalaman dia taun 2005 dan merencanakan berangkat jam 2 pagi untuk mulai summit attack. Tapi saya minta berangkat lebih cepat karena 11 tahun yang lalu saja kami berangkat jam 1, dan berjalan sekitar 4 jam lebih, ketemu matahari terbitnya sebelum sampai puncak. Kali ini tidak jauh berbeda ternyata. Padahal kondisi fisik jauh lebih tidak terlatih. Mungkin waktu itu perjalanan cukup ramai sehingga banyak mengantri sementara kali ini rute ke puncak lega, tapi melangkahnya yang lebih santai (bukan santai ding, cuma lambat aja heheh). Matahari sudah terbit sekitar jam 04.40.

Di tengah2 perjalanan, kami disusul oleh Tobi dan porternya yang berangkat dari Kali Mati juga jam 1 pagi, Tak berapa lama kemudian disusul Ludwig.  Duh..

Sekitar jam 05.30 kami sampai di puncak yang belum terlalu ramai. Melirik ke batas vegetasi, masih terlihat ramai kelip2 senter dari rombongan yang 40 orang.

Istirahat, poto-poto, minum, makan buah dan buah kalengan, tak lupa berbagi dengan tim Tobi.

Ternyata rombongan yang 40 orang sebagian besar batal meneruskan ke puncak. Mungkin karena terlalu banyak orang bergerak serentak jadi pergerakan mereka lambat. Sebagian yang sebetulnya masih sanggup,  bersikap solider untuk ikut tidak meneruskan sementara sebagian lagi masih meneruskan. Karena itulah, suasana di puncak cukup nyaman, padahal sudah khawatir bakal ramai seperti pasar .



Setelah berbagi jeruk, berbagi id facebook.

Jam setengah 8 kami sudah bersiap2 turun, dan sampai di Arcopodo sudah agak siang. Tidak sempat makan pagi bikin mood tidak bagus, saya sempet buat acara pundung. Ya maklum lah mungkin karena sudah berumur. 
Kami sampai di Kali Mati sekitar jam 13 untuk masak dan makan siang.
Sekitar jam 14, 30 perjalanan dilanjutkan, sampai di Cemoro Kandang jam 15.30 dan Ranu Kumbolo sekitar jam 16.20.

Rombongan 40 orang terlihat pasang pose ngecamp  lagi di Kali Mati, sehingga Ranu Kumbolo sepi, hanya ada 3-4 tenda. Nikmatnyaaa!!

Malam itu kami tidur cukup pulas,
Pagi tanggal 26 sep kami melembam sampai siang baru bergerak lagi sekitar 13:45. Ranu Kumbolo sudah kosong mungkin hanya tinggal satu tenda.

Sampai di Ranu Pani pas magrib. Agak meragukan apakah bermalam di sana lagi, tapi rasanya ingin lebih cepat kembai ke kota, karena Ranu Pani itu nanggung. Untung kami bertemu dengan dua orang yang akan turun juga sehingga bisa menyewa jip turun bertujuh
Dua orang itu dari surabaya, papasan dengan kami kemarinnya saat kami kembali antara Jambangan dan Cemoro kandang, mereka ke arah kalimati untuk lanjut ke puncak dan  hari itu mereka sudah sampai di Ranu Pani bahkan lebih cepat daripada kami. WOW banget.

Malam itu kami tidur di rumah pemilik jip, esok paginya berangkat ke Malang, nongkrong dan sorenya kembali ke bandung dengan kereta Malabar.


Keseluruhan dari perjalanan ini sangat menyenangkan, suatu penyegaran yang sangat bermanfaat. Tidak ada insiden yang berbahaya dan mengkhawatirkan. Sejak hari pertama (atau kedua) di gunung Ojo ada sedikit masalah dengan kakinya, ada yang kepelitek atau uratnya ketarik tapi tetap bisa berjalan dengan kecepatan konsisten, dengan bantuan salep Voltaren.

Walaupun tidak dipungkiri secara fisik pasti melelahkan dan secara mental kami selalu saling "mendemotivasi", perjalanan kami lakukan dengan santai. Santai, tapi semua jadwal yang direncanakan terpenuhi, seperti bagaimana kami menghindari jalan malam kecuali waktu summit attack. Kami bisa sampai pada jam yang pas di tiap lokasi ngecamp. Tidak cepat ala tim atlit, tapi juga tidak lambat ala tim mehek.

Selama di gunung, Alhamdulillah kami bisa makanan enak terus yang cukup mendukung mood, dengan berbagai variasi lauk, sambel dan sayuran, nasi juga tidak pernah gagal dimasak. Selain itu, pembicaraan2 juga cukup bermutu dan banyak tertawa.

Yang sangat menyedihkan adalah betapa banyaknya sampah di gunung ini (yang ingin saya tuangkan ke satu tulisan khusus, lain kali mungkin)


Thursday, October 25, 2012

Ke sana lagi

Mungkin betul kata Ojo sewaktu kami nongkrong2 di puncak gunung kemarin itu.
"Dengan begini gw tau Mal, gw ga akan naik gunung yang sama dua kali" 
Tentu maksudnya adalah gunung-gunung yang besar/ tinggi/ populer, sementara gunung-gunung kecil sekitar bandung sudah puluhan kali dia naik-turun, dan gunung-gunung besar sudah ada belasan mungkin yang dia daki..
Logikanya buat saya, untuk suatu usaha mengeluarkan tenaga, waktu dan uang yang begitu besar, mending kita mendatangi tempat-tempat baru daripada ke tempat yang sama..

'Emang kenapa Jo?"
"Pas nyampe di puncak gini, udah nggak WOW lagi"

Tapi bagi saya sih suatu perjalanan itu "jodoh2an" juga, kalau jalan nasib mengarahkan ke situ-situ lagi,  ya ikuti saja. Kesempatan ke Semeru lagi setelah 11 tahun ini datang lagi karena ada si Dwi yang lagi niat banget ke sana dan saya yang lagi pengen banget liburan ke manapun. Jadilah kami memaksa tiga orang lagi buat jadi peserta, yaitu si Ojo, Mahfud dan Gilang. Di antara kami berlima, cuma Dwi dan Gilang yang belum pernah ke Semeru.

Inti dari perjalanan ini buat saya adalah:
Ngapdet poto dan ngetes pisik.

Di setasion Bandung.

Ini pertama kali saya membuat cerita perjalanan di blog sambalado, yang biasanya diisi sekitaran tulisan omel2an , madu2, resep pencok leunca, dan review film. Bagus juga ya karena acara jalan-jalan ini  jadi terdokumentasikan dengan lebih baik.

Baiklah, berikut mungkin jurnal singkat perjalanan kami. Mungkin ini bagian pertama karena ceritanya akan dilanjutkan di postingan selanjutnya, atau mungkin dilanjutkannya di posting ini lagi, atau mungkin tidak akan dilanjutkan atau entah kapan baru dilanjutkan.


H0 :
Jumat, 21 September 2012 

Hari keberangkatan, kami menggunakan kereta Malabar express dari Bandung jam 15.30.  Makan malam dari bekal nasi bungkus buatan ibunya Dwi.

H1 : Sabtu, 22 September 2012 

Sampai di Malang jam 7 pagi. Sarapan rawon di warung dekat stasiun. Saya sempet naik becak mencari RS Saiful Anwar demi berfoto dengan patungnya.
Sekitar jam 9 kurang, kami mencarter angkot ke tumpang, dengan harga Rp. 10.000 per orang. Sampai di Tumpangjam 9.30  sempat belanja sayuran di pasar dan makanan instan di mini market. 

Packing di mini market sesuatu, Tumpang

Sementara menunggu teman yang belanja, ada yang mengajak bareng mencarter truk ke atas. Mereka menunggu kami beres belanja dan packing, lalu dengan harga 30 ribu per orang kami ber-10 berangkat jam (10.50an). Jalan ke atas cukup lancar, jalannya bagus dan sudah dilebarkan tidak seekstrim yang dulu saya ingat.

Di Truk

Sampai di Ranu Pani sekitar jam 12.20 lapor dan mendaftar ke pos pemberangkatan. Berkas yang harus disetor adalah fotocopy KTP dan surat sehat. Ada biaya administrasi dll, juga biaya untuk setiap kamera yang dibawa.  Lupa saya tepatnya berapa tapi kalau tidak salah kami berlima hanya ditagih 35 ribu, karena dapat diskon.  
Barak pendakian (pondok pendaki, entah apa namanya) kosong melompong jadi kami gelar dan golerkan barang-barang di dipan yang tersedia. Di Ranu Pani ada dua warung tapi yang satu tutup, dan satu lapak bakso malang. Ada juga masjid dan kamar mandi yang cukup bersih. Makan siang dengan Rawon lagi, karena hanya itu yang sudah siap.

 Lapak di Pondok Ranu Pani

Sore itu muncul dua orang pria bule yang cukup mencolok, karena ada kejadian lucu waktusalah satu sempat kejatuhan matras dari ranselnya, entah karena salah cantel.

Menjelang magrib semua warung sudah tutup maka kami memutuskan memasak. Menu malam adalah nasi putih dan tumis tempe kecap teri.

Malam tidur di barak, suhu cukup terasa dingin walaupun sudah berbalut sleeping bag. Kostum penghangat tidur memang baru setengah set yang saya pakai. Versi lengkap akan dikeluarkan di Ranu Kumbolo yang dicurigai bakalan lebih dingin

H2 Minggu, 23 September 2012.

Pagi kami bangun sekitar jam 5 dan di luar sudah terang. Menu pagi nasi liwet dan goreng asin. Setelah packing kami sempatkan menambah bekal gula dan minyak goreng karena khawatrir bawaan kami kurang setelah dua kali masak yang ternyata cukup menghabiskan minyak.
Rencana berangkat jam 7 pagi jadi molor karena pergerakan yang santai. Sekitar jam 8 baru benar-benar siap berangkat. 

Pose di Depan pondok pendaki Ranu Pani

Selamat Datang

Perjalanan awal terasa cukup berat karena panas dan belum terbiasa dengan beban. Sebagaimana yang tercantum pada plang-plang informasi, Ranu Kumbolo dan Ranu Pani hanya berbeda elevasi 200 m, tapi siap-siap saja untuk  perjalanan yang cukup jauh dan banyak naik-turun karena melalui jalur yang mengelilingi gunung-gunung kecil. Baru awal perjalanan kami sudah disalip oleh si dua bule dan dua porternya. Jam 08.53 sampai di plang Landengan Dowo, perjalanan dilanjutkan, melewati sebuah shelter yang katanya adalah pos I. Menurut info dari orang yang kami temui di pos II, antara Ranu pani dan Ranu Kumbolo sekarang telah dibangun empat pos, berupa shelter dengan tembok rendah beratap seng.

Pos 2, istirahat ngemil coklat  sekitar jam 11


Kami tidak menjadwalkan setiap jalan berapa menit istirahat berapa menit. Secapeknya saja, rata-rata mungkin setiap setengah jam, istirahat sekitar 5 menit atau lebih. Kadang bisa lebih sering istirahatnya. Maklum, bukan atlit. Selama perjalanan, kami salip-salipan dengan sebagian tim dari satu rombongan yang terdiri dari 40 orang, kabarnya mereka dari Jakarta dan sebagian dari mereka cukup rajin juga beristirahat.
Jam 11.45 sampai di plang Watu Rejeng.

Sekitar jam 13.00 kami istirahat makan siang di pos III yang bangunannya runtuh sehingga harus mencari lapak di dekatnya. Cukup sulit karena  posisi pos di lereng menjelang jalur tanjakan yang cukup ektsrim. Lapak yang ada sangat sempit sementara rombongan yang 40 orang sebagian juga beristirahat di sana. Tapi kami tetap bisa mengatur untuk masak. Menu makan siang: mi telor diaduk telor dan kornet. Menu ini dipilih karena lebih cepat daripada masak nasi. 
Sepanjang jalan banyak burung yang cantik, terbang bebas dari ranting ke ranting. Kalau sedang berada di jalur yang cukup sepi, burung penunjuk jalan muncul dan berjalan di depan kami, dengan jarak yang cukup dekat. Tapi Saya selalu telat mengeluarkan kamera. Kami juga berpapasan dengan cukup banyak rombongan yang ke arah Ranu Pani. Diantaranya banyak juga orang asing, bahkan ada yang membawa anjing.

 
Setelah Pos 4

Jam 16.00 kami sudah sampai di Ranu Kumbolo. si dua bule yang terlihat di Ranu pani sedang bersantai memandangi danau sambil minum coca cola, tenda mereka sudah terpasang. Sebagian rombongan yang 40 orang juga sudah memasang beberapa tenda.
Dwi  mendengar si dua bule mengobrol berbahasa Jerman. Setelah didorong2 atau tepatnya dipaksa, Dwi menyapa mereka dengan bahasa jerman. Tak lama setelah itu salah satu menghampiri Ui, berbicara yang diterjemahkan menjadi: "Kenapa banyak orang lokal buang sampah di sini? padahal  danau seindah ini?"

Euhh... malu deh. Kenapa coba? Sejak adanya pertanyaan ini, saya jadi berpikir banyak. yang akan dilanjutkan di blog post selanjutnya. Mungkin....

Makan malam kami memasak nasi dan goreng ikan asin serta sayur sawi lagi tapi dibuat agak berkuah dan sedikit pedas agar terasa hangat walaupun agak mengancam kondisi perut.

H3 Senin, 24 September 2012.

Bangun sekitar jam 5 pagi, matahari sudah cukup terang. Kami memasak dan sarapan bubur kacang hijau, dilanjut nasi goreng cikur dengan lauk dendeng manis goreng.
Dwi menawarkan kopi dan bubur kacang ke dua bule tadi dan kami pun berkenalan, mereka bernama Tobi dan Ludwig. Tobi adalah konsultan IT  dan Ludwig adalah Konsultan Pajak (atau ketuker ya?). Sempat juga mereka ditawarkan nasgornya. Tapi sepertinya tidak tahan pedas dan bumbunya.

Masak nasgorcikur, Tobi ikut nongkrong. Ludwig belum gabung

Pukul 9 kami Berangkat dari Ranu Kumbolo. Tobi dan Ludwig sudah mendahului, rombongan yang 40 orang mulai berangkat juga di belakang kami, tapi selanjutnya kembali susul-susulan dengan sebagian dari mereka. Jam 9.45 istirahat di Cemoro Kandang.

Oro-Oro Ombo



 Lewat Cemoro Kandang

Sebelum makan siang


Jam 12.10 kami makan siang di sekitar Jambangan.  Menunya spaghetti bersayur bertomat. Jam 14.30 masuk area Kalimati, Tobi dan Ludwig sudah pasang tenda di situ dan ada juga beberapa tenda lain termasuk rombongan 40 orang. Rute sampai Kali Mati relatif landai tapi naik turun jadi cukup melelahkan juga. Tidak banyak progres secara elevasi antara Ranu Kumbolo ke Kali Mati. Hanya naik sekitar 300 m.

Kami lanjut ke arah Arcopodo. Sempat istirahat agak lama di kaki tanjakan. Mulai dari sini baru tanjakan semakin ekstrim, dan jalannya berlapis abu. Jam 16.10 sampai arcopodo, ketinggian 2999 mdpl. 

Sepertinya hanya kami yang akan bermalam di arcopodo. Maka dilaksanakanlah rutinitas biasa untuk ngecamp, plus persiapan camilan malam dan bekal untuk summit attack. Jam 8 malam kami mulai tidur. 

H4 Selasa, 25 September 2012.

Jam 00.00 weker berbunyi. Setelah saling membangunkan, jam 00.15 kami mulai bersiap. Makan roti, minum yang hangat packing perbekalan air, snack, dan buah2an baik yang segar maupun kalengan dan kotakan. Sudah terdengar rombongan-rombongan lain yang naik dari Kalimati. Jam 01..00 lewat sedikit, kami mulai berjalan ke atas.

Lanjutan ceritanya di sini